| 146 Views
Ribuan Pedagang Kaki Lima Membutuhkan Riayah Negara
Oleh : Rhany
Relawan Opini Andoolo
Beberapa hari yang lalu sempat viral di jagat dunia maya di seluruh platform media sosial. Bahkan sampai saat ini banyak yang masih memparodikan kejadian tersebut. Apa itu? Yah tentu saja bapak penjual es teh dan seorang yang katanya pendakwah menyampaikan agama, ada yang berpendapat juga adalah hal yang becanda, bahkan berkedok pembullyan.
Dikutip oleh Lombok Insider, Beredar kembali video saat Gus Miftah ceramah dengan membully disertai berbicara kotor. Mirisnya dalam video terlihat Gus Miftah berbicara kotor kepada wanita tua.
Gus Miftah juga mengatakan lont* kepada sang wanita tua tersebut. Aksi Gus Miftah itupun langsung menuai sorotan tajam netizen yang juga sangat miris. “Hama,” kata netizen, dikutip oleh LOMBOK INSIDER dari Tiktok KAS chanel, pada hari Jum’at (6/12/2024).
Beberapa netizen pun merasa kurang suka dengan Gus Miftah. Ada pula netizen yang mengaku tidak suka bahkan tidak pernah mengikuti ceramah Gus Miftah (6/12/2024).
Kasus di atas sangat disayangkan harus terjadi, tentu saja banyak yang menyayangkan kelakuan oleh pemuka agama tersebut, yang harusnya bertugas memberi pemahaman dan teladan bagi umat malah sebaliknya memberi contoh yang tidak harus ditiru dan dilakukan. Bukankah lisan merupakan kualitas diri seseorang?
Kejadian tersebut sontak memberi spekulasi banyak orang dan tentu oknum yang tidak menyukai Islam menjadi legitimasi untuk menyerang Islam dan ajaran-ajarannya. Bahkan berbagai komentar ditulis oleh para netizen "Pemukanya saja seperti itu apalagi agamanya?"
Akhirnya ketakutan untuk mempelajari Islam dan mengkajinya semakin phobia. Pemahaman sekuler di tengah-tengah masyarakat semakin menjangkiti. Ketakutan terhadap agama sendiri menjadi-jadi, sudahlah dari dalam tumpul terhadap agama sendiri ditambah dari luar serangan barat bagai bom yang sebentar lagi meledak.
Selain itu, belajar dari kasus penjual es teh bapak Suhanji adalah ribuan rakyat yang tidak diurusi oleh negara. Pemerintah hanya memikirkan bagaimana cara meraih kekuasaan tiap 5 tahun sekali, menghamburkan uang tiap pemilihan, setelah terpilih menutup mata. Rakyat yang kesusahan dan negara membiarkan rakyat berjuang sendiri. Baru mau urus jika ada maunya saja.
Negara abai mengurusi kebutuhan masyarakatnya, sehingga timbulah ribuan mental yang kita tidak bisa hitung berapa masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan. Pedagang kaki lima jika dikalkulasikan pendapatan perhari mungkin hanya cukup untuk makan sehari, dan mirisnya gaji pejabat wacananya malah akan dinaikan. Sangat miris.
Berbeda dengan sistem Islam, negara sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, sampai-sampai tidak ada yang ditemui rakyat yang miskin. Berbeda dengan hari ini, dengan gampang kita temui banyak pengemis di jalanan. Wallahu a'lam Bishowab