| 24 Views
Urgensi Jamaah Dakwah Islam Ideologis dalam Membina Ibu dan Generasi Muda Menjadi Pelopor Perubahan
Oleh: Ummu Syathir
Merebaknya kerusakan yang terjadi di tengah-tengah umat menjadikan kehidupan terpuruk bagi ibu dan generasi. Perkembangan teknologi dan informasi yang mestinya membawa bangsa ini mencetak generasi terbaik justru sebaliknya, membawa generasi pada kehancuran. Kebebasan berperilaku yang diadopsi dan disebarkan oleh ideologi sekuler-kapitalistik telah menyebabkan menjamurnya konten-konten yang merusak moralitas di dunia digital yang menjadi konsumsi semua kalangan.
Anak dan remaja merupakan kelompok usia dengan pengguna platform terbesar sebagaimana diberitakan media online https://selular.id, 22/11/2025: “Lebih dari 80 persen anak berusia 5–17 tahun di Indonesia kini aktif menggunakan internet, menurut data terbaru dari Komdigi. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan YouTube yang menduduki peringkat kedua sebagai situs paling banyak dikunjungi di Indonesia pada Oktober 2025, berdasarkan laporan Similarweb.”
Padahal, masa remaja merupakan fase yang sangat penting dalam mengokohkan fondasi untuk meraih kehidupan yang cemerlang ke depannya, bukan saja bagi diri remaja, tetapi juga bagi kemajuan peradaban umat secara keseluruhan. Tak ayal, mereka pun dieksploitasi menjadi pelaku dari konten-konten negatif yang merusak di dunia digital. Sebagaimana diberitakan dalam media online https://www.kemenpppa.go.id, 11/01/2025: “Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Nahar, menyampaikan bahwa dalam pengungkapan kasus penjualan konten pornografi anak secara online, sebanyak 689 konten video dan gambar berkaitan dengan anak-anak berhasil diamankan.”
Kondisi kerusakan anak dan generasi diperparah dengan semakin tergerusnya peranan ibu sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik generasi. Ekonomi yang sulit akibat penerapan ekonomi kapitalis menjadikan seorang ibu mesti terjun membantu perekonomian keluarga, bahkan tidak jarang dari mereka menjadi tulang punggung keluarga, terutama pada kasus-kasus perceraian yang terus meningkat. Banyak kasus perceraian menyebabkan hak asuh anak jatuh ke tangan istri yang tidak memiliki penghasilan, sehingga menimbulkan masalah baru bagi perempuan. Selain mengasuh anak, ia juga mesti mencari nafkah untuk menghidupi dirinya dan anaknya. Dengan demikian, perceraian bukan saja masalah pribadi, tetapi telah menjadi masalah bangsa.
Bahkan, program pemerintah dalam Pemberdayaan Ekonomi Perempuan yang terus digaungkan karena dianggap mampu menjadi solusi pengentasan kemiskinan bangsa, serta anggapan bahwa perempuan yang berpenghasilan mandiri akan memiliki nilai tawar dalam keluarga sehingga dapat menekan masalah rumah tangga, justru menyeret perempuan ke dalam kubangan kapitalisme. Perempuan diposisikan sebagai mesin ekonomi yang menjauhkannya dari fitrahnya sebagai ibu bagi generasi.
Sekularisme Kapitalis Penyebab Kerusakan Terstruktur
Berbagai persoalan yang dihadapi negeri ini tidak lepas dari kehidupan yang sekuler. Beragam krisis terus mewarnai kehidupan masyarakat, khususnya kaum muslim. Urusan-urusan masyarakat diserahkan kepada pihak swasta, yang semakin menyulitkan masyarakat mengakses pelayanan yang menjadi kebutuhan primer seperti pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Beban ekonomi yang dihadapi masyarakat turut andil memunculkan kegoncangan rumah tangga.
Sulit bagi mereka menegakkan nilai-nilai Islam. Bahkan, tidak sedikit yang terjebak dalam kehidupan liberal-materialistik, termasuk cara instan memperoleh harta seperti judi online, pinjaman online, serta penjaja konten-konten negatif, yang pada akhirnya memicu berbagai persoalan baru di negeri ini. Keluarga yang mestinya menjadi benteng terakhir bagi pertahanan anak dari rusaknya kehidupan sekuler justru ikut ambruk dengan runtuhnya bangunan keluarga akibat perceraian. Kondisi anak dan remaja pun semakin memprihatinkan dengan lingkungan sosial yang liberalistik.
Menjamurnya konten negatif yang merusak pemikiran dan psikologis anak serta remaja merupakan akibat dari kebebasan berekspresi dan memperoleh cuan secara instan, yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk menayangkan apa pun selama menghasilkan keuntungan. Seluruh media terhubung dengan pemilik modal. Hampir semua platform media sosial yang paling ramai dikunjungi anak dan remaja berasal dari negara-negara sekuler-kapitalis.
Media menjadi bisnis yang menggiurkan bagi para kapitalis. Ada satu prinsip dasar yang menyatakan bahwa siapa yang menguasai media, dia akan menguasai dunia. Itulah sebabnya, seiring dengan penguasaan dunia oleh para kapitalis, mereka juga menguasai media massa dunia. Selain menjadikan negeri-negeri muslim sebagai pasar, mereka juga semakin menanamkan ide-ide sekuler dan liberal yang menjadikan kaum muslim tetap berada di bawah pengaruh negara sekuler yang dimotori oleh Amerika. Penyerangan ide-ide sekuler dan liberal melalui digitalisasi sangat berpotensi mengikis keislaman kaum muslim, terutama generasi muda.
Urgensi Dakwah Ideologis di Tengah Merebaknya Kerusakan
Sungguh, merebaknya kerusakan yang dialami umat saat ini merupakan akibat dari penerapan sistem kehidupan sekularisme. Negara-negara Barat penjajah negeri-negeri kaum muslimin akan selalu mengarahkan opini dan tayangan sesuai visi mereka, yakni penyebaran ide-ide kufur. Kaum muslim dididik dengan pemikiran rusak agar mudah diarahkan dan tidak diberi sedikit pun ruang bagi kebangkitan pemikiran Islam. Akibatnya, pemikiran keislaman kaum muslim semakin kabur.
Oleh karena itu, agenda besar yang menyerang kaum muslim ini harus dilawan dengan negara adidaya pula, yakni Khilafah Islam yang menerapkan Islam secara kaffah, melindungi, dan mencegah berbagai serangan, baik fisik maupun pemikiran, yang merusak kaum muslimin.
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai; orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengan kekuasaannya.”
Dengan ketiadaan negara Islam yang menaungi kaum muslimin, umat harus sadar untuk membentengi diri dengan pemikiran Islam agar terbentuk pola pikir dan pola sikap islami. Islam harus terus didakwahkan ke tengah-tengah umat, mencabut pemikiran sekuler-liberal dari benak umat, khususnya pemuda, dan mengisinya dengan pemahaman Islam agar mereka sadar akan kedudukannya sebagai hamba Allah Swt. Lebih dari itu, kaum muslimin di seluruh dunia harus diseru untuk memperjuangkan berdirinya institusi yang menerapkan Islam secara kaffah, yang dengannya menjadi perisai dari pemikiran-pemikiran merusak.
Di sinilah letak pentingnya keberadaan kelompok dakwah yang menyeru pada penerapan Islam secara kaffah melalui institusi negara, yakni Khilafah. Mereka adalah kelompok dakwah yang terus membongkar makar kaum kafir penjajah yang hendak memisahkan kaum muslim dari akidahnya, menyingkap berbagai syubhat pemikiran yang ditanamkan untuk menghalangi kebangkitan Islam sebagaimana yang terjadi pada masa lalu.
Kelompok dakwah ini mengajak kaum muslim kembali pada akidah yang lurus, hidup dengan tolok ukur akidah Islam, dan mengajarkan bahwa tidak ada yang lebih tinggi daripada iman kepada Allah Swt. Mereka menegaskan bahwa tolok ukur perbuatan adalah ketentuan Allah dengan batasan halal dan haram sesuai syariah-Nya. Kebahagiaan kaum muslim terletak pada ketaatan terhadap syariah-Nya secara kaffah.
Kaum muslim, khususnya generasi muda, diarahkan untuk memahami bahwa tidak boleh mengambil ajaran selain Islam jika ingin bangkit dan selamat. Kelompok dakwah ini terus berdakwah mengikuti metode dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. hingga mengantarkan Islam meraih tampuk kekuasaan. Dengan itulah Islam diterapkan secara sempurna, memenangkan Islam atas akidah kufur lainnya, menghilangkan kerusakan yang menjerumuskan umat, serta membawa kesejahteraan bagi seluruh alam.
“Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS Al-Anbiya: 107)