| 7 Views

Kurikulum Berbasis Cinta: Menata Hati atau Mengaburkan Jati Diri?

Oleh: Fahna Al-Hafidzah

Di tengah maraknya fenomena bullying, kekerasan, dan menurunnya kualitas akhlak peserta didik dalam dunia pendidikan, Kemenag telah meluncurkan pendekatan baru yang tak biasa melalui program Kurikulum Berbasis Cinta. Program ini digadang menjadi jawaban atas kekeringan batin dalam sistem pendidikan modern. Menteri Agama menegaskan, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual semata, tetapi juga harus menyentuh dimensi emosional dan spiritual peserta didik.

Fakta di lapangan menunjukkan krisisnya empati di kalangan siswa. Banyak siswa yang tertekan, juga kehilangan semangat belajar. Kurikulum Berbasis Cinta ini hadir untuk menawarkan pendekatan yang menyentuh akar permasalahan, menanamkan nilai kasih sayang dan penghargaan terhadap perbedaan. Sebagai bagian dari implementasi, Kemenag meluncurkan program belajar mandiri Kurikulum Berbasis Cinta yang ditujukan bagi guru dan penyuluh agama. Kepala Badan Moderasi Beragama dan PSDM menjelaskan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik sekaligus memperkuat kepribadian tenaga pendidik.

Dari fakta di atas, kita seharusnya sadar bahwa bullying memang produk sampingan dari sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Selama landasan pendidikan bukan akidah Islam murni dan benar, kurikulum tambahan seperti KBC hanyalah solusi tambal sulam yang bersifat permukaan saja. Bukankah sudah kita ketahui bersama, berkali-kali kurikulum sekolah diganti, tetapi tidak ada hasil upaya untuk mengubah generasi menjadi lebih cerdas, tangguh, dan kuat pendirian agamanya.

Kurikulum baru sering kali hanya menjadi beban administratif bagi guru atau slogan di buku teks, tetapi tidak mengubah budaya pergaulan siswa yang sudah terpengaruh nilai-nilai liberal dari media sosial di lingkungan. KBC malah justru menjadi sarana untuk mengarusutamakan moderasi beragama dan pluralisme. Karena konsep cinta yang diusung seolah menganggap semua agama benar. Hal ini justru melemahkan jati diri dan akidah siswa Muslim.

Seharusnya, penambahan kurikulum yang ada bukan hanya untuk menambah materi cinta, tetapi mengembalikan pendidikan sebagai sarana yang melahirkan hamba Allah yang tangguh dan berkepribadian Islam. Untuk apa berkali-kali diganti jika tidak mendorong generasi untuk taat kepada Allah? Karena kesalahan kejahatan seperti bullying tentu akan terus terjadi jika generasi tidak paham akhlak tercela dan terpuji. Di sisi lain, masalah bullying hanya bisa terselesaikan jika negara juga bertindak menjadi perisai, misalnya dengan menutup pintu masuk tayangan atau konten liberal yang memicu kekerasan. Karena jika tanpa peran negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh, sekolah akan terus berjuang sendirian melawan arus peradaban yang rusak.

Tampaknya, hari ini negara kurang peduli dengan akhlak generasi. Sekolah tiap hari, bahkan hingga jenjang tinggi, tidak menjamin generasi memiliki akhlak terpuji. Wajar jika hal ini terjadi karena memang bukan pembekalan akidah yang mereka dapatkan saat belajar. Selama sistem liberal yang diterapkan, kenakalan generasi pasti akan terus menjadi-jadi. Karena memang hanya sistem Islamlah yang mampu mencetak generasi Muslim dan melindungi generasi dari pergaulan bebas yang tidak diinginkan.

Wallahu a'lam bishawab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment