| 120 Views
Sekularisme dan Hilangnya Peran Ayah
Oleh : Ni’mah Fadeli
Ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Ayah adalah role model bagi anak laki-laki. Ungkapan tersebut tentu bukan tanpa makna, tetapi menunjukkan betapa vital peran ayah terhadap anaknya. Namun, sayangnya makin hari makin mudah dijumpai kasus fatherless di negeri ini.
Fatherless adalah kondisi ketika seorang anak tidak mendapatkan sosok dan peran ayah dalam kehidupannya. Ketiadaan tersebut disebabkan kematian, perceraian, long distance relationship, atau abainya ayah terhadap anak dalam keluarga, yaitu ketika sosok ayah ada tetapi tidak memainkan peran sebagaimana mestinya.
Data dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut jika 15,9 juta anak negeri ini berpotensi fatherless. Artinya anak tumbuh tanpa kehadiran ayah yang utuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat. Fatherless tentu akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Menurut Rahmat, pemerintah sangat perlu untuk berperan aktif agar kondisi fatherless ini tidak berkelanjutan. Caranya yaitu melalui pendidikan pra nikah yang tepat agar setiap pasangan siap menjadi orang tua. Selain itu juga pemerintah harus berupaya agar terjadi pemerataan lapangan kerja sehingga para ayah tidak terpisah jauh dari anak istri karena kewajiban mencari nafkah. (Kompas.com, 19-10-2025).
Fatherless
Hidup di era Kapitalisme seperti sekarang membuat setiap orang sibuk dengan bagaimana bertahan hidup dari hari ke hari. Kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, pangan, dan papan serba mahal. Belum lagi biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan lainnya juga tidak murah. Hal tersebut membuat manusia zaman now disibukkan dengan pekerjaan yang tiada henti demi memenuhi segala kebutuhannya.
Apalagi bagi kepala keluarga yang merasa memiliki tanggung jawab memberikan nafkah terbaik untuk anak dan istrinya. Kerja lembur, menambah penghasilan dengan pekerjaan tambahan, hingga merantau ke luar kota atau ke luar negeri pun dilakukan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Waktu berkumpul dengan keluarga pun hampir tak ada. Hasilnya, banyak anak tumbuh tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir dalam kehidupannya. Pengetahuan minim tentang bagaimana tugas seorang ayah juga memengaruhi hal ini. Banyak lelaki yang tidak memahami apa tugas dan perannya sebagai kepala rumah tangga. Sekularisme yang menjadi induk dari Kapitalisme memang menjauhkan seseorang dari agamanya. Maka tidak mengherankan jika banyak lelaki yang hanya paham tugas ayah adalah mencari nafkah.
Lelaki Sebagai Qawwam
Islam memberi aturan bahwa lelaki adalah qawwam atau pemimpin dalam keluarga. Artinya tugas dan fungsi ayah dalam keluarga bukan hanya mencari nafkah saja, tetapi memastikan keluarganya aman dunia dan akhirat.
Firman Allah Swt. :
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim : 6)
Dalam keluarga ayah bertanggung jawab penuh atas anggota keluarganya. Bersama ibu, seorang ayah harus memastikan akidah dan tsaqafah anak-anaknya agar senantiasa berada di jalan yang diridai Allah.
Tugas yang tak mudah jika dilakukan antar individu, maka negara pun melakukan tugasnya sebagai junnah atau perisai bagi rakyatnya. Negara akan memastikan lapangan pekerjaan luas dan merata sehingga seorang ayah tidak perlu berpisah jauh dengan keluarga.
Bagi yang berdagang dan sejenisnya tidak akan dipersulit dengan segala izin dan pajak, bahkan akan dipermudah jika mengalami kesulitan modal yang tentunya tanpa ada unsur riba. Jam kerja juga diatur sehingga tidak mengganggu waktu beribadah.
Setiap individu akan mendapat pendidikan mengenai akidah dan syariat sejak dini, baik di sekolah, masjid, atau majelis ilmu yang disediakan negara. Rakyat pun paham akan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya sesuai syariat. Islam juga mengatur sistem perwalian dengan detail sehingga anak yatim tidak akan fatherless meski ayahnya telah meninggal dunia.
Khatimah
Islam mengatur dari hulu hingga hilir segala segi kehidupan. Hal ini karena Islam berasal dari Sang Pencipta sehingga tidak ada kemungkinan salah. Kembali kepada tatanan Islam artinya kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negara akan berkah, sebagaimana fungsi Islam yaitu membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu a’lam bishawab.