| 8 Views
Pelajaran Penting Perang AS-Iran, Kesatuan Negeri-Negeri Islam Mampu Mengalahkan Hegemoni Global
Oleh : Alfira Khairunnisa
Pengamat Politik/Aktivis IDARI-Ikatan Daiyah Riau
Kondisi Perpolitikan Global Pasca Perang AS-Israel vs Iran kian menegangkan. AS-Israel gagal meraih kemenangan telak meski unggul teknologi dan dana. Iran tetap bertahan, bahkan mampu membalas ke pangkalan AS di Qatar, Irak, dan wilayah Israel. Gencatan senjata terjadi karena tekanan global, bukan karena Iran menyerah.
Negara-negara yang dulu takut pada AS mulai berani uji batas. Arab Saudi lanjut dekati China, Turki makin agresif di Mediterania Timur. Israel kehilangan aura superior. Iron Dome terbukti bisa jebol. Keamanan domestik Israel goyah, migrasi keluar meningkat, dan tekanan politik dalam negeri ke Netanyahu menguat.
Ketegangan AS-Iran beberapa waktu terakhir membuka mata dunia pada 4 realitas penting:
Pertama: AS-Israel tak mudah mengalahkan Iran. Meski dikeroyok sanksi ekonomi, embargo teknologi, dan gertakan militer selama puluhan tahun, Iran tetap berdiri. Serangan balasan Iran ke pangkalan AS dan ke wilayah Israel membuktikan bahwa “satu negeri muslim” saja sudah merepotkan dua kekuatan yang digadang-gadang tak terkalahkan.
Kedua: AS gagal memaksa sekutu terlibat langsung. Ketika eskalasi memanas, Washington tidak mampu menyeret NATO atau negara-negara Arab sekutunya untuk ikut perang terbuka melawan Iran. Dukungan hanya sebatas retorika dan logistik, bukan pengerahan pasukan.
Ketiga: Beberapa penguasa muslim justru bersekutu dengan AS. Alih-alih membela Iran sebagai sesama negeri muslim, ada penguasa Arab yang membuka wilayah udara, pangkalan militer, bahkan sistem intelijennya untuk kepentingan AS-Israel. Normalisasi dengan Israel juga terus berjalan di tengah konflik.
Keempat: Iran ajukan 10 poin syarat gencatan senjata. Bukan AS yang mendikte, tapi Iran yang berani menyodorkan syarat: mulai dari pencabutan sanksi, jaminan tidak diserang lagi, hingga penghentian dukungan AS ke Israel. Ini preseden langka dalam diplomasi dengan negara adidaya.
Membedah Mitos Adidaya dan Penyakit Umat
Mitos kehebatan AS-Israel runtuh. Dunia telanjur mencitrakan AS-Israel sebagai tak terkalahkan. Perang dengan Iran membuktikan sebaliknya. AS berpikir ribuan kali untuk invasi darat karena tahu biayanya mahal secara militer, politik, dan ekonomi. Israel yang punya _Iron Dome_ pun kelimpungan menghadapi hujan rudal balistik dan drone.
Keberanian Iran melawan membongkar fakta, adidaya juga bisa berdarah. Mereka kuat karena umat Islam terpecah, bukan karena mereka tak bisa dikalahkan.
Aliansi internasional bersifat transaksional. Tidak ada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi. AS gagal menggerakkan sekutunya karena Eropa pusing dengan krisis energi, Arab Teluk takut kilang minyaknya jadi sasaran, dan Turki punya agenda sendiri. Ini hukum politik global: negara kapitalis hanya bergerak jika ada untung materi.
Ketika risiko lebih besar dari manfaat, mereka mundur. Maka hegemoni AS sebenarnya rapuh, ditopang kepentingan yang mudah retak.
Disamping itu, pengkhianatan penguasa muslim melemahkan umat. Inilah faktor kunci mengapa Iran harus melawan sendirian. Seharusnya 57 negeri muslim dengan 2 miliar penduduk, SDA melimpah, dan letak geografis strategis bisa membuat AS berpikir ulang sebelum menggertak.
