| 428 Views

Sistem Kapitalisme, Bisakah Pendidikan Menjadi Kebutuhan Primer?

Oleh : Lestia Ningsih S.Pd

Banyak PR yang harus dikerjakan oleh pemerintah terkait pendidikan di negeri ini. Mulai kurikulum yang belum efektif, sistem zonanisasi yang ribet, fasilitas pendidikan yang tidak memadai di tambah biaya pendidikan yang mahal akhirnya pendidikan tidak merata dan menambah angka anak putus sekolah.

Di tengah berbagai rapor merah tersebut, pemerintah justru menanggapi santai polemik kenaikan uang kuliah tunggal (UKT). Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Tjitjik Sri Tjahjandarie menyebut pendidikan tinggi tak wajib.

"Dari sisi yang lain kita bisa melihat bahwa pendidikan tinggi ini adalah tertiary education. Jadi bukan wajib belajar. Artinya tidak seluruhnya lulusan SLTA, SMK itu wajib masuk perguruan tinggi. Ini sifatnya adalah pilihan," ungkap Tjitjik di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (16/5). (CNN.COM, 17/5/2024)

Seharusnya tidak perlu mengatakan yang muluk-muluk, sebab pemerintah cukup mengatakan terus terang bahwa pendidikan merupakan bisnis alternatif yang bersifat komersial. Daripada seorang intelektual mengatakan pernyataan yang tidak masuk akal sama sekali bahwa tuntutan perguruan tinggi tidaklah wajib sungguh sangat disayangkan. 

Nampaknya pemerintah lupa bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar bagi tonggak masa depan. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang dasar 1945 pada pasal 31 bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa dan pemerintah wajib memfasilitasinya. Maka tidak layak jika mengatakan bahwa pendidikan tinggi merupakan kebutuhan tersier dan opsi bagi generasi muda.

Alasan-alasan mengapa UKT perguruan tinggi naik disebabkan adanya kebijakan tersendiri bagi universitas Negeri yang berbadan hukum (PTN BH) namun hal ini hanya pengalihan karena penyebab sebenarnya adalah negara telah lepas tangan atas pendidikan pada anak bangsa. Akhirnya negara melepaskan urusan penentuan biaya pendidikan pada sektor non pemerintah sebab negara tidak ada dana untuk menunjung lebih lanjut biaya operasional. Kelemahan ini tentu membuka peluang bagi swasta atau asing untuk berinvestasi pada sektor pendidikan. Alih-alih negara mampu menuntaskan masalah pendidikan sebaliknya negara membuka pintu lebar bagi kapitalisme untuk menguasai sektor pendidikan.

Lalu jika kapitalisme menguasai sektor pendidikan maka bisakah mewujudkan pendidikan menjadi kebutuhan primer? Gratis dan bermutu? Melihat asas dari sistem kapitalisme adalah manfaat maka mustahil untuk mewujudkan yang demikian sebab tonggak sistem rusak ini adalah untung rugi bukan kemaslahatan umat. Sebab kapitalisme akan menjadikan pendidikan hanya berfokus pada bisnis bukan untuk mencetak generasi yang gemilang.

Berbeda dengan sistem Islam, bahkan disaat eropa mengalami "the dark age" sebaliknya Islam mengalami "the golden age" sebab pada masa itu negara Islam telah melahirkan banyak ilmuwan, ulama, dan kaum intelek dengan hasil karya yang luar biasa. Hal ini terjadi karena sistem Islam menjadikan pendidikan adalah kebutuhan dasar bagi umat manusia. Maka negara sangat serius menangani masalah pendidikan. Tidak tanggung-tanggung negara memberikan secara gratis biaya pendidikan, perpustakaan gratis, bahkan fasilitas pendidikan yang bermutu yang bisa digunakan secara cuma-cuma.

Demikian dengan kurikulum yang sangat kompeten sebab berlandaskan pada akidah Islam. Setiap pembelajaran yang menggunakan metode Talqiyan Fikriyan dengan metode  ini mampu menghasilkan output yang tidak hanya maju dalam sains dan teknologi namun juga memiliki nafsiyah Islamiyyah yang menjadikan generasi muda yang berakhlakul Karimah.

Keberhasilan sistem Islam dalam memfasilitasi sistem pendidikan dengan serius bisa dilihat dari para penemu, ilmuwan-ilmuwan dan ulama yang merupakan output dari sistem pendidikan Islam yang penemuan dan ilmu bisa dipakai dan dinikmati hingga saat ini. Mereka telah menyumbangkan banyak ilmu untuk umat manusia yaitu Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran, Abbas Ibnu firnas sebagai penemu kerangka pesawat, Al khuwarijmi sebagai penemu angka nol sebagai modal pemprograman komputer. Selain itu ada ulama imam Syafi'i, imam Hanafi, imam Maliki, imam Hambali. Bahkan para pejuang Islam yang lahir dari sistem pendidikan Islam yaitu Muhamad Al Fatih, Salahuddin Al Ayubi, dan lain sebagainya.  Maka mampukah sistem Islam menjamin kebutuhan pendidikan sebagai kebutuhan primer?? Tentu saja mampu sebab telah terbukti secara empiris dan historis.

 Allahu 'alam bishowab


Share this article via

107 Shares

0 Comment