| 337 Views

Wabah Fatherless Kian Marak, Potret Buram Keluarga Dalam Sistem Kapitalis

Oleh: Sri Runingsih

Aktivis Dakwah 

Fenomena fatherless yang banyak di alami anak kian marak dan populer saat ini. Ketiadaan peran ayah yang dirasakan anak memiliki dampak besar khususnya dalam perkembangan mental anak, hal ini juga menggambarkan betapa bobroknya struktur keluarga khususnya di Indonesia.

Terdapat data yang menakjubkan yang di publikasikan oleh Kompas pada 8 Oktober 2025 bahwa seperlima anak Indonesia, atau 20,1% (15,9 juta anak) mengalami fatherless yang tumbuh tanpa peran seorang ayah.

Bukan hanya merupakan angka yang statistik, Ketiadaan figur ayah tidak selalu berarti fisik ayahnya tidak ada, hal ini justru mencerminkan persoalan mendalam dalam struktur keluarga dan budaya kerja Indonesia bahwa peran ayah bukan sebagai pendidik dan teladan utama bagi anak, melainkan hanyalah sosok pencari nafkah semata. (Tagar.co)

Berdasarkan hasil survei kualitatif pada 16 psikolog klinis dari 16 kota di Indonesia, menyatakan bahwa dampak fatherless yang terjadi pada anak adalah rasa minder serta emosional/mental yang labil. Ini disebutkan oleh 9 psikolog, sedangkan 7 psikolog mengatakan kenakalan remaja. Selain itu, 5 psikolog menjawab sulitnya dalam berinteraksi sosial dan dampak berikutnya dikatakan dari 4 psikolog menjawab terdapat motivasi akademik rendah pada anak. (Kompas.id)

Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya kasus fatherless ini, bukan hanya sosok ayah yang mungkin sudah tiada lagi didunia, korban perceraian juga merupakan faktor utamanya sehingga anak sama sekali tidak tersentuh oleh peran seorang ayah. Bukan hanya itu, bahkan fakta terbesarnya bahwa fatherless bisa saja terjadi sekalipun terdapat sosok ayah bersamanya.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Tak dapat dipungkiri, dalam sistem kapitalis saat ini peran seorang ayah tidak lain hanya bekerja dan mencari nafkah. Sulitnya dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang semua serba mahal menjadikan pemikiran seorang ayah hanya berpacu pada bagaimana caranya agar segala kebutuhan keluarga dapat terpenuhi, tanpa lagi memikirkan bahwa ia juga harus membersamai dan menjadi tauladan yang baik untuk anaknya.

Dalam hal ini, tidak heran jika tanggung jawab seorang ayah hanya diukur dari kemampuannya dalam menafkahi (materi) untuk keluarganya saja, sedangkan dalam hal kepengurusan anak sepenuhnya diserahkan kepada ibunya. Bahkan tidak sedikit anak yang jarang sekali bertegur sapa atau hanya sekedar mengobrol dengan ayahnya sekalipun mereka tinggal satu atap.

Terporsirnya waktu kerja bisa juga menjadikan hilangnya peran ayah pada diri sang anak, sehingga seringkali ayah pulang sampai larut malam sedangkan anaknya sudah tertidur pulas.

Dalam kasus ini, peran pemerintah seharusnya mengambil langkah bijak untuk menyikapi dan memberi solusi terkait fatherless yang kian marak, karena dampaknya sangat berpengaruh buruk terhadap anak-anak bangsa, padahal anak-anak bangsa lah yang nantinya meneruskan sebagai pemimpin masa depan.

Islam solusi tuntas:

Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin akan memberi solusi atas berbagai macam persoalan yang terjadi pada umat, termasuk pula fatherless yang saat ini kian memburu anak bangsa. Walaupun pada dasarnya tidak pernah ada istilah fatherless bila saja segala aturan Allah dijadikan landasan sebagai hukum yang diterapkan bukan hanya per' individu melainkan menjadi aturan negara yang harus dipatuhi oleh seluruh rakyatnya.

Perlu dipahami bahwa segala motif yang berdampak pada kasus fatherless dapat dihindari oleh Islam. Yakni dari mulai menentukan pasangan hidup untuk menikah. Islam telah mempunyai standart kriteria dan sebaik-baik dari kesemuanya adalah iman, sehingga jarang sekali perceraian terjadi dalam sistem Islam hanya karena persoalan sepele, artinya tidak ada anak yang mengalami fatherless akibat korban perceraian.

Begitu pula dengan anak yang ayahnya sudah menghadap sang khalik (meninggal). Sistem perwalian dalam Islam tidak menjadikan anak tersebut merasakan kehilangan figur seorang ayah.

Negara Islam juga menjamin kehidupan yang sejahtera kepada calon pemimpin masa depan yakni anak-anak bangsa.
Keseimbangan antara ketaatan kepada Allah serta melaksanakan tugas sebagai pencari rejeki tentunya tidak membuat orang tua (ayah) mengalami kesulitan antara menyeimbangkan keduanya. Karena Negara Islam mempermudah seseorang untuk bekerja tanpa terposir oleh waktu dan tidak terbebani dengan hal-hal lainnya.

Dengan demikian peran ayah semakin tertata antara pemberi nafkah maupun sebagai teladan terutama dalam hal pendidikan untuk anaknya. Tentu saja hal yang paling utama dalam penerapan ibadah serta ketaatan kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam QS. Luqman:13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."

Dengan demikian jelas sudah bahwa Islam adalah solusi utama khususnya dalam menangani kasus fatherless ini, Negara yang menyeru dalam menerapkan aturan Allah dan mepermudah segala kebutuhan telah berhasil menjadikan umatnya menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Wallahu'alam bisshawab


Share this article via

65 Shares

0 Comment