| 81 Views

Tuntutan Demiliterisasi Hamas, Liciknya Ambisi Kafir Penjajah

Oleh: Cokorda Dewi 

Amerika Serikat melalui desakan BoP (Board of Peace) pada Hamas, menginginkan agar Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya (demiliterisasi), serta menyerahkan peta seluruh jaringan terowongan bawah tanah di Jalur Gaza. Dan selanjutnya akan dilakukan penarikan tentara zionis di wilayah Gaza. Termasuk pengerahan pasukan stabilisasi Internasional (ISF), dan juga pendirian struktur pemerintahan baru untuk Gaza di bawah BoP, dipimpin oleh Trump (harianbhirawa.co.id, 07-04-2026).

Hamas menyerukan tuntutannya pada negara-negara penjamin, untuk mengambil tindakan tegas atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Israel di jalur Gaza. (minanews.net, 13-04-2026).

Pejuang Hamas sebelumnya telah pernah mengajukan tuntutannya untuk perdamaian di Gaza, yaitu menuntut gencatan senjata permanen dan menyeluruh, yaitu penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh Gaza, masuknya bantuan kemanusiaan dan pertolongan tanpa batas,  pemulangan pengungsi ke rumah mereka masing-masing. Dimulainya segera proses rekonstruksi penuh, yang diawasi oleh badan teknokrat nasional Palestina, dan juga adanya kesepakatan pertukaran tahanan yang adil. (sindonews.com, 07-10-25).

Ketidakmampuan zionis Israel menguasai seluruh tanah Palestina, dari sejak Tahun 1917 hingga sekarang. Dan perlawanan para pejuang Hamas yang tak pernah padam, tak pernah habis oleh gempuran zionis Israel, meskipun telah dibantu oleh Amerika. Bahkan solusi dua negara yang dicetuskan oleh Trump pun menemui jalan buntu. Hingga akhirnya Trump melalui kekuasaannya, berhasil mengajak beberapa pemimpin dunia muslim untuk bergabung dalam Bop (Board of Peace). Badan perdamaian semu, yang didalamnya juga beranggotakan Israel. BoP dibentuk dengan dalih demi perdamaian di tanah Palestina, dan seolah memiliki niat baik akan merekonstrusi Gaza menjadi New Gaza. Padahal badan perdamaian ini, tak sedikit pun melibatkan pihak Palestina yang terjajah, terzalimi oleh mereka. Tidak ada Palestina dalam keanggotaan BoP. Bagaikan Musang berbulu domba. Namun kelicikan mereka terlalu transparan, sehingga mudah dibaca oleh penduduk dunia. Apalagi sepak terjang mereka setelah BoP resmi diumumkan terbentuk, pencetusnya malah menyerang Iran, dengan dalih yang tak masuk akal, Iran memiliki tekhnologi nuklir. Dalih yang sudah basi. Bukan perdamaian yang mereka bentuk, tapi justru peperangan yang mereka kobarkan. Hal ini menunjukkan betapa rakusnya hegemoni barat, menampilkan wajah aslinya, wajah dan watak penjajah sejati.

Demiliterisasi pejuang Hamas yang didesak oleh BoP.  Ini bukan hal yang baru lagi, tapi merupakan persyaratan yang dituntut Israel ketika BoP dibentuk. Persyaratan jika Trump ingin mewujudkan proyek new Gaza di Tanah Palestina. Tanah Palestina yang sudah dihancurleburkan oleh entitas zionis Israel. Maka harus ada demiliterisasi pejuang Gaza. Hal ini merupakan kezaliman yang nyata. Bahkan selama gencatan senjata saja, Israel tetap melancarkan serangan kepada rakyat sipil Gaza, hingga menewaskan banyak nyawa rakyat sipil Palestina. Ditambah lagi dengan disahkannya undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina oleh Israel. Menambah makin jelas tampak wajah licik dan buasnya kaum penjajah.

Desakan BoP untuk demilitarisasi pejuang Hamas, dengan dalih demi perdamaian. Adalah merupakan jalan sutra bagi ambisi Trump untuk segera meluncurkan proyek New Gaza -nya di wilayah Palestina. Sebab Israel akan mengijinkan rekonstruksi Gaza terjadi, jika sudah ada demiliterisasi pejuang Hamas. Dan akan memudahkan Israel menguasai wilayah Gaza sepenuhnya.
Apa yang mereka tuntut ini, sama saja dengan keinginan menghabisi perlawanan rakyat Gaza tanpa perlu susah payah. Setelah sekian puluh tahun serangan Israel terhadap rakyat Gaza, tidak menunjukkan keberhasilan. Ini benar-benar licik dan sadis, lahir dari pemikiran orang-orang yang rasa kemanusiaan sudah mati. Karena yang ada hanya hawa nafsu untuk memenangkan ambisinya, demi mendapatkan kepuasan tersendiri dengan segala cara, bagaikan psikopat. 

Padahal jika perdamaian di Gaza ingin terjadi, seharusnya mereka yang berada dalam BoP, melindungi dan menjamin keamanan rakyat Gaza, juga para pejuang Gaza. Serta melakukan demiliterisasi pada tentara Israel, dan menuntut pertanggungjawaban Israel atas kehancuran dan penguasaan illegal di wilayah kedaulatan Palestina. Dan Trump bersama dengan BoP-nya, tidak perlu susah payah melakukan rekonstruksi Gaza melalui Proyek New Gaza. Apalagi rencana rekonstruksi ini tidak melibatkan pihak Palestina, yang memiliki kedaulatan penuh atas Jalur Gaza. Seharusnya mereka tidak turut campur urusan dalam negeri rakyat Palestina. Dan menghormati keinginan rakyat Palestina, untuk bisa merekonstrusi wilayah mereka sendiri, di bawah pengawasan badan teknokrat nasional Palestina.

Para pemimpin dunia muslim seharusnya sadar akan kelicikan para kafir penjajah, yang ingin menguasai tanah-tanah umat muslim. Tanah-tanah yang diberkahi Allah, dengan segudang kekayaan alam berlimpah ruah. Sudah saatnya mereka bersatu padu melawan dan menghentikan ambisi para psikopat dunia. Iran telah membuktikan, bahwa muslim punya kemampuan untuk mengakhiri kezaliman hegemoni barat. Dengan persatuan umat muslim dunia, menegakkan syari'at Allah, dibawah komando seorang khalifah. Seorang khalifah akan dapat menyeru jihad fii sabilillah, mengirimkan tentara-tentara terbaiknya menghadapi tentara musuh, dan mengusir mereka dari tanah-tanah kaum muslim. 

Dakwah Ideologis sangat diperlukan dan sangat urgent, untuk menyadarkan umat muslim dunia akan pentingnya menegakkan syari'at Allah, bersatu padu dibawah komando seorang khalifah. Dan sadar akan kewajiban berjuang, membebaskan saudara-saudara muslim yang terzalimi oleh musuh-musuh Islam. 

Seorang khalifah sebagai ra'in dan junnah, akan mampu melindungi nyawa kaum muslim. Sebab pertolongan Allah pasti akan segera datang, ketika orang-orang yang beriman telah menegakkan syari'at Allah dan siap meraih kemenangan hakiki.

Wallahu'alam bishshowab.


Share this article via

20 Shares

0 Comment