| 8 Views

Urbanisasi Setelah Lebaran, Berharap Perubahan

Oleh: Sumarini

Saat Lebaran tiba, momen yang paling ditunggu-tunggu apalagi kalau bukan mudik ataupun pulang kampung, merupakan hal yang paling menyenangkan bisa bertemu keluarga dan juga sanak famili. Sejenak meninggalkan hiruk pikuknya kota besar juga merupakan saat-saat yang bisa membuat jiwa lelah kembali pulih dari penatnya beban kerja selama setahun.

Tak jarang para pemudik yang datang dari kota awal mulanya juga mereka-mereka yang datang dari desa dan berhasil juga mencapai kesuksesan. Termotivasi dari itu, peluang arus balik sering dimanfaatkan oleh anggota keluarga ataupun kerabat, bisa jadi tetangga, untuk ikut para pemudik yang akan kembali ke kota. Tanpa berpikir panjang, bahkan tidak punya keahlian dan juga tidak punya modal yang cukup, hanya berandai-andai mendapatkan peruntungan, bisa jadi mereka hanya bermodalkan itu langsung pergi.

Dan tak bisa dipungkiri, fenomena urbanisasi setelah Lebaran kerap selalu terjadi. Demikian faktanya.

Muslimah News, FOKUS — Jakarta masih menjadi tujuan utama urbanisasi setelah Lebaran 2026 dengan arus pendatang yang terus meningkat setiap tahun. Banyak masyarakat dari berbagai daerah datang mengundi nasib mereka dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Daya tarik ekonomi, kelengkapan infrastruktur, dan status sebagai pusat bisnis menjadikan ibu kota tetap menjadi magnet untuk meningkatkan taraf hidup.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Nabilah Aboebakar Alhabsyi, mengingatkan para pendatang agar tidak datang tanpa persiapan matang. Ia menekankan pentingnya kesiapan sebelum memutuskan merantau ke ibu kota. Menurutnya, pendatang harus memiliki keterampilan, kepastian pekerjaan, serta kesiapan ekonomi yang memadai karena peluang untuk bertahan di Jakarta akan makin sulit. Ia juga menilai arus urbanisasi yang tidak terencana justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di perkotaan. Dampaknya dapat dirasakan dalam berbagai aspek sosial dan lingkungan (Koran Jakarta, 27 Maret 2026).

Bagaimana tidak, urbanisasi terus saja terjadi sebagai dampak dari sulitnya perekonomian. Kurangnya kelengkapan infrastruktur di desa membuat orang berbondong-bondong ke kota (Jakarta khususnya) demi bisa mengubah nasib. Penuh harapan besar, mereka demi bisa meningkatkan taraf hidup, bertekad dan berharap punya kehidupan yang lebih baik adalah satu-satunya tujuan mereka pergi ke ibu kota.

Akibatnya, desa kehilangan sumber daya manusia dari generasi mudanya yang satu per satu pergi meninggalkan desa. Bisa dibayangkan kesunyian mewarnai suasana desa, desa makin tak berfungsi. Sebaliknya, di kota justru muncul dampak sosial dan ekonomi: migran baru sering kali menempati pemukiman padat/kumuh, meningkatkan kepadatan kota, dan menambah angka pengangguran jika tidak mendapatkan pekerjaan, yang memicu masalah sosial baru.

Kapitalisme sungguh telah menciptakan kesenjangan ekonomi antara kota dan desa. Ini yang memicu terjadinya urbanisasi. Desa dengan segala kekurangan akses dan juga infrastrukturnya menjadikan alasan setiap orang untuk memilih pindah ke kota besar tanpa berpikir akibat yang akan terjadi nantinya. Inilah imbas ketika pembangunan tidak merata, ada ketimpangan yang nyata dan sangat jelas ketidakadilannya. Dalam rangka menyokong perekonomian seluruh masyarakat, seharusnya tidak ada batasan. Semuanya harus adil, baik di kota maupun di desa.

Alokasi anggaran bersifat Jakarta-sentris dan kota-sentris, sedangkan desa terabaikan. Kalaupun ada program ekonomi untuk desa (seperti kopdes, bumdes), sifatnya pencitraan, tidak benar-benar untuk memajukan desa sehingga kondisi desa tidak berubah. Saingan untuk mendapatkan pekerjaan sulit, usaha juga kurang berkembang, benar-benar desa tak bisa memberikan harapan untuk menopang perekonomian.

Program ekonomi untuk desa justru menjadi ajang bancakan proyek yang menguntungkan segelintir pihak tanpa memikirkan kondisi warga di desa. Sering kali justru memanfaatkan dana desa untuk kepentingan pribadi. Terkendala akses yang tidak diperhatikan seperti jalan yang rusak, klinik kesehatan yang tidak memadai, hingga tidak memberikan bantuan modal untuk warga ketika ingin membuat usaha adalah berbagai macam kendala yang membuat orang enggan untuk bertahan di desa.

Politik ekonomi Islam mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota. Ini karena adanya jaminan pemenuhan kebutuhan orang per orang. Di mana pun ada orang, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya.

Sektor pertanian dikelola dengan baik sehingga memajukan masyarakat desa.

Khalifah melakukan inspeksi sampai ke pelosok desa sehingga tahu betul kondisi rakyat dan kebutuhan mereka.

Tidak lagi ada kesenjangan, tidak lagi terjadi urbanisasi ketika Islam dijadikan solusi dalam menyikapi persoalan perpindahan penduduk dari desa ke kota yang terus membludak, yang imbasnya desa kehilangan SDM mudanya dan kota sebaliknya menjadi padat karena kedatangan para pelaku urbanisasi, yang pada akhirnya pengangguran juga membludak di kota.

Wallahu a’lam bishawab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment