| 8 Views
Joki UTBK Masih Terulang, Bagaimana Islam Menyelesaikan?
Oleh: Aisha Elmahiroh
Joki UTBK (Ujian Tes Berbasis Komputer) kembali marak dalam media sosial. Sebuah kasus terungkap di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada hari pertama UTBK (21/04/2026), di mana seorang terduga pelaku joki diamankan. Pelaku diketahui menggunakan KTP dan ijazah palsu. (Kompas.com, 24/04/2026)
Perjokian dilakukan untuk meloloskan mahasiswa program studi kedokteran. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipul Hayat, menegaskan akan mendiskualifikasi peserta UTBK yang menyewa joki sekaligus akan memasukkan peserta tersebut ke dalam daftar hitam PTN seluruh Indonesia hingga seumur hidup.
Hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dilakukan tim supervisi Unesa, Martadi, mengungkapkan bahwa pelaku joki berusia 23–24 tahun dengan inisial H. Ia mengaku melakukan hal tersebut karena faktor ekonomi. Pihak kampus menyerahkan pelaku kepada Polrestabes Surabaya dan masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut. (Kompas.com, 22/04/2026)
Menurut pengamat pendidikan, Totok Amin Soefijanto, terjadinya praktik joki UTBK bersangkut paut dengan budaya dan pola pikir masyarakat. Selain itu, Totok menjelaskan bahwa peran orang tua pun berpengaruh. Sebagian orang tua menganggap bahwa PTN (Perguruan Tinggi Negeri) merupakan yang terbaik hingga memicu tekanan dari orang tua. Padahal, ungkap Totok, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kampus, tetapi bidang studi dan potensi mahasiswa juga berpengaruh. (Kompas.com, 24/04/2026)
Perkara ini juga tidak lepas dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang diterapkan dalam negeri ini. Menyoroti para penyewa joki, latar belakang mereka tidak lain ingin lolos dengan instan tanpa berusaha secara serius.
Apalagi dalam kasus ini, penyewa joki merupakan calon mahasiswa program studi kedokteran yang sangat ketat persaingannya. Sementara itu, jumlah lulusan SMA/SMK yang berminat dengan kedokteran lebih banyak daripada kapasitas PTN hingga melakukan segala cara untuk lolos seleksi. Dari sini menunjukkan rendahnya integritas sejak awal seleksi, maka kemampuannya patut dipertanyakan. Inilah generasi hasil pendidikan sekuler yang wajib diperbaiki.
Di sisi lain, banyak orang yang terbatas secara ekonomi menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar secara singkat. Jika sesuatu menghasilkan manfaat, dia akan melakukannya tanpa peduli halal atau haram. Pemikiran seperti ini merupakan buah dari ide sistem sekuler kapitalistik.
Dengan sistem ini, kasus joki UTBK akan terus berulang. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan sekuler gagal menghasilkan lulusan yang berkualitas. Lalu, bagaimana cara agar kasus ini dapat berhenti secara total?
Hanya satu cara untuk memberantas kasus joki ini, yakni dengan sistem Islam di bawah naungan daulah Islam. Dengan asas akidah, sistem ini akan menghasilkan individu sempurna yang cerdas sekaligus bertakwa.
Kecurangan demi kesuksesan tidak akan terjadi karena pendidikan Islam akan membentuk generasi berkepribadian Islam yang menstandarkan perbuatannya dengan halal dan haram, juga ahli dalam bidangnya. Jika ada kecurangan, pelaku akan diberi sanksi tegas dan menjerakan yang jenisnya ditentukan oleh kadi.
Negara pun turut mendukung pendidikan rakyat dengan menyediakan perguruan tinggi yang cukup untuk rakyat. Bahkan, semua kampus, negeri maupun swasta, ditanggung oleh baitulmal, termasuk jika ada individu yang memberi wakaf atau sedekah. Dengan sistem Islam, pendidikan akan terjamin, kecurangan akan terberantas, dan generasi cemerlang akan lahir.
Wallahu a'lam bi ash-shawab.