| 48 Views

Palestina: Mengakhiri Mata Rantai Penderitaan dengan Persatuan Hakiki

Oleh: Fatimah NJL

Pendidik dan Aktivis Dakwah

Dunia hari ini seolah terbiasa melihat darah tumpah di tanah Palestina. Setiap hari, kabar duka selalu menghampiri pemberitaan kita: serangan udara, tangis yatim piatu, hingga perampasan rumah warga yang dilakukan secara sistematis oleh rezim Israel. Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah: sampai kapan penderitaan ini akan berlangsung? Mengapa resolusi PBB tak pernah mampu menghentikan kebrutalan ini?

Akar masalah utamanya adalah keberadaan rezim penