| 16 Views

Rusaknya Generasi di Tengah Arus Algoritma Kapitalisme Digital

Ilustrasi Algoritma-pinterest-

Oleh: Nuril Ma’rifatur Rohmah
Muslimah Peduli Generasi

Di balik layar gawai yang selalu menyala, ada generasi muda yang hari ini hidup dalam arus digitalisasi yang nyaris tak terlihat. Ia bekerja senyap, tetapi mengendalikan apa yang kita lihat, sukai, bahkan cara kita berpikir. Selain itu, tidak hanya sekedar menghadirkan hiburan, namun tanpa disadari perlahan merangsek perhatian, waktu dan kesadaran kita, bahkan menjebak genersi muda dengan harapan instan yaitu dengan judol dan pinjol. Semua bergerak dalam satu alur yang sama yakni menjadikan generasi muda sebagai sasaran utama dalam perangkap sistemetik yang menguntungkan segelintir pihak.

Bagi kalangan Gen Z yang lahir di tengah kuatnya arus internet, masalah keuangan kini tak lagi rumit. Cukup dengan beberapa klik di ponsel, mereka bisa mendapatkan pinjaman uang, membeli barang atau bahkan membeli gaya hidup. Semua serba mudah, cepat dan instan. Menurut data OJK per 2025, lebih dari 60 persen nasabah pinjaman daring berusia 19 sampai 34 tahun. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa, pekerja muda dan freelancer yang dekat dengan teknologi digital tetapi belum cukup matang secara finansial. (KOMPAS.com, 16/12/25)

Faktor penyebabnya tak lain adalah himpitan ekonomi yang dilahirkan oleh sistem kapitalisme. Sistem ini mementingkan kekayaan pada segelintir elite, sementara generasi muda bertarung dalam realita upah kecil lapangan kerja sempit dan biaya hidup yang sangat tinggi. 

Di waktu yang bersamaan, algoritma digital bergerak memperkeruh keadaan dengan menyodorkan "solusi instan" yaitu dengan iming-iming kemenangan cepat dari judol dan kemudahan dana cair dengan pinjol. Faktanya, keduanya bukan jalan keluar, melainkan pintu masuk yang menyeret ke jurang krisis yang lebih dalam. Algoritma bekerja dengan membaca kebiasaan, emosi dan kerentanan pengguna. Ketika generasi muda menunjukkan kecenderungannya pada konten spekulatif, finansial instan, atau hiburan maka sistem akan terus menyodorkan konten- konten serupa. Tak heran jika iklan judol dan pinjol sering muncul di saat-saat rentan, seperti lelah, cemas atau terdesak kebutuhan.

Dalam keadaan seperti ini, negara sering kali abai sebagai pelindung rakyat, judol dan pinjol dibiarkan menjadi penentu nasib manusia. Kegagalan negara untuk melindungi generasi bukan hanya tampak pada lingkup ekonomi, tetapi juga pada arah pemikiran yang dibangun melalui sistem pendidikan dan lingkungan sosial. Dalam ruang pendidikan, generasi muda lebih sering diajarkan cara bersaing, daripada cara bertahan. Mereka diajarkan untuk mengejar hasil, bukan proses. Keuntungan bukan keberkahan, sehingga ketika realita hidup tak seindah harapan, kekecewaan pun muncul. Pada saat inilah langkah seperti judol dan pinjol dijadikan pilihan, padahal sesungguhnya merusak.

Pengaruh lingkungan pun ikut memperkeruh keadaan. Menormalisasi gaya hidup yang instan, dengan pamer kemewahan di media sosial, serta tradisi "cepat kaya" membuat standar semu perihal kebahagiaan dan keberhasilan. Generasi muda yang tidak dapat mengikuti standar tersebut akan merasa tertinggal dan tertekan. Tanpa adanya tameng akidah yang kuat, maka akan tergelincir pada aktivitas yang beresiko tinggi demi mengejar pengakuan sosial. Kejadian ini menegaskan bahwa negara gagal menjalankan fungsi perlindungan secara utuh.

Di dalam Islam, generasi muda adalah amanah peradaban. Negara wajib membuat sistem pendidikan yang menanamkan akidah Islam, membentuk akhlak, dan menyalurkan ilmu untuk kemaslahatan. Pendidikan Islam yang membentuk (syakhshiyah Iskamiyah) akan melahirkan generasi yang memposisikan halal haram sebagai standar utama dalam bertindak. Allah SWT telah menegaskan:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu berlaku adil." (TQS An nisa : 48)

Ayat tersebut menunjukkan Negara atau sistem harus melindungi generasi dan menegakkan keadilan, bukan membiarkan mereka terjerat sistem yang merugikan.
Dengan cara pandang seperti inilah generasi muda tidak mudah tergoda oleh keuntungan sesaat yang bertentangan dengan syariat. Ketika orentasi kehidupan diarahkan pada ridho Allah, maka pinjaman berbasis riba dan perjudian akan ditinggalkan walaupun menjanjikan materi yang tampak lebih cepat.

Kemudian, sarana digital dalam negara Islam di bangun di atas cara pandang Islam. Bukan cara semu ala kapitalisme. Negara berperah aktif dalam mengatur teknologi sebagai sarana kemaslahatan. Konten-konten yang merusak akal, memicu kriminal, menormalisasi maksiat dan konten yang merampas kelemahan generasi akan di blokir dengan tegas. Di saat itu juga platfrom digital diarahkan untuk edukasi, pengembangan ilmu, dakwah dan penguatan peradaban Islam. Sehingga, teknologi dijadikan sebagai alat pembinaan, bukan jebakan.

Lebih penting lagi, generasi Islam harus disadarkan dengan identitasnya. Generasi muda bukan hanya sekedar individu yang hidup bertahan secara ekonomi, tetapi bagian dari umat yang memiliki tanggung jawab memikul misi besar sebagai penegak peradaban. Kesadaran ini tentunya akan tumbuh dengan pembinaan Islam yang intensif dan terarah, pembinaan yang menghubungkan realita kehidupan yang sesuai dengan tuntunan syariat dan misi peradaban Islam.
  
Islam telah menawarkan jalan keluar secara menyeluruh, sistem ekonomi yang adil, pendidikan yg membentuk kepribadian, negara yang mengarahkan arus digital pada kemaslahatan. Dengan sistem ini generasi tidak dibiarkan berjuang sendiri, tetapi dibina, dijaga dan diarahkan untuk menjalankan kehidupan dengan standar halal haram, bukan sekedar mementingkan untung dan ruginya materi.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi yang tangguh tidak cukup dengan himbauan moral atau perbaikan sementara. Tetapi dibutuhkan perubahan cara pandang dan perjuangan bersama-sama untuk mewujudkan sistem Islam secara kaffah. Generasi muda harus ikut andil dalam mengambil peran sebagai tonggak perubahan dan menjaga diri dari jebakan sistem rusak dan juga harus terlibat aktif dalam dakwah dan pembinaan umat.

Oleh karena itu, hanya dengan Islam sebagai pondasi kehidupan dan peradaban, generasi muda akan terbebas dari penindasan. Generasi akan hidup dalam kesejahteraan yang hakiki, serta mampu mengemban amanah besar sebagai pewaris nabi dan pembangun peradaban Islam yang mulia.

Wallahu a’lam bishowab


Share this article via

18 Shares

0 Comment