| 35 Views
Refleksi Muharram, Saatnya Mewujudkan Kebangkitan Umat yang Hakiki
Oleh : Siti Rodiah
Tidak lama lagi tahun baru Islam 1447 H akan segera tiba. Berdasarkan kalender Hijriah Kementerian Agama (Kemenag), tahun baru Islam 1 Muharram 1447 H jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025. Bagi umat Islam, tahun baru Islam bukan sekadar perayaan tahunan. Pergantian tahun tersebut adalah momentum untuk memperbaiki diri dari tahun-tahun sebelumnya. Di penghujung tahun inilah menjadi waktu yang pas untuk memperbaiki diri agar tahun berikutnya lebih baik. (Liputan6.com, 19/6/2025)
Situs Nu online juga menyatakan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan ibadah puasa bagi umat Islam. Bahkan, puasa di bulan ini dinilai memiliki keutamaan lebih tinggi dibanding puasa lainnya setelah Ramadhan.
Hal ini sebagaimana disampaikan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Salah satu bentuk puasa yang dianjurkan pada bulan ini adalah puasa Tasua dan Asyura, yang masing-masing jatuh pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Kedua puasa ini mengandung banyak keutamaan dan nilai spiritual yang sangat tinggi.
Sungguh menyedihkan, dalam suasana menyambut datangnya tahun baru Islam dengan sukacita tetapi dibarengi dengan kondisi umat yang masih terus ditimpa berbagai macam persoalan sehingga membuat nasib umat kedepannya semakin suram. Bisa dikatakan seluruh aspek kehidupan umat ditimpa masalah seperti dalam bidang ekonomi, pemerintahan, sosial, aqidah, akhlak dan lain sebagainya.
Tahun baru islam seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi bagi umat Islam. Menyadari, merenungi segala sesuatu yang membuat umat sampai detik ini terus ditimpa masalah dan berupaya untuk merubahnya dengan solusi yang hakiki. Peristiwa hijrah Rasulullah Saw seharusnya menjadi titik awal terwujudnya kemuliaan umat. Kemuliaan umat hanya bisa terwujud dengan persatuan di bawah naungan daulah khilafah seperti yang sudah pernah Rasulullah Saw contohkan dengan mendirikan negara Islam Madinah kemudian dilanjut oleh para sahabat.
Dengan bersatunya umat Islam di bawah naungan Daulah Islam, umat dapat hidup sejahtera di bawah aturan Allah, ajaran Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dengan begitu label sebagai umat terbaik akan kita rengkuh kembali.
Namun hari ini predikat sebagai umat terbaik tak nampak nyata dalam kehidupan. Umat Islam harus merenungkan kembali apa akar masalah dan berbagai kondisi buruk yang menimpanya sehingga umat Islam kehilangan kemuliaannya sebagai umat terbaik. Saat ini kondisi umat di posisi terburuk dan terpuruk nya. Umat terpuruk karena makin jauh dari aturan Allah.
Allah juga sudah menegaskan di dalam QS. Thaha: 124, bagi orang yang berpaling dari aturan Allah maka Allah akan membuat sempit kehidupannya dan pada hari kiamat akan dibangkitkan dalam keadaan buta. "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan akan Kami kumpulkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta".
Satu-satunya cara untuk meraih kembali kemuliaan adalah dengan kembali kepada aturan Allah dan menerapkannya dalam kehidupan secara kaffah. Umat disadarkan akan kebutuhannya pada Khilafah sebagai institusi yang akan menjadi junnah bagi ummat. Karena itu umat harus disadarkan hakekatnya sebagai muslim dan didorong untuk ikut memperjuangkannya. Penyadaran umat ini membutuhkan bimbingan dari jamaah dakwah ideologis yang tulus dan istiqamah berjuang di jalan Allah.
Wallahu a'lam bisshawab