| 37 Views
Sudan Negeri Terbesar Ketiga Di Afrika Dalam Cengkraman Kepentingan Barat! Hanya Sistem Islam Penolongnya
Oleh: Kiki Puspita
Sudan negara terbesar ketiga di Afrika, yang mayoritas penduduknya muslim kini sedang dalam pembataian dan krisis. Sebanyak 1.500 warga Sudan meninggal dalam tiga hari menyusul Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara. Angka ini menandai eskalasi mengerikan perang saudara di Sudan. (dilansir Republik.id).
Peristiwa mengerikan yang dialami warga Sudan tak kala mengerikan dari apa yang dialami warga Gaza. Mereka dikepung oleh tentara RSF, dan dalam pengepungan itu ada 1,2 juta penduduk kota di biarkan kelaparan dan mereka terpaksa harus bertahan dengan memakan pakan hewan. Kaum wanitanya juga di bunuh yang sebelumnya banyak dari mereka sudah di perkosa terlebih dahulu. Anak-anak, kaum laki-laki muda maupun tua di gantung di tempat umum lalu di tembak secara massal. Bahkan sikap biadap mereka, sengaja mereka rekam baik itu penyiksaan yang mereka lakukan dan pembunuhan rakyat Sudan, agar tersebar ke seluruh dunia.
Miris sekali, Krisis Sudan sebetulnya sudah berlangsung lama dan bukan murni konflik etnis semata, tapi ada keterlibatan negara adidaya AS dan Inggris yang melibatkan negara-negara bonekanya yaitu zionis dan UEA. Negara ini sengaja mencari pengaruh politik demi proyek Timur Tengah baru AS dan demi kepentingan perampokan SDA yang melimpah di tanah Sudan.
Sudan negara kaya dengan SDA nya menjadi objek permainan dan perebutan negara-negara yang rakus akan harta dan kekuasaan. Cadangan minyak bumi, gas alam, emas, mineral industri seperti bijih besi, tembaga, kromit, mangan, gipsum, seng bahkan uranium ada di negara Sudan. Belum lagi lahan yang subur dan potensi besar di sektor pertanian seperti kapas, wijen, sorgum, dan milet dimiliki Sudan. Sampai-Sampai Sudan dikenal sebagai "keranjang makanan" Afrika (Sudan, the Ford basket of Afrika atau "breadbasket").
Negara- Negara penganut kapitalisme yang tak mampu menutupi sikap rakusnya tentu menggunakan segala cara untuk menjajah dan menguasai potensi kekayaan yang ada di alam Sudan ini. Untuk menyukseskan penjajahan gaya baru, mereka membuat berbagai skenario pecah belah dan menciptakan perang saudara atau perang antar etnik di Sudan. Pemain utama AS juga turut membangun pengaruh ekonomi dan politik, baik di Sudan sendiri, maupun di kawasan Timur Tengah melalui pengaruh politiknya. Tentu saja keterlibatan AS dalam konflik Sudan ini di latarbelakangi oleh pertimbangan kepentingan nasional, seperti potensi AS sebagai salah satu penerima minyak bumi terbesar dari Sudan Selatan, serta kepentingan regional yang lebih luas.
Perlu kita sadari bersama, bahwa permainan untuk memecah bela Sudan Selatan dari Utara adalah upaya dari kafir penjajah untuk melanggengkan hegemoninya. Dengan memecah belah persatuan, umat Islam akan semakin rapuh dan semakin mudah pula para penjajah menjara potensi SDA yang asa di Sudan.
Selama ini, dunia termasuk umat Islam, telah dibodoh-bodohi dengan propaganda krisis Sudan sebagai konflik etnis atau perang saudara. Alhasil, mereka begitu tega membiarkan rakyat Sudan menderita dalam jangka waktu yang sangat lama. Hal ini adalah akibat bercokolnya nasionalisme yang dicekokkan penjajah pada mereka. Hingga solidaritas seagama pun nyaris hilang tidak bersisa. Padahal, faktanya krisis Sudan adalah skenario licik negara adidaya yang melibatkan negara-negara boneka dan antek lainnya. Targetnya adalah perebutan pengaruh politik yang ujung-ujungnya demi merampok sumber daya alam di Sudan yang begitu melimpah ruah.
Bahkan bukan hanya di Sudan. Hal yang sama sesungguhnya juga terjadi di wilayah lainnya, terutama di negeri-negeri muslim Afrika. Inilah potret umat Islam di bawah cengkeraman kepemimpinan sistem sekuler kapitalisme global. Mereka menjadi korban kerakusan negara-negara adidaya, dan dipecah belah atas nama negara bangsa dengan para penguasa bonekanya. Lalu mereka pun dijauhkan dari identitas Islam yang sejatinya menjadi kunci kemuliaan dan kebangkitan mereka. Bahkan mereka dicekoki narasi bahwa Islam adalah sumber penderitaan dan keterpecahbelahan.
Sebelum sistem destruktif ini berkuasa, umat Islam adalah umat yang kuat dan digdaya. Selama belasan abad mereka dipersatukan oleh satu kepemimpinan bernama Khilafah yang menerapkan aturan Islam yang begitu sempurna. Nyaris 2/3 dunia ada di bawah naungannya. Rakyatnya hidup sejahtera dan keagungan peradabannya tiada dua. Runtuhnya Khilafah yang terjadi pada 1924 adalah musibah terbesar yang menimpa umat Islam. Jumlah mereka yang begitu besar tidak ubah seperti buih di lautan.
Begitu pun kekayaan alam yang melimpah ruah justru menjadi kutukan. Ini semua akibat mereka tidak lagi hidup dengan aturan-aturan Islam, hingga sebagaimana Allah firmankan bahwa kehidupan tanpa Islam pasti dipenuhi kesempitan. Oleh karena itu, umat Islam semestinya sadar bahwa posisi mereka tidak akan pernah berubah kecuali kembali pada Islam. Mereka akan sulit menolong kaum muslim Gaza, Palestina, muslim Sudan, India, Rohingya, Uighur, dan yang lainnya, sebelum bersatu di bawah naungan kepemimpinan politik Islam. Mereka akan sulit berharap kembali menjadi umat yang kuat dan mampu melawan kezaliman global yang ditimbulkan oleh negara-negara Barat, jika mereka tidak kembali punya negara global yang bervisi global, yakni Khilafah Islam.
Tentu saja Khilafah ini tidak akan tegak dengan sendirinya, meski keberadaannya telah dijanjikan. Khilafah harus diperjuangkan dengan penuh kesungguhan, sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya telah mencontohkan. Caranya adalah dengan menapaki jalan dakwah ilal Islam. Caranya dengan membangun kesadaran di tengah umat tanpa kekerasan, baik tentang kesempurnaan Islam mulai dari konsep keimanannya dan hukum-hukumnya, serta tentang bagaimana hukum-hukum itu bisa diterapkan dan menyolusi berbagai persoalan kehidupan hingga terwujud rahmat bagi seluruh alam.
Dakwah menegakkan Khilafah ini tentu tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan harus berjemaah sebagaimana yang juga Rasulullah ﷺ contohkan Jemaah ini harus dipastikan hanya berkhidmat demi Islam, yang anggota-anggotanya diikat hanya oleh pemikiran Islam, serta bergerak secara politik di seluruh negeri untuk mempersatukan umat Islam. Jadi, bukan jemaah yang menyeru pada nasionalisme dan hanya berorientasi pada kekuasaan meski berkompromi dengan kebatilan.
Inilah saatnya kita campakan sistem kufur Kapitalisme ini dan beralih ke sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. zat yang maha sempurna.
Waaulohu a'lam bi ash-shawaab.