| 75 Views

Sekolah Tak Ramah: Potret Gelap Pendidikan Sekuler

Oleh: Umma Hadid 

Seolah menjadi solusi permasalahan hidup, bunuh diri menjadi tren di benak manusia. Bukan hanya orang dewasa, hari ini remaja pun sudah terjangkit pikiran buruk ini. Bahkan WHO menetapkan bahwa bunuh diri berada pada peringkat kedua sebagai penyebab kematian remaja dengan kisaran umur 10 sampai 19 tahun. (WHO, 2018)

Data menyebutkan bahwa angka kasus bundir pada anak atau remaja selalu ada setiap tahunnya, untuk tahun 2023 terdapat 46 kasus, tahun 2024 terdapat 43 kasus, dan di tahun 2025 hingga bulan November ini ada sekitar 23 kasus bunuh diri menurut rangkuman data KPAI. (Schoolmedia.id, 08/11/2025)

Eneng, siswa asal Sukabumi yang berumur 14 tahun menjadi contoh nyata remaja yang melakukan bunuh diri. Bahkan dia melakukannya di rumah, tepatnya di kamarnya sendiri dengan cara menggantungkan tubuhnya di pintu kamarnya pada malam hari, disaat semua orang terlelap. Tepat pukul 00.00 WIB petugas datang semua, dari polsek, danramil, puskesmas, sampai satpol pamong praja. Setelah diusut bullying menjadi salah satu dugaan penyebab Eneng melakukan bunuh diri. (bbc.com 3/ 11/2025) 

Interaksi atau cara pertemanan yang tidak sehat dengan cara menganggap diri lebih tinggi serta merendahkan orang lain atau kerap disebut bullying  memang menjadi topik yang hyp saat ini. Bullying secara verbal atau secara fisik banyak terjadi di kalangan remaja. Sehingga korban bullying merasa dirinya tidak dihargai, diremehkan, dikucilkan atau keberadaannya dianggap kecil membuatnya sakit hati dan berpikir untuk bunuh diri. 

Selain Bullying yang menjadi penyebab remaja bunuh diri, ternyata masih banyak lagi penyebab lain. Tekanan keluarga seperti ekspektasi tinggi terhadap anak, konflik, perceraian, atau kekerasan, kurangnya dukungan sosial sehingga kaum remaja merasa tidak punya tempat aman untuk bercerita. Atau senantiasa membanding diri dengan orang lain“kok hidupku gak kayak mereka?”standar  media sosial baik tiktok ataupun instagram sebagai sandar hidup. (Putri & Tobing , 2022)

Menanggapi hal itu KPAI mendorong early warning system, untuk berjalan pada lingkungan sekolah. Sebagai langkah awal dilakukan memperbanyak tekanan penguatan fungsi guru, khususnya Guru BK (Bimbingan Konseling), agar lebih proaktif memantau kondisi sosial-emosional siswa. Kemudian mengadakan pelatihan pada guru dan siswa sebaya (peer counselor) dalam mengenali tanda-tanda depresi, stres, atau perilaku menarik diri. Dilanjutkan dengan koordinasi berlapis antara sekolah, puskesmas, atau dinas terkait saat ditemukan anak dengan risiko tinggi. Serta dengan memanfaatkan data presensi, perilaku, dan interaksi sosial siswa sebagai indikator awal gangguan kesejahteraan mental. (mediaindonesia.com, 31/10/2025)

Jika dicermati yang dikatakan KPAI memang ada benarnya. Namun jika ditelaah lebih mendalam saran akan tetap menjadi saran jika tidak ada langkah nyata dalam merealisasikan saran tersebut. Mengingat tanpa sadar negara yang menganut sistem sekuler (kebebasan) dan kapitalis (semua berasaskan materi). 

Belum lagi fungsi guru sekarang banyak terbebani dengan administrasi yang menumpuk dan upah yang tidak seberapa. Sehingga untuk menguatkan fungsi guru dalam memantau kondisi anak sepertinya menjadi hal yang sulit. Dalam sistem kapitalis juga menjadikan pelatihan-pelatihan guru sangat jarang ada yang gratis, kebanyakan pasti berbayar. Guru yang memiliki kemauan dan uang saja yang bisa mengikuti pelatihan. Sementara yang lainnya apalagi guru yang ada di pelosok atau yang tidak mempunyai biaya tidak bisa mengikuti pelatihan. 

Untuk membangun  early warning system tidak akan cukup hanya melakukan satu atau dua kali pelatihan. Tetapi harus tetap dilakukan secara berkelanjutan untuk mendapatkan pengaruhnya. Belum lagi pemantauan untuk koordinasi antar sekolah, puskesmas dan dinas haruslah diawasi secara terus menerus, jangan sampai pemantauan hanya dilakukan di awal saja atau saat diminta laporan saja. 

Lain cerita, jika sudut pandang yang digunakan untuk mengatasi bunuh diri pada remaja adalah sudut pandang Islam. Islam memandang remaja maupun dewasa sudah diberikan pendidikan memiliki tujuan hidup yang terarah dan ditanamkan sejak dini yaitu beribadah kepada sang Khalik atau Allah SWT selaku sang pencipta manusia. Sebagai muslim meyakini bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan semua pilihan hidupnya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di hari akhir kelak. 

Untuk itu, menyia-nyiakan hidupnya dengan mengambil tindakan bodoh dan konyol seperti bunuh diri. Allah SWT berfirman,“ Janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)

Untuk membangun iklim hidup dengan tujuan jelas, Islam mendukungnya dengan kurikulum pendidikan Islam. Dalam kitab Nidzomul Islam karangan Syaikh Taqiyuddin disebutkan tujuan kurikulum pendidikan dalam Islam yaitu membangun Syakhsiyah Islamiyah atau Kepribadian Islam. Artinya setiap siswa di cetak untuk memiliki fikrul Islam (pemikiran Islam) dan nafsiyah Islam (pola sikap Islam). Dengan terbangunnya kepribadian Islam inilah pemikiran keliru untuk bunuh diri akan lenyap. 

Selain itu, Negara ikut turun tangan langsung dengan memberikan upah yang layak bagi para guru. Seperti halnya yang terjadi pada masa kekhalifahan Abbasiyah, sehingga setiap guru akan sungguh-sungguh menjadi mentor terbaik untuk siswanya. Bukan hanya membagikan ilmu namun guru juga mengarahkan jalan hidup setiap siswanya agar sesuai dengan track yang diinginkan oleh Allah Swt, dengan memperhatikan setiap kebutuhan dan perkembangan nalurinya dalam kehidupan. 

Selain itu, keharmonisan keluarga dalam membangun karakter anak yang tangguh juga dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Baik cara berkomunikasi dengan anak anak, seperti yang diriwayatkan Dari Anas bin Malik r.a. berkata: "Rasulullah ﷺ apabila melewati anak-anak kecil, beliau memberi salam kepada mereka.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap Rasulullah yang elok dalam memperlakukan anak, beliau contohkan juga. Sehingga setiap anak akan merasa dihargai dan disayangi. Nabi mencium Hasan bin Ali, sedangkan di sisi beliau ada Al-Aqra’ bin Habis. Al-Aqra’ berkata, "Aku punya sepuluh anak, dan belum pernah aku mencium seorang pun dari mereka." Rasulullah bersabda: "Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Terakhir, pemantauan negara Islam akan terus dilakukan. Sebagaimana terdapat dalam Tārīkh Dimasyq disebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada setiap gubernur yang isinya. “Laporkan kepadaku keadaan rakyatmu, karena aku tidak akan puas sebelum aku tahu bahwa di wilayahmu tidak ada yang kelaparan, tidak ada yang takut, dan tidak ada yang terzalimi.”

Kurikulum Islam yang membentuk pribadi berkepribadian Islam, disertai pendidikan keluarga yang islami, serta peran langsung negara Islam akan membumihanguskan pemikiran bunuh diri pada setiap individu baik remaja maupun dewasa. Dan iklim islam ini akan benar-benar terbentuk jika suatu negara menerapkan sistem Islam dalam seluruh kancah kehidupan.

Wallahu’alam bish-showab.


Share this article via

19 Shares

0 Comment