| 4 Views
Wibawa Guru Direndahkan, Sistem Pendidikan Perlu Perbaikan
kolase Tribun Jabar
Oleh : Diana Nofalia, S.P.
Pendidik dan Pemerhati Masalah Remaja
Tak dapat dipungkiri bahwa generasi saat ini mengalami degradasi moral yang sangat memprihatinkan. Guru yang selayaknya dihormati malah menjadi sasaran perilaku yang jauh dari kata berbudi pekerti. Bahkan itu dianggap candaan padahal sejatinya penghinaan.
Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.
Informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Aksi para siswa tersebut menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika dan penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah.
Sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari. Namun, Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif & berdampak langsung pada perubahan perilaku. (https://www.detik.com/jabar/berita/d-8449993/viral-siswa-acungkan-jari-tengah-dan-lecehkan-guru-di-purwakarta?page=2)
Kasus pelecehan guru di Purwakarta adalah dari sekian kasus pelecehan terhadap guru di negeri ini. Tentunya hal ini harusnya menjadi perhatian yang serius oleh pihak yang terkait yang bertanggungjawab penuh terhadap sistem pendidikan negeri ini. Banyaknya kasus yang senada membuktikan bahwa adanya krisis moral di tengah-tengah generasi saat ini. Dan tak dapat dipungkiri bahwa ini adalah buah dari sistem pendidikan Sekularisme-Kapitalisme yang mengabaikan adab kepada guru.
Viralitas ataupun demi konten seringkali menjadi alasan generasi melakukan segala hal yang tidak wajar dan pantas untuk dilakukan. Pengakuan di media sosial menjadi hal penting bagi generasi yang harus validasi, walaupun tindakan tersebut mencerminkan kemunduran etika yang tidak pantas untuk dipertontonkan.
Kejadian ini membuktikan bahwa wibawa guru sangat lemah. Tentunya hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan besar bagi kita semua, mengapa siswa merasa "berani" melakukan hal tersebut? Apakah karena sanksi sekolah selama ini terlalu lembek atau guru tdk berdaya pada siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegurnya?
Disisi lain pemerintah sering menggaungkan "Profil Pelajar Pancasila", kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut baru sebatas formalitas administratif di atas kertas. Kenyataannya tak meninggalkan bekas. Output generasi yang dihasilkan masih jauh dari kata memiliki moralitas.
Berbeda dengan sistem pendidikan Sekularisme-Kapitalisme, sistem pendidikan Islam memiliki kurikulum yang dibangun berlandaskan akidah Islam. Ini bertujuan mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat.
Selain kurikulum pendidikan berlandaskan aqidah Islam, negara juga berperan penuh dalam mengontrol dan menyaring konten digital yang merusak moral. Tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan harus diberikan sanksi yang tegas.
Penerapan sistem sanksi ini berfungsi sebagai Penebus (Jawabir) dosa bagi pelaku dan Pencegah (Zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini harus memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat.
Dalam Islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara. Dengan begitu wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat. Dengan mekanisme sistem seperti ini maka kasus-kasus pelecehan terhadap guru dapat diatasi. Alhasil dengan perbaikan sistem dari sistem pendidikan Sekularisme-Kapitalisme kepada sistem Islam adalah solusi nyata demi terwujudnya generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.
Wallahu a'lam.