| 202 Views
Tes Kehamilan Pasca Libur Sekolah, Bukti Kegagalan Sistem Sekuler
Oleh : Umu Khabibah
Pegiat Literasi
Libur sekolah adalah momen yang paling dinantikan oleh para siswa. Biasanya, waktu liburan dimanfaatkan untuk beristirahat, berwisata, bermain, atau sekadar bersantai di rumah. Namun, apa jadinya jika setelah libur panjang, pihak sekolah tiba-tiba mengadakan tes kehamilan bagi seluruh siswinya? Langkah ini diambil dengan asumsi bahwa hal tersebut dapat mencegah pergaulan bebas selama liburan.
Baru-baru ini, media sosial ramai membicarakan tes kehamilan massal yang dilakukan oleh sebuah SMA di Cianjur, Jawa Barat. Dalam video yang beredar, para siswi tampak mengantre untuk menjalani tes urin menggunakan test pack, lalu menunjukkan hasilnya kepada pihak sekolah. (Suara.com, 24/1/2025)
Kepala sekolah pun membenarkan kebijakan ini, dengan alasan untuk mencegah kehamilan di usia sekolah. Hal ini dipicu oleh adanya laporan dari seorang orang tua yang menginformasikan bahwa anaknya hamil dan akan segera dinikahkan, sehingga terpaksa putus sekolah. (Detik Jabar, 22/1/2025)
Tes Kehamilan Bukan Solusi
Apakah kebijakan ini efektif? Tentu tidak. Faktanya, pergaulan bebas masih marak terjadi, bahkan dilakukan secara terang-terangan. Di lingkungan sekolah sendiri, interaksi siswa dan siswi sering kali dibiarkan tanpa batasan, sementara para pendidik kerap abai dan kurang peduli. Sekolah lebih banyak berfokus pada formalitas pemenuhan kewajiban belajar, tanpa mengontrol perilaku sosial siswa. Akibatnya, praktik pacaran hingga zina pun terjadi di lingkungan sekolah, bahkan dalam beberapa kasus, pendidik turut andil dalam perbuatan tersebut.
Tes kehamilan hanya dapat mendeteksi kehamilan, tetapi tidak bisa mengidentifikasi apakah siswa telah melakukan hubungan seksual. Maka dari itu, kebijakan ini tidak menyentuh akar persoalan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja.
Pendidikan Sekuler Mencetak Generasi Berorientasi Materi
Salah satu penyebab utama rusaknya moral generasi saat ini adalah sistem pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini. Kurikulum pendidikan dirancang untuk mencetak generasi yang hanya berorientasi pada materi, mengutamakan kesuksesan duniawi, dan menjauhkan mereka dari akidah Islam. Nilai-nilai agama hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai pondasi utama dalam membentuk kepribadian siswa.
Akibatnya, generasi muda tidak memiliki pegangan hidup yang kokoh. Mereka lebih terdorong untuk mengejar karier, jabatan, dan kekayaan, tanpa memahami tujuan hidup yang hakiki sebagai hamba Allah. Akidah Islam yang seharusnya menjadi dasar dalam berpikir dan bertindak justru diabaikan. Pendidikan sekuler gagal membentuk individu yang memiliki ketakwaan dan kontrol diri terhadap kemaksiatan, sehingga pergaulan bebas menjadi hal yang biasa di kalangan remaja.
Pergaulan Bebas Buah dari Sistem Sekuler
Pergaulan bebas yang semakin merajalela terjadi karena tidak adanya batasan jelas antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Budaya barat yang melegalkan hubungan seksual di luar pernikahan telah diadopsi oleh remaja Indonesia, menyebabkan meningkatnya berbagai dampak negatif. Di antaranya, angka aborsi yang mencapai 700.000 kasus per tahun serta meningkatnya penyebaran penyakit HIV, dengan 1.929 remaja terinfeksi.
Penyebab utama dari semua ini adalah penerapan sistem kapitalisme-sekuler, yang menjauhkan agama dari kehidupan. Paham ini memisahkan urusan agama dengan urusan dunia, sehingga norma-norma moral yang seharusnya menekan perilaku menyimpang menjadi semakin terpinggirkan. Padahal, semua agama telah tegas melarang perzinaan.
Selain itu, media informasi juga menjadi faktor pendorong utama dalam membentuk sikap liberal generasi muda. Hampir semua tayangan di media, seperti film, sinetron, serial, dan iklan, mengandung unsur pornografi. Hal ini memicu naluri seksual remaja yang akhirnya mencari pemenuhannya dengan cara yang tidak benar, terutama jika keimanan mereka lemah.
Negara Abai, Sanksi Lemah
Situasi ini semakin parah karena lemahnya sistem sanksi bagi pelaku zina. Di negeri ini, perzinaan yang dilakukan atas dasar suka sama suka bahkan tidak termasuk dalam kategori tindak pidana. Negara pun tampak abai dalam membentuk generasi yang berkepribadian mulia, justru malah mengeluarkan kebijakan yang mendukung pergaulan bebas. Tes kehamilan pasca-liburan tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga solusi terhadap pergaulan bebas tidak akan pernah tercapai selama sistem kapitalisme-sekuler masih diterapkan.
Butuh Penerapan Sistem Islam
Saat ini, kehadiran sistem Islam sangat dibutuhkan karena mampu menghapus perilaku-perilaku rusak dalam masyarakat. Berbeda dengan kapitalisme yang memberi ruang bagi perzinaan, sistem Islam mencegahnya secara menyeluruh. Dalam sistem ini, individu, masyarakat, dan negara bekerja sama dalam menjauhi dan menindak segala bentuk maksiat, termasuk pergaulan bebas, khalwat (berduaan dengan lawan jenis bukan mahram), ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan), pacaran, hingga zina.
Sistem pendidikan Islam juga berasaskan akidah Islam, yang memastikan setiap warga negara dibentuk menjadi pribadi yang memiliki kontrol diri kuat terhadap maksiat. Masyarakat pun akan saling menasihati dalam kebaikan serta merasa peduli jika ada individu di sekitarnya yang melakukan kemaksiatan.
Selain itu, sistem Islam juga menerapkan aturan tegas dalam aspek pergaulan, media, dan sanksi. Media tidak diperbolehkan menyebarkan konten-konten yang merusak moral, melainkan digunakan sebagai sarana dakwah yang meningkatkan keimanan dan memberikan informasi yang benar.
Jika ditemukan kasus perzinaan, maka sanksi tegas akan diterapkan. Dalam Islam, hukumannya adalah cambuk 100 kali bagi pelaku yang belum menikah dan rajam hingga mati bagi pelaku yang sudah menikah. Adapun bagi pembuat dan penyebar konten pornografi, akan dikenakan sanksi takzir, yang hukumannya ditentukan oleh negara. Seluruh sanksi ini tidak hanya sebagai hukuman, tetapi juga sebagai pencegah sekaligus penebus dosa bagi pelaku.
Tes kehamilan pasca-liburan bukanlah solusi atas maraknya pergaulan bebas. Selama sistem sekuler masih diterapkan, perilaku menyimpang di kalangan remaja akan terus berkembang. Sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada materi semakin menjauhkan generasi dari akidah Islam, sehingga mereka kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Hanya dengan penerapan sistem Islam secara kaffah, pergaulan bebas dapat diberantas hingga ke akarnya. Islam memiliki solusi yang menyeluruh, mulai dari pendidikan berbasis akidah, pengawasan ketat terhadap media, hingga penerapan sanksi yang tegas. Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa perubahan hakiki hanya bisa diwujudkan dengan kembali kepada aturan Islam.
Wallahualam bishshawab.