Tapi karena penguasa muslim berpecah dan sebagian jadi kaki tangan AS-Israel, kekuatan umat netral. Mereka lebih setia pada kursi dan _petrodollar_ daripada pada ukhuwah Islam. Perpecahan ini yang dijaga Barat sejak runtuhnya Khilafah 1924.
Potensi kesatuan muslim kekuatan global baru. Coba bayangkan jika saat Iran diserang, Pakistan tutup jalur logistik AS di Afghanistan, Turki tutup Selat Bosphorus untuk kapal perang NATO, Mesir tutup Terusan Suez, Indonesia-Malaysia embargo CPO ke AS-Israel, Saudi setop pasokan minyak, dan seluruh negeri muslim memboikot dolar. AS-Israel lumpuh tanpa satu peluru pun.
Artinya, potensi umat untuk jadi adidaya baru itu nyata. Yang hilang hanya satu: kesatuan politik.
Jalan Mewujudkan Kekuatan Penakluk Hegemoni
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kekuatan penakluk hegemobi
Pertama: Membangun kesadaran. Kesatuan umat itu urgen, bukan utopis. Umat harus disadarkan bahwa terpecah-belah dalam nation-state adalah desain penjajah agar mudah dikontrol. Perang AS-Iran jadi case study hidup: satu negeri saja merepotkan, apalagi jika 57 negeri bersatu.
Kesadaran ini wajib dibangun lewat dakwah, kurikulum pendidikan, dan opini umum. Ukurannya bukan “nasionalisme”, tapi ukhuwwah islamiyah dan wihdatul ummah.
Kedua: Kesatuan harus diikat institusi: Khilafah Islam. Persatuan tanpa struktur komando hanya jadi buih.
Sejarah membuktikan, 13 abad umat disegani dunia karena punya satu kepemimpinan politik: Khilafah. Khilafah menyatukan potensi militer, SDA, dan SDM 2 miliar muslim dalam satu visi.
Dengan komando tunggal, Khilafah mampu mengimbangi bahkan mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. AS paham ini, karena itu mereka paling keras menolak ide Khilafah bangkit kembali.
Khilafah sebagai pembebas negeri muslim terjajah. Hari ini Palestina dijajah, Kashmir dibantai, Rohingya diusir, Xinjiang ditekan, negeri-negeri Afrika dihisap SDA-nya. Semua karena tidak ada perisai.
Khilafah berfungsi sebagai junnah - perisai, yang wajib mengerahkan tentara untuk membebaskan setiap jengkal tanah muslim yang terjajah. Bukan dengan kecaman KTT atau donasi, tapi dengan kekuatan negara yang riil.
Ketiga: Dakwah dan jihad. Khilafah tidak berhenti pada membebaskan negeri muslim. Visi politik luar negerinya adalah dakwah dan jihad: menyebarkan Islam ke seluruh dunia agar manusia keluar dari penghambaan ke sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah.
Jihad dalam Islam bukan penjajahan, tapi membebaskan manusia dari sistem zalim kapitalisme-sekularisme menuju keadilan Islam. Inilah rahmatan lil ‘alamin yang hakiki. Hegemoni global yang eksploitatif diganti dengan kepemimpinan Islam yang memakmurkan.
Perang AS-Iran memberi pelajaran telak: adidaya tidak sehebat mitosnya, dan umat Islam tidak selemah yang dikira, jika bersatu. Pengkhianatan penguasa adalah belenggu yang harus diputus. Solusinya bukan menambah nation-state, tapi melebur dalam satu Khilafah Islam.
Hanya dengan itu penderitaan Palestina, ancaman terhadap Iran, dan penjajahan gaya baru atas seluruh dunia Islam bisa diakhiri. Dari sana, dunia akan melihat lahirnya kekuatan global baru yang membawa rahmat, bukan hegemoni.
Wallahu'alambishoab