| 11 Views

Efisiensi Digaungkan, Pendidikan Dipertaruhkan

Oleh: Umi Alfi
Muslimah Pemerhati Generasi

Di tengah meningkatnya tantangan energi global, berbagai langkah efisiensi mulai digulirkan pemerintah. Namun, ketika sektor pendidikan ikut masuk dalam skema penyesuaian, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana kebijakan efisiensi dapat dijalankan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran? Wacana pembelajaran daring pasca libur Lebaran 2026 pun menjadi sorotan, karena berpotensi menempatkan pendidikan sebagai sektor yang harus berkompromi dengan persoalan eksternal.

Pendidikan di Tengah Agenda Efisiensi Energi

Wacana kebijakan pendidikan kembali mencuat seiring upaya pemerintah melakukan efisiensi energi nasional. Berdasarkan laporan detikcom (21/3/2026), pemerintah tengah mengkaji penerapan pembelajaran daring pasca libur Lebaran 2026 sebagai bagian dari strategi menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akibat tingginya mobilitas masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa kebijakan efisiensi energi perlu dirumuskan secara responsif dan berbasis data, dengan tetap memastikan proses pembelajaran serta pelayanan publik tidak terganggu.

Gagasan ini pada satu sisi menunjukkan adanya upaya pemerintah merespons dinamika global, khususnya terkait tekanan terhadap pasokan energi. Namun di sisi lain, kebijakan ini juga memunculkan kekhawatiran, terutama jika sektor pendidikan kembali menjadi objek penyesuaian kebijakan jangka pendek.

Kebijakan Pragmatis, Akar Masalah Terabaikan

Pengalaman selama masa pandemi menunjukkan bahwa pembelajaran daring memiliki sejumlah keterbatasan, baik dari sisi efektivitas penyampaian materi, interaksi antara guru dan siswa, maupun kesenjangan akses teknologi di berbagai daerah. Oleh karena itu, menjadikan pembelajaran daring sebagai instrumen utama efisiensi energi berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam dunia pendidikan.

Jika wacana ini diberlakukan tanpa perencanaan yang matang, kekhawatiran muncul bahwa kebijakan tersebut cenderung bersifat pragmatis. Pendidikan seolah ditempatkan sebagai sektor yang fleksibel untuk menyesuaikan berbagai kepentingan lain, padahal perannya sangat strategis dalam menentukan kualitas generasi ke depan. Di tengah potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, publik tentu berharap adanya kebijakan yang lebih komprehensif dalam mengelola persoalan energi, tanpa harus berdampak pada kualitas pembelajaran.

Islam Menjamin Hak Pendidikan Umat

Dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar yang harus dijamin pemenuhannya oleh negara. Rasulullah ﷺ  bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim), yang menegaskan tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk pendidikan.

Dalam kerangka ini, pendidikan tidak semata dipandang sebagai aktivitas teknis, tetapi sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, baik dari aspek intelektual maupun moral. Oleh karena itu, kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan semestinya mempertimbangkan secara matang dampaknya terhadap kualitas pembelajaran dan pembinaan generasi.

Pembelajaran daring dapat menjadi pelengkap dalam kondisi tertentu, namun tidak sepenuhnya menggantikan peran pembelajaran tatap muka yang sarat dengan interaksi, keteladanan, dan pembentukan karakter. Islam sendiri mendorong umatnya untuk menuntut ilmu secara optimal, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).

Penutup
Wacana pembelajaran daring dalam rangka efisiensi energi menjadi momentum penting untuk meninjau kembali arah kebijakan pendidikan nasional. Efisiensi memang diperlukan, namun tidak seharusnya mengorbankan kualitas pendidikan yang menjadi fondasi pembangunan jangka panjang.

Diperlukan keseimbangan antara kebutuhan efisiensi dan komitmen menjaga mutu pendidikan. Dengan perencanaan yang matang, pengelolaan sumber daya yang optimal, serta orientasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan generasi, pendidikan dapat tetap berjalan efektif tanpa harus menjadi korban dari berbagai tekanan eksternal.


Share this article via

0 Shares

0 Comment