| 8 Views

Razia Ditegakkan, Aqliyah-Nafsiyah Diabaikan

Oleh: Umi Alfi
Muslimah Pemerhati Generasi

Apa yang sebenarnya terjadi dengan generasi muda hari ini? Di tengah berbagai upaya penegakan disiplin di sekolah, justru muncul fenomena pelajar yang kian berani melanggar norma, bahkan dengan cara-cara yang tidak lazim. Perilaku ini bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan sinyal adanya krisis yang lebih dalam dalam pembinaan generasi.

Fenomena kenakalan remaja hari ini bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan cerminan rusaknya sistem kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kasus sejumlah siswi di Bengkulu yang nekat menyamar sebagai laki-laki untuk membolos dan merokok saat jam pelajaran, sebagaimana diberitakan Kompas.com, (13/3/2026) menjadi potret nyata rapuhnya kontrol diri generasi muda. Razia yang dilakukan aparat Satpol PP memang berhasil menjaring pelajar yang melanggar, namun fakta bahwa mereka berani melakukan tasyabuh demi mengelabui lingkungan menunjukkan adanya persoalan yang jauh lebih mendasar, yakni krisis pemahaman terhadap nilai dan aturan hidup.

Razia Tanpa Nilai, Disiplin Semu

Fenomena ini menegaskan bahwa razia kedisiplinan siswa tanpa diimbangi penanaman nilai aqliyah dan nafsiyah Islam pada dasarnya tidak akan efektif. Disiplin yang dibangun hanya bersifat sementara dan bergantung pada pengawasan eksternal, bukan kesadaran internal. Ketika pengawasan hilang, pelanggaran pun kembali terjadi. Inilah yang tampak dari perilaku pelajar yang tetap membolos, merokok, bahkan melakukan penyamaran demi menghindari pengawasan.

Perilaku menyimpang seperti ini mencerminkan ketidakpahaman terhadap syariat Islam. Pelajar tidak memiliki standar halal dan haram sebagai landasan dalam bertindak. Akibatnya, mereka mudah terjerumus dalam berbagai pelanggaran tanpa rasa bersalah. Dalam kondisi seperti ini, razia hanya menjadi solusi tambal sulam yang tidak menyentuh akar persoalan.

Sekularisme Liberal: Akar Penyimpangan Generasi

Akar persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari penerapan sistem sekularisme liberal yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, nilai benar dan salah menjadi relatif, sementara kebebasan individu dijadikan prinsip utama. Pelajar didorong untuk merasa berhak menentukan apa pun yang ingin mereka lakukan selama dianggap tidak merugikan orang lain.

Konsep kebebasan tanpa batas ini melahirkan sikap permisif terhadap pelanggaran aturan. Membolos dianggap hal biasa, merokok tidak lagi dipandang sebagai pelanggaran serius, bahkan perilaku tasyabuh pun dilakukan tanpa rasa bersalah. Padahal, dalam Islam, menyerupai lawan jenis merupakan pelanggaran terhadap fitrah manusia.

Lebih jauh, sekularisme liberal juga mengaburkan identitas laki-laki dan perempuan. Batasan syariat yang seharusnya menjaga kehormatan justru dipandang sebagai sesuatu yang kuno dan membatasi kebebasan. Akibatnya, generasi muda kehilangan arah dan identitas, serta mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang menyimpang.

Pembinaan Generasi dalam Sistem Islam

Dalam perspektif Islam, pembinaan generasi merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai benteng pertama dalam menjaga generasi.

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa pembinaan generasi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Islam menanamkan akidah sebagai fondasi utama dalam berpikir dan bersikap. Dengan akidah yang kuat, individu memiliki standar yang jelas dalam menentukan benar dan salah. Pendidikan dalam Islam tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah), yaitu kesatuan antara pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang selaras dengan syariat.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad). Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak, bukan sekadar pencapaian akademik. Dengan demikian, pelajar akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri dalam setiap perilakunya.

Islam juga menetapkan aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan sebagai bentuk penjagaan kehormatan dan identitas. Larangan tasyabuh merupakan bagian dari penjagaan fitrah manusia, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari).

Di sisi lain, negara dalam sistem Islam memiliki peran strategis dalam menjaga moral generasi. Negara tidak hanya mengatur aspek administratif pendidikan, tetapi juga memastikan bahwa kurikulum, lingkungan sosial, dan media mendukung terbentuknya generasi yang berkepribadian Islam. Negara juga berkewajiban menutup pintu-pintu kerusakan yang dapat merusak generasi.

Peran ini diperkuat oleh masyarakat yang aktif dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar. Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar” (QS. Ali Imran: 104). Dengan adanya kontrol sosial yang kuat, lingkungan masyarakat akan menjadi benteng yang menjaga generasi dari berbagai penyimpangan.

Penutup

Dengan demikian, jelas bahwa solusi atas problem kenakalan remaja tidak cukup dengan razia atau penindakan sesaat. Razia tanpa penanaman nilai hanya akan menghasilkan disiplin semu yang mudah runtuh. Diperlukan perubahan mendasar melalui penerapan sistem pendidikan dan kehidupan yang berlandaskan Islam secara kaffah.

Hanya dengan penanaman akidah yang kuat, pembentukan kepribadian Islam, serta dukungan sistem yang menyeluruh dari keluarga, masyarakat, dan negara, generasi muda dapat terjaga dari berbagai penyimpangan. Inilah jalan yang akan melahirkan generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sekaligus mampu menjadi pilar peradaban yang kokoh di masa depan.


Share this article via

0 Shares

0 Comment