| 28 Views
Profil Agil Sulthon, Juara Cahaya Muda Indonesia 2026: Dakwah “Gen Z Banget” dari Sarolangun yang Menang dengan Keteguhan dan Hafalan
CendekiaPos - JAKARTA — Lampu studio menyala terang, kamera menyorot wajah seorang dai muda dari Sarolangun. Di depan penonton dan dewan juri, ia tidak hanya diminta “pandai bicara”. Ia diuji pada inti yang paling sunyi—hafalan Al-Qur’an. Saat Habib Nabiel Al Musawa meminta ia melafalkan Surat Al-Baqarah ayat 67–69, Agil Sulthon berdiri tenang dan melantunkannya dengan tartil. Momen itu menjadi salah satu titik yang membuat namanya melejit di Cahaya Muda Indonesia.
Beberapa pekan kemudian, namanya benar-benar dikunci sejarah acara itu: Agil Sulthon (dipanggil “Sulthon”) alumni dari Cinta Quran Center resmi menjadi Juara 1 Cahaya Muda Indonesia 2026, ajang pencarian bakat religi yang tayang di ekosistem iNews Media Group dan bisa diakses melalui RCTI+.
Dari Sarolangun ke panggung nasional
Di balik sorotan televisi, perjalanan Agil Sulthon ditulis dengan langkah panjang. Ia disebut merantau dari Sarolangun ke Jakarta untuk memperdalam ilmu agama—dengan tekad sederhana, tetapi mulia: ingin bermanfaat lewat dakwah dan ilmu yang dimilikinya.
Ia juga dikenal bukan sekadar piawai menyampaikan ceramah, tetapi punya ketangguhan mental—mampu tetap tenang saat diuji langsung di atas panggung.
“Islam selalu relevan, tinggal cara mengemasnya”
Yang membuat Agil cepat “nyambung” dengan penonton muda adalah cara ia memandang dakwah: bukan sekadar menyampaikan dalil, tetapi mengemas pesan agar relevan dengan bahasa zaman.
Dalam salah satu pernyataannya menjelang grand final, ia menegaskan bahwa ajaran Islam selalu lintas waktu—kuncinya terletak pada cara penyampaian.
“Semua materi Islam itu akan selalu relevan dari zaman ke zaman. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dan memberi analogi yang relate dengan zamannya.”
Boleh jadi inilah yang kemudian membuat banyak penonton menyebut gaya dakwahnya “Gen Z banget”—bukan karena mengubah Islamnya, tapi karena mengubah cara mendekatkan Islamnya.
Menang bukan karena merasa sempurna, tapi karena mau diperbaiki
Menjelang malam puncak, Agil mengaku tidak menyangka bisa melangkah sejauh itu—bahkan ia menyebut perasaannya deg-degan karena tinggal satu langkah lagi menuju final. Ia juga menekankan bahwa masukan dan kritik juri ia jadikan bahan untuk terus memperbaiki diri.
Baginya, tantangan bukan hanya para pesaing yang sama-sama berkembang, tapi juga dirinya sendiri—rasa “belum cukup baik” yang harus ditaklukkan dengan latihan dan pembenahan.
Malam grand final: diuji, dinilai, lalu dinobatkan
Malam puncak Cahaya Muda Indonesia 2026 digelar Sabtu, 14 Maret 2026, bertempat di Studio 15 MNC Studios, Kebon Jeruk, dan disiarkan live di iNews. Acara dipandu Ruben Onsu, dengan dewan juri Habib Nabiel Al Musawa, Ust. Abi Amir Faishol, dan Habib Muhamad Syahab.
Di malam itu, Agil Sulthon tampil sebagai pemenang: Juara 1, setelah dinilai berhasil membawakan materi menarik dan menjawab tantangan dari dewan juri.
Hadiah juara dan peta pemenang lainnya
Sebagai Juara 1, Sulthon (Agil Sulthon) menerima hadiah uang tunai Rp40 juta dan hadiah umrah. Dalam hasil akhir, Juara Terfavorit diraih Duo Z (Kampar), Juara 2 diraih Fadly (Bone), dan Juara 3 diraih Kecap (Jakarta).
Sekilas tentang Cahaya Muda Indonesia
Program ini disebut sebagai program pencarian bakat religi yang dibuat untuk mencari dai muda dari berbagai daerah yang mampu menebar cahaya Al-Qur’an. Peserta diuji bukan hanya kemampuan berceramah, tetapi juga pemahaman keislaman, kreativitas penyampaian, hingga ketangguhan mental saat menghadapi pertanyaan juri.
Kemenangan yang terasa “dekat”
Agil Sulthon menang bukan karena tampil paling bising, tapi karena tampil paling siap: hafalan kuat, mental tenang, dan pesan yang bisa diterima anak muda tanpa kehilangan substansi. Di saat banyak orang berbicara tentang generasi muda yang “jauh dari agama”, kemenangan Sulthon justru memberi narasi lain: anak muda bisa dekat—asal dakwahnya hadir dengan ilmu, adab, dan cara yang tepat.