| 30 Views
"SKB" Dalam Menangani Krisis Mental Anak, Solusikah?
Menteri PPPA Arifah Fauzi bersama delapan pimpinan Kementerian/Lembaga (K/L)
Oleh: Ummu Nayra
Aktivis Dakwah
Demi menangani krisis kesehatan jiwa anak di Indonesia, pemerintah tengah mengambil langkah tegas. Dalam hal ini, Arifah Fauzi selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang kesehatan jiwa dan anak bersama dengan delapan pimpinan kementerian/ Lembaga (K/L)) lainnya.
Menteri PPPA menjelaskan, pihaknya telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024, yang salah satu poin utamanya menyoroti masalah kesehatan jiwa. Berdasarkan survei tersebut, ditemukan fakta bahwa 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 62,19 persen di antaranya juga mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual, dalam 12 bulan terakhir.
"Survei tersebut menunjukkan ketika seorang anak pernah mengalami kekerasan, baik kekerasan emosional, fisik, maupun seksual, hal tersebut justru berkontribusi besar terhadap munculnya masalah kesehatan jiwa pada anak tersebut", Ungkap Menteri PPPA. (BerAKHLAK 06/03/2026)
Langkah yang diambil tersebut kurang efisien
Terkait penanganan kesehatan jiwa anak khususnya di Indonesia, menurut saya dengan apa yang tengah dilakukan oleh para beberapa menteri tersebut masihlah jauh dari kata tuntas dan juga masih belum bisa dikatakan suatu solusi. Karena solusi yang sebenarnya adalah mencabut akar permasalahan sebab musabab terjadinya krisis kesehatan jiwa pada anak.
Memang benar dengan meninjau beberapa hal yang memicu krisis kesehatan jiwa anak tersebut, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bisa jadi pada anak yang mengalami krisis mental tersebut mungkin sebelumnya pernah mengalami kekerasan seksual, fisik, dan emosional. Namun lebih daripada itu, hendaknya ditinjau juga lingkungan dan penerapan keseharian anak baik dirumah maupun diluar rumah .
Seperti yang diketahui, di sistem kapitalis sekuler saat ini banyak sekali orang tua yang memang disibukkan dengan pekerjaan saja, sehingga ia lupa bahwa ada anak yang harus di didik dan dipantau kesehatan jiwanya. Selain itu broken home juga dianggap salah satu pemicunya, sehingga tidak sedikit dari anak korban broken home yang mengalami kerusakan mental.
Ditambah lagi saat ini dunia barat kian merajalela dalam menggerogoti pola pikir anak bangsa, mulai dari ilmu pengetahuan yang hanya mengupas teori barat, sedangkan ilmu keagamaan seperti sengaja dijauhkan dari mereka. Selain itu pola hidup hedonis serta trend, baik itu dari segi pakaian, makanan dan tontonan, kesemuanya telah menjadikan barat sebagai kiblatnya. Sehingga tidak heran bila pembulian kian meningkat, dan itu sangat erat kaitannya dengan kesehatan jiwa anak.
Selain itu, media sosial yang banyak menampilkan konten-konten tidak senonoh seperti adegan kekerasan dan seksual kian bebas dipertontonkan, dan itu juga merupakan pemicu rusaknya kesehatan jiwa anak bangsa. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang terkontaminasi akan hal-hal tersebut.
Islam Solusi Tuntas
Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Aalamiin tentu saja akan menyajikan perlindungan terbaik khususnya untuk anak dan remaja. Yakni mulai dari keluarga yang harmonis yang menyeimbangkan antara tugas mencari nafkah dan membimbing anak-anak nya. Karena negara dalam Islam tidak pernah memporsir seseorang untuk harus selalu bekerja, sehingga mereka kehilangan tanggung jawab mereka dalam kependidikan anak.
Selain itu pengasuhan orang tua kepada anak atas dasar ketaqwaan kepada Allah yang menjadikan anak menjadi shalih dan shalihah. Begitu pula dengan sistem pendidikan yang berbasis aqidah Islam yang dapat membentuk generasi memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami.
Begitu pula halnya dengan pergaulan, dan lingkungan hidup masyarakat yang berbau islami dalam hal ber'amar makruf nahi munkar, dan tentu saja kesemua itu atas himbauan Khalifah sebagai penanggung jawab penuh terhadap umat yang dipimpinnya . Termasuk pula lah media sosial yang hanya menampilkan edukasi yang islami yang kian meningkat keimanan dan ketaqwaan pada anak.
Dengan demikian, maka kekhawatiran akan rusaknya mental anak dalam negara Islam tentu saja tidak ada. Karena pemimpin dalam Islam adalah raa'in yakni sebagai (pengurus) yang bertanggung jawab penuh terhadap seluruh umat atas dasar tanggung jawab kepada Allah SWT.
Wallahu a'lam bishawwab