| 255 Views

Pinjol Solusi Dana Pendidikan Ala Kapitalisme

Oleh : Ummu Sab'ah

Sungguh sangat miris ditengah kehidupan masyarakat yang semakin terpuruk dengan kehadiran pinjol, yang sering di jadikan solusi pragmatis ketika kesulitan ekonomi yang dialami oleh sebagian besar rakyat Indonesia, dan pinjolpun kini dianggap solusi dan sebagai kemajuan teknologi seperti yang dinyatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, menilai adopsi sistem pinjaman online (pinjol) melalui perusahaan P2P lending di lingkungan akademik adalah bentuk inovasi teknologi.tirto.id

Menurut dia, inovasi teknologi dalam pembiayaan kuliah melalui pinjol sebenarnya menjadi peluang bagus namun sering kali disalahgunakan.

"Pinjol memang sudah mengandung arti dan kesannya negatif, tetapi ini adalah sebuah inovasi teknologi. Akibat dari kita mengadopsi teknologi digital terutama, dan ini sebetulnya peluang bagus asal tidak disalahgunakan dan tidak digunakan untuk tujuan pendidikan yang tidak baik," ungkap Muhadjir dalam konferensi pers di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (3/7/2024).

Muhadjir menekankan bahwa pinjaman online ini tidak bisa disamakan dengan judi online yang memang ada pelarangan di atas hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sungguh cara berpikir yang sangat dangkal ketika beliau bisa mengatakan seperti itu, padahal beliau adalah ketua umum muhamadiyah yang setidaknya mengetahui hukum-hukum syariat, seolah-olah riba lebih baik daripada judi online. Tidak heran apabila masyarakat awam menjadikan pinjol sebagai solusi karena pemangku kebijakanpun beranggapan demikian. Apalagi pendidikan merupakan kebutuhan asasiah setiap individu, bukan sebagai kebutuhan tersier yang pernah di ungkapkan oleh pemerintah baru-baru ini seolah-olah dalam segala lini harus ada keuntungan atau jual beli antara rakyat dan penguasa karena ideologi yang dipakai adalah kapitalisme.

Pemerintah hanya menyediakan pendidikan bukan menjamin rakyatnya bisa mengenyam pendidikan secara keseluruhan setiap individu, mereka berlepas tangan karena pendidikan sekarang berorientasi pada orang-orang yang memiliki uang saja dan yang memiliki keterbatasan cukuplah dengan pinjol solusinya, yang sejatinya hanya menambah masalah.

Berbeda dengan Islam yang yang berpatokan atau berlandaskan pada syariat dan meneladani Rasulullah Saw dalam mengambil solusi tuntas atas semua permasalahan terlebih dalam bidang pendidikan, dalam sirah Rasulullah pernah punya tahanan perang orang Qurais yang akan dibebaskan dengan syarat mengajari 10 orang kaum muslimin pada saat itu.

Dan Rasulullah mewajibkan kaum muslimin untuk senantiasa belajar seperti hadist "tuntutlah ilmu walau sampai negeri China, belajarlah dari buaian sampai liang lahat, dan lain sebagainya" selain dari itu negara hadir untuk menggratiskan pendidikan karena mengacu pada hadits riwayat Al- Bukhari Muslim "Imam (Kholifah) adalah ra'in pengurus rakyat yang akan dipertanyakan tentang pengurusannya".

Maka negara tidak akan membiarkan rakyatnya kesusahan apalagi untuk mencari pinjaman demi pendidikan dan negara akan memposisikan teknologi sebagai sarana untuk mempermudah kehidupan dan menambah ketaatan pada Allah Swt, bukan sebaliknya mempersulit dan menambah beban rakyat dengan pinjol dan judol.

Dengan mekanisme seperti itu rakyat akan meningkat tarap berpikirnya dan dapat menghasilkan generasi cemerlang bukan hanya paham agama tapi menguasai ilmu dan teknologi, negara akan cepat berkembang dan akan menjadi negara adidaya seperti yang pernah dituliskan tinta emas sejarah peradaban Islam yang menguasai dua pertiga dunia yang menerapkan Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan itu semua bisa terwujud hanya dalam sistem shohih yaitu Islam dalam naungan daulah khilafah Islamiyah.
Sebagai seorang muslim yang menyakini bisyarah Rosulullah Saw, tidak sepatutnya kita terlena dan menikmati semua kesulitan dan kedzaliman yang semakin nampak akibat dari tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah, mari berjuang bersama memahamkan diri juga mencerdaskan umat untuk segera bangkit dari semua keterpurukan ini, agar kembali menyongsong kemuliaan dalam hidup yang rahmatan lil 'alamiin dalam bingkai daulah khilafah Islamiyah.

Wallahu alam bissawab


Share this article via

159 Shares

0 Comment