| 12 Views
Ramadan dan Lebaran Rakyat Alami Krisis Keuangan
Foto: cover topik/Resesi Ekonomi_cover/Aristya Rahadian
Oleh: Rara Al-Haqqi
Kenaikan harga menjelang Lebaran dianggap suatu yang wajar. Akan tetapi, kenaikan harga yang fantastis dari Ramadan sampai Lebaran tentu hal yang luar biasa. Kemudian, kenaikan harga yang tidak tanggung-tanggung di tengah kehidupan masyarakat yang serba sulit membuat masyarakat semakin menderita. Alhasil, utanglah solusinya.
Sebagaimana pendapat dari ekonom (UPN) Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayah (ANH), “Fenomena tahunan itu menunjukkan rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia ketika bertemu dengan kenaikan harga, ongkos mobilitas, tekanan kurs, dan jaring pengaman sosial yang belum sepenuhnya tepat sasaran.”
Adapun masalah yang dihadapi bukan hanya satu atau dua komoditas atau layanan, melainkan penumpukan tekanan yang datang bersamaan. Meskipun pemerintah mengumumkan bansos, pasar murah, dan program diskon, seperti diskon transportasi menjelang mudik dan diskon 30% pada 29 ruas tol utama di Jawa dan Sumatera, seakan-akan kebijakan tampak progresif. Akan tetapi, bagi rakyat, bantuan tersebut tidak solutif karena bantuan hanya menolong bagi rakyat yang memiliki fleksibilitas waktu, saldo cukup, informasi memadai, dan kesempatan membeli pada hari tersebut. Maka, tidak heran jika banyak keluarga merasa memasuki lorong yang sempit dan gelap ketika Lebaran.
Ditambah inflasi tahunan pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen. Angka ini jauh di atas sasaran inflasi Bank Indonesia. Kemudian, nilai tukar (kurs) JISDOR pada 10 Maret 2026 mencapai Rp16.879 per dolar AS. Artinya, harga hidup sedang menanjak, sementara bantalan ekonomi rumah tangga justru menipis (inilah.com, 14 Maret 2026).
Rakyat Semakin Terhimpit
Rapuhnya kondisi keuangan masyarakat hari ini membuat mereka mudah terombang-ambing dengan kondisi global. Tidak ada kekuatan untuk bertahan hidup di segala kondisi. Kemudian, bantuan dari pemerintah pun tidak bisa memberikan solusi kepada seluruh rakyatnya. Ditambah tekanan harga barang yang terus meroket, sedangkan pendapatan tetap memaksa rakyat harus mencari pendapatan tambahan agar bisa memenuhi kebutuhan. Belum lagi, kebutuhan untuk menyambut tradisi Lebaran membuat masyarakat kelimpungan. Sebab, bagi masyarakat Indonesia, menyambut Lebaran dengan pernak-perniknya menjadi kewajiban. Alhasil, OJK menjadi rujukan. Seperti pinjol, multifinance, gadai, dan lain sebagainya laris manis diserbu masyarakat untuk mendapatkan uang.
Miris, kondisi perputaran ekonomi rakyat yang melemah, di mana tidak sebanding antara kenaikan harga dan tekanan kurs dengan upah masyarakat yang menurun. Kemudian, utang yang dianggap solusi dan mampu menyelesaikan masalah. Namun, kenyataannya utang ribawi hanyalah solusi jangka pendek, sedangkan untuk jangka panjangnya rakyat harus memikirkan dua hal, yaitu memenuhi kebutuhan pokok dan melunasi utang beserta bunganya. Maka, kehidupan rakyat hari ini ibarat “sudah jatuh tertimpa tangga”. Tidak ada utang dengan riba yang memberikan kesejahteraan, melainkan kesengsaraan.
Rutinitas inilah yang semakin memperburuk kondisi masyarakat. Ditambah peran pemerintah yang memberi tempat OJK untuk terus berkembang dan mencari nasabah. Sebab, pemerintah yang abai dan tidak maksimal dalam meriayah rakyat akan memperburuk kondisi ekonomi. Kemudian, adanya oligarki atau pengusaha yang menguasai pasar dan permainan harga membuat pemerintah bungkam dan tidak memiliki kedaulatan.
Inilah kehidupan dalam sistem kapitalisme liberal saat ini. Momen Ramadan dan Lebaran bukan fokus untuk beribadah, melainkan ajang menjulang keuntungan tanpa memedulikan kondisi rakyatnya. Rakyat hanyalah korban yang akan terus diperas untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Maka, tidak heran jika rakyat mengalami tekanan sosial dan beban ekonomi. Sebab, kehidupan di tengah-tengah masyarakat sudah tumbuh rasa hedonis dan merasa paling daripada yang lain. Oleh sebab itu, ketimpangan kesejahteraan di masyarakat sangat tampak dalam sistem sekarang.
Islam Memiliki Sistem Ekonomi dan Politik
Berbeda jauh momen Ramadan dan Lebaran di masa sistem Islam diterapkan. Rakyat bersuka cita untuk meraih ketakwaan, bukan ajang kekayaan. Sebab, kesejahteraan dalam sistem Islam adalah kewajiban yang harus dijamin negara untuk rakyatnya. Dengan demikian, negara akan berusaha menjaga dan membangun keseimbangan serta distribusi ekonomi agar merata di seluruh rakyat, bukan hanya oligarki. Kemudian, negara akan menggunakan mata uang dinar dan dirham sebagai alat tukar karena dengan demikian nilai mata uang akan stabil dan mampu menjaga harga barang.
Selain itu, negara akan menyediakan banyak lapangan pekerjaan yang layak untuk para laki-laki agar bisa memberikan nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga tidak ada celah bagi fasilitas utang ribawi tumbuh dan berkembang dalam sistem ini. Sebab, riba dilarang dalam syariat Islam. Sebagaimana disampaikan dalam hadis:
الربا ثلاث وسبعون بابا أيسرها مثل أن ينكح الرجل أمه
“Riba itu ada 73 pintu, yang paling ringan adalah seperti dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, no. 2274)
Itulah pentingnya peran negara. Negara tidak hanya menjaga rakyatnya agar selalu taat kepada Allah Swt., tetapi juga menjaga kekuatan negaranya dengan menyatukan sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam. Sebab, dibutuhkan kekuatan politik untuk melepaskan ketergantungan negara terhadap globalisasi dan liberalisasi perdagangan sehingga negara mampu menerapkan sistem ekonomi Islam untuk membangun dan menyejahterakan rakyatnya. Termasuk dalam momen Ramadan dan Lebaran, negara akan menjaga rakyatnya agar mewujudkan ketakwaan.
Wallahu a‘lam bissawab.