| 15 Views

Bonus Demografi atau Bom Waktu? Tanpa Khilafah, Potensi Pemuda Akan jadi Derita Sistemik

Oleh: Eulis Martini

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Indonesia terus dibanggakan sebagai negeri dengan bonus demografi. Kata data Sensus Penduduk 2020 mencatat Generasi Z sebesar 27,94% dan Milenial 25,87%. Jumlah ini dipuji sebagai peluang emas. Namun pujian itu menipu jika tidak disertai satu kenyataan pahit dengan pertanyaan, bisakah potensi besar ini menjadi hebat di bawah sistem yang rusak?

Dalam kajian tematik di Masjid Cinere Insani Residen, Rabu (10/12/2025), Ustadzah Zulfa, S.Pd menegaskan, pemuda usia 16–30 tahun sesuai UU No. 40 Tahun 2009, memiliki modal luar biasa, literasi digital tinggi, adaptif, kritis, kreatif, dan inovatif. Namun potensi ini hari ini justru terancam hancur, bukan karena kurangnya bakat, melainkan karena sistem yang salah urus dan negara yang salah arah.

Generasi Z tumbuh bukan hanya berdampingan dengan teknologi, tetapi diasuh oleh media sosial. Di titik inilah seharusnya negara hadir sebagai pelindung. Namun negara sekuler memilih mundur, menyerahkan pembentukan generasi kepada pasar, algoritma, dan kepentingan industri digital. Akibatnya, lahirlah apa yang disebut “generasi strawberry” rapuh, mudah menyerah, dan tidak tahan tekanan hidup.

Ini bukan sekadar masalah individu, keluarga, atau moral personal. Ini adalah derita yang sistemik. Negara membiarkan pornografi, judi online, pinjol ilegal, dan gaya hidup liberal beredar bebas di ruang digital. Negara gagal mengatur teknologi dengan nilai, karena sejak awal agama disingkirkan dari pengaturan kehidupan.

Lebih menyedihkan lagi, kerusakan mental generasi dinormalisasi. Gangguan mental dipoles dengan istilah healing. Ketergantungan validasi dianggap wajar. Scrolling tanpa henti dijadikan budaya. Negara bukan bertindak sebagai ra’in (pengurus), melainkan sebagai penjaja pasar. Selama ekonomi digital tumbuh, generasi boleh runtuh.

Buah Pahit Sistem Sekuler
Dalam sistem ini, pemuda hanya dilihat sebagai tenaga kerja, konsumen, dan angka statistik. Mereka tidak dipandang sebagai amanah peradaban yang harus dijaga iman, akal, dan kepribadiannya. Wajar jika lahir generasi instan, ingin cepat tanpa proses, sukses tanpa perjuangan, nyaman tanpa jerih payah. Dari sinilah muncul generasi rebahan. Lemah fisik, rapuh mental, dan kehilangan tujuan hidup. Benarkah? Masak, segini umat hanya berada di level berpikir ini wajar saja, sudah zamannya modern? Tidakkah berpikir ini penjajahan?

Lalu mengapa Khilafah ditinggalkan, padahal di sanalah kuncinya? Karena Khilafah berdiri di atas akidah Islam sebagai dasar pengaturan seluruh kehidupan. Dalam sistem Khilafah, negara bukan penonton, melainkan ra’in yang bertanggung jawab penuh atas pembinaan generasi. Teknologi tidak dibiarkan bebas nilai, tetapi diatur agar menjaga iman, akhlak, dan kesehatan mental umat. Konten yang merusak akidah dan moral dicegah dari hulu, bukan ditangisi di hilir.

Pendidikan dalam Khilafah tidak netral dan tidak sekuler. Ia dibangun di atas akidah Islam, sehingga melahirkan pemuda yang: kuat iman dan jernih pikirannya, kritis namun terikat hukum syara, tangguh mental karena hidupnya punya tujuan jelas yaitu ibadah dan kemuliaan umat.

Sistem ekonomi Islam dalam Khilafah pun menjamin kebutuhan dasar rakyat, sehingga pemuda tidak hidup dalam kecemasan kronis, persaingan brutal, dan ketakutan masa depan. Dari sinilah lahir generasi tahan banting, bukan generasi strawberry.

Selama Khilafah ditinggalkan, maka derita generasi akan terus beranak-pinak. Seminar, literasi digital, dan kampanye kesehatan mental tidak akan menyentuh akar masalah selama sistem sekuler tetap dipertahankan. Bonus demografi pun hanya menjadi ilusi statistik, indah di angka, pahit di realita.

Sudah saatnya umat berhenti tidur. Yang gagal bukan pemudanya, tetapi sistem yang mengatur mereka. Dan selama Khilafah tidak ditegakkan sebagai sistem pengurusan umat, gurita derita yang sistemik ini tidak akan pernah berakhir. Percaya? Mari tingkatkan taraf berpikir kita sampai tingkat cemerlang untuk perubahan yang sistemik.


Share this article via

2 Shares

0 Comment