| 20 Views

Program Kosabangsa Tidak Semua Rakyat Sejahtera

Oleh: Rara Al-Haqqi 

Cepogo selain daerah yang memiliki pemandangan alam luar biasa. Cepogo juga terkenal dengan kerajinan tembaganya. Oleh sebab itu, banyak pihak-pihak yang tertarik untuk mengembangkan derah tersebut. Dengan harapan banyak wisatwan yang tertarik untuk mengunjungi daerah Boyolali.

Salah satunya, kegiatan soft launcing Desa Wisata Terintegrasi Cepogo, dimana Ketua Tim Pelaksana Dr. Dewi SPA mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian pengabdian program Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa (Kosabangsa) antara Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai tim pendamping dan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) sebagai pelaksana sejak Juli 2025. Dengan kegiatan sosialisasi kepada warga dan pelaku usaha dalam rangka pengembangan wisata terintegrasi. 

Menurut Dr. Dewi SPA, "Desa Cepogo merupakan sentra kerajinan tembaga yang sudah lama berdiri. Kemudian di sekitarnya terdapat banyak destinasi wisata yang sebenarnya bisa diintegrasikan. Jadi, sayang jika tidak dikembangkan, maka dapat dikembangkan melalui digitalisasi sesuai perkembangan zaman. Sehingga melalui web cepogo.com pengunjung bisa mengetahui destinasi lain seperti Cepogo Cheese Park, budidaya maggot, hingga Pasar Sayur Cepogo. Ke depannya akan ada pengembangan yang direncanakan hingga wilayah Selo,” (Espos.id, 20 Desember 2025).

Keuntungan Ditangan Pemilik Modal

Kemajuan teknologi tentu memiliki kelebihan dan kekurangan seperti dua mata pisau. Jika digunakan dengan baik maka akan memberi banyak manfaat tetapi sebaliknya jika hanya digunakan untuk keburukan maka akan mendatangkan kehancuran. Salah satunya adanya web untuk tempat destinasi wisata di Cepogo dengan harapan akan menarik dan mendatangkan banyak orang untuk berkunjung di daerah Cepogo dan memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar. 

Sayangnya, banyak tempat wisata baru yang ada di Cepogo bukanlah milik penduduk asli Cepogo. Mayoritas tempat wisata tersebut adalah milik para pemilik modal. Sedangkan masyarakat sekitar hanyalah pelengkap untuk membantu jalannya tempat wisata tersebut. Dengan kata lain, mengembangkan destinasi wisata di Cepogo sama saja mengembangkan usaha para pemilik modal, termasuk kerajinan tembaga yang digaungkan bukan untuk semua warga Cepogo. Begitu pula, Kosabangsa hanya menguntungkan pihak tertentu saja. 

Lagi-lagi nasib masyarakat sekitar bukanlah prioritas yang disejahterakan. Sebab sulit jika ingin memeratakan kesejahteraan tanpa ada peran dari negara. Dimana pihak individu atau swasta hanya bisa melakukan perubahan dan gerakan dalam skala kecil dan terbatas bukan global. Kemudian yang sering terjangkau dengan mudah adalah para perusahaan besar atau pemilik modal.

Kondisi ini tentu memprihatinkan nasib rakyatnya terabaikan dari peran negara. Dimana rakyat jelata tidak sejahtera karena tidak ada perubahan. Mereka harus berjuang dan berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka. Harapan manis pun yang dijanjikan hanya untuk segelintir orang. Maka nampak jelaslah tujuan dari pengembangan desa wisata. Inilah program dari sistem kapitalisme liberal. Mereka akan memberi tempat bagi para oligarki untuk mengembangkan usaha dan kepentingannya. Kebebasan sebebas bebasnya demi kuntungan yang didapat meski harus mengorbankan masyarakat sekitar dan alam yang indah. Para oligarki tidak akan peduli dengan kerusakan yang dibuatnya karena mereka hanyalah mengejar keuntungan yang didapat. Sistem ini pula yang membuat negara tidak melakukan tanggungjawabnya dengan penuh. Negara hanya bergerak jika ada keuntungan yang didapat, sedangkan kesejahteraan rakyatnya bukanlah prioritas.

Islam Membentuk Kehidupan yang Jelas

Miris hidup dalam sistem kapitalis liberal, tidak ada naungan yang pasti dan jaminan kesejahteraan. Berbeda jika dibandingkan dengan sistem Islam. Sistem yang memanusiakan manusia karena menerapkan aturan dari Sangpencipta manusia. Dimana di dalam sistem Islam tidak ada kepentingan untuk kesejahteraan individu. Sebab semua elemen kehidupan sudah ada aturannya di dalam Islam. Oleh sebab itu, kesejahteraan akan merata keseluruh lapisan masyarakat.

Begitu pula dalam berwisata pun tidak hanya oligarki yang diuntungkan tetapi seluruh masyarakat, sebab Islam mengatur dalam bermuamalah tidak hanya mendapatkan keuntungan tetapi juga pahala untuk di akhirat. Tujuan berwisata pun hanya untuk mengagumi dan memuji indahnya ciptaan Allah Swt. Selain itu, negara juga akan menjalankan amanahnya dengan maksimal, karena mereka paham betul dengan tugas dan pertanggungjawabannya di akhirat. Sehingga mereka akan mengatur perekonomian sesuai syariat Islam.

Kemudian para mahasiswa sebagai penerus bangsa tidak disibukkan dengan kepentingan-kepentingan oligarki tetapi mereka akan dibentuk dan dipersiapan untuk menjadi generasi bangsa yang unggul dan cemerlang. Sebab pendidikan dalam Islam adalah pendidikan yang terbaik dan menguatkan aqidah generasi penerusnya. Sehingga masa muda mereka tidak akan disia-siakan.

Jadi, hanya dengan penerapan sistem Islam seluruh elemen masyarakat berperan sesuai tugasnya masing-masing dengan maksimal dan hanya mengharap ridho Allah Swt bukan keuntungan atau kepentingan dunia semata. Termasuk dalam pengelolaan destinasi wisata dalam rangka memuji ciptaanNya.

Wallahu a'lam bissowab.


Share this article via

48 Shares

0 Comment