| 248 Views

Refleksi Rajab dan Urgensi Kebangkitan Khilafah

Oleh : Maryam Sakinah

Bulan Rajab menyimpan makna mendalam bagi umat Islam. Rajab tidak hanya sebagai salah satu dari empat bulan haram bersama Zulhijah, Zulkaidah, dan Muharam, tetapi juga karena berbagai peristiwa bersejarah yang mewarnainya. Dari hijrah pertama ke Habasyah pada tahun kelima kenabian, peristiwa agung Isra' Mi'raj pada tahun kesepuluh kenabian, Perang Tabuk melawan Romawi pada tahun ke-9 Hijriah, dan pembebasan Baitulmaqdis oleh Salahuddin al-Ayyubi pada 583 Hijriah. Rajab telah menjadi saksi perjalanan agung peradaban Islam.

Tragedi Rajab, Runtuhnya Khilafah Islamiyah

Akan tetapi, Rajab juga mengingatkan kita pada tragedi besar, yakni runtuhnya Khilafah Islamiyah pada 28 Rajab 1342 H. Peristiwa memilukan ini diprakarsai Mustafa Kemal Attaturk, sosok yang memiliki hubungan erat dengan Inggris dan berlatar belakang Yahudi Dunamah. Ia mengakhiri 14 abad kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah. Khalifah terakhir, Abdul Majid II, bersama keluarganya diusir dan diasingkan ke Swiss dalam keadaan terhina.

Potret Keemasan dan Kemunduran Islam

Panjangnya masa kepemimpinan peradaban Islam yang cemerlang menjadikan Will Durant, sejarawan Barat, mencatat bahwa di bawah Kekhilafahan, Asia Barat menjadi pusat peradaban terkemuka selama lima abad. Keamanan, kemakmuran, dan kemajuan ilmu pengetahuan melingkupi seluruh negeri. Namun setelah keruntuhan Khilafah, umat Islam mengalami kemunduran signifikan. Kaum muslimin kehilangan kepemimpinan politiknya, ketidakmampuan melaksanakan hukum syariat, dan terpecahnya persatuan umat dalam negara-negara bangsa buatan penjajah.

Runtuhnya Khilafah pada bulan Rajab 1342 H menjadi mimpi buruk bagi kaum muslimin. Sejak saat itu, kesengsaraan terus-menerus mendera umat Nabi Muhammad saw. ini. Tidak tersemat lagi label sebagai sebaik-baik umat sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 110.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَبِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya, Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Di bawah sistem sekuler-kapitalistik, umat Islam kehilangan izzah (kemuliaan) dan wibawa. Para pemimpin yang seharusnya menjadi pelindung (junnah) dan pengurus (raain) justru abai terhadap nasib umatnya, bahkan menjadi perpanjangan tangan kekuatan asing. Padahal, Allah telah menganugerahi umat Islam dengan predikat "khaira ummah", gelar yang terkait dengan peran aktif dalam amar makruf nahi munkar.

Gaza, Potret Umat Tanpa Khilafah

Dampak keruntuhan Khilafah ini terlihat nyata dalam genosida muslim di Gaza yang hingga kini masih berlangsung. Sejak meletus tanggal 7 Oktober 2023, hampir 50.000 nyawa melayang dan 90% wilayah Gaza hancur. Sementara itu, 1,5 miliar umat Islam seakan tak berdaya.

Para pemimpin negara muslim hanya mampu beretorika kosong, bahkan menjadikan penderitaan Palestina sebagai alat politik. Sikap ini kontras dengan ketegasan Sultan Abdul Hamid II yang menolak tawaran menggiurkan Theodor Herzluntuk membeli tanah Palestina. Dalam catatannya yang bersejarah, sultan dengan tegas menyatakan bahwa Al-Quds adalah tanah suci yang tak dapat diperjualbelikan. Al-Qudsselamanya menjadi bagian integral dari dunia Islam. Sultan Abdul hamid II menuliskan dengan lantang bahwa selama ia berkuasa, kaum Yahudi tidak akan pernah berharap untuk memasuki tanah yang mereka sebut "tanah yang dijanjikan" itu.

Khilafah Perisai Umat

Dari sini dapat dipahami bahwa Khilafah bukan sekadar sistem politik, tetapi manifestasi dari penerapan syariat Islam secara kaffah. Para ulama menyebutnya sebagai "taj al-furudl" atau mahkota kewajiban. Melaluinya, hukum Islam dapat ditegakkan, dakwah disebarluaskan, dan jihad fisabilillah digelorakan. Dalam konteks Palestina, hanya Khilafah yang memiliki legitimasi dan kekuatan untuk menghentikan okupasi dan genosida Zionis sebagaimana Sultan Abdul Hamid II menantang Yahudi.

Menegakkan kembali Khilafah memang tidak mudah, meski Allah telah menjanjikan kemenangan bagi kaum muslimin seperti dijanjikan di dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 55. Rasulullah saw. telah memberikan teladan dengan membangun fondasi berupa pemahaman (mafahim), standar-standar (maqayyis), dan keyakinan (qanaat) akan kebenaran Islam. Beliau melakukan ini bersama kelompok dakwah yang fokus pada perubahan sistemis tanpa kekerasan.

Perjuangan Menuju Kebangkitan Khilafah

Oleh karena itu, saat ini tatkala kaum muslimin tidak lagi dilindungi oleh Khilafah, perjuangan untuk menegakkannya menjadi sesuatu yang wajib. Upaya ini harus dilakukan bersama partai politik yang konsisten memperjuangkan penegakannya. Tantangan akan datang bertubi-tubi dari kekuatan global yang menentang kebangkitan Islam. Namun, dengan kesabaran dan keteguhan memegang ideologi Islam, perjuangan ini akan mencapai kemenangan sebagaimana sabda Rasulullah saw. tentang kembalinya Khilafah 'ala minhajin nubuwwah.


Share this article via

132 Shares

0 Comment