| 49 Views
Scary Marriage vs Tingginya Free Sex: Dampak Luka Ekonomi Kapitalis yang Membekas dalam Benak Generasi
Oleh: dr. Erlian Fitri
Tantangan dalam setiap generasi pasti akan berbeda setiap zamannya, dan perbedaan ini akan memengaruhi cara mereka mengambil keputusan dalam meraih solusi kehidupan yang akan mereka jalani. Ketika dulu kegelisahan terjadi karena mendapat cap bujang lapuk atau perawan tua di usia yang tidak lagi muda, sekarang seakan terjadi pergeseran pemikiran. Mereka lebih khawatir dan ragu melangkah menuju jenjang pernikahan karena ketika itu terjadi maka tuntutan ekonomi akan semakin tinggi, takut jatuh pada kemiskinan, hilangnya kebebasan hidup, ditambah bahaya perselingkuhan yang selalu mendera. Sehingga mereka lebih memilih ikatan tanpa mengikat, pacaran oke, nikah no. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh negara yang minim akidah dan terbalut sistem kapitalisme, sehingga tingginya kasus free sex, free child, sampai divorce semakin mendominasi gaya hidup generasi sekarang.
BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) mencatat tingginya angka free sex dan rendahnya pernikahan menjadi permasalahan kompleks yang berat untuk dihadapi. Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, mengungkapkan bahwa pernikahan dini di Indonesia menunjukkan penurunan yang signifikan dalam sepuluh tahun terakhir, dari angka 40 per 1.000 penduduk menjadi 26 per 1.000 penduduk (4/2/2025). Sebanyak 59% remaja perempuan dan 74% remaja laki-laki telah berhubungan seksual pada usia 15–19 tahun, meski hanya kenal one night stand. “Perilaku berisiko remaja mencakup kehamilan remaja usia 15–19 tahun yang mencapai 36 per 1.000 remaja putri, pernikahan dini 7%, hingga kasus aborsi yang mencapai 750 ribu hingga 1,5 juta setiap tahun.”
Meningkatnya free sex akan meninggikan angka HIV dan PMS (Penyakit Menular Seksual). Estimasi UNAIDS/WHO 2025 mencatat sekitar 40,8 juta [37,0–45,6 juta] orang hidup dengan HIV pada akhir tahun 2024, serta 1,4 juta [1,1–1,8 juta] anak-anak hidup dengan HIV (usia 0–14 tahun). Tak pelik akan semakin menguras dana alokasi APBN untuk pembelian ARV yang digratiskan bagi ODHA seumur hidup, menambah kolapsnya ekonomi negara khususnya, dan kestabilan ekonomi masyarakat pada umumnya.
Hanya karena hilangnya kesakralan penjagaan kesucian sebelum halal, yang harusnya dilakukan setiap muslim yang menjadikan ridha Allah dan Rasul-Nya sebagai tujuan utama. Sekali lagi, kebebasan kapitalisme merusak dan menghancurkan titik tertinggi yaitu keimanan. Rendahnya keimanan semakin menggoyahkan keyakinan akan rezeki-Nya yang tidak akan pernah tertukar. Sehingga ketika di luar sana semakin tingginya biaya kehidupan, upah rendah, dan pekerjaan sulit, cara instan menjadi pilihan terbaik untuk menutupi itu semua. Bukan mencari ikhtiar yang halal, tetapi mencari materi yang banyak dalam waktu singkat. Dan ini semakin merusak tatanan sosial, di mana korupsi, sikut-menyikut antar teman, bahkan kerakusan segelintir orang untuk menguasai seluruh sumber daya alam yang seharusnya digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sehingga tidak ayal berimbas pada pernikahan yang dipandang sebagai beban, bukan sebagai ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan.
Luka ekonomi dengan hutang yang semakin melambung tinggi juga menjadi faktor utama scary marriage ini. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh negara:
-
Negara harus menjamin kebutuhan dasar rakyat dan membuka lapangan kerja yang luas melalui penerapan sistem ekonomi Islam.
-
Pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam oleh negara, bukan swasta/asing, sehingga hasilnya kembali untuk kesejahteraan masyarakat dan mampu menekan biaya hidup.
-
Pendidikan berbasis akidah membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Mereka justru menjadi penyelamat umat.
-
Penguatan institusi keluarga, dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjagaan keturunan.
Dengan begini, kekuatan masyarakat akan ditopang oleh negara yang kuat, ibarat akar pohon yang semakin lama usianya maka akarnya akan semakin menancap kuat dan tidak goyah oleh badai atau banjir sekalipun. Bukan semakin bobrok dan malah membebani masyarakat dengan kelalaian dan kelemahannya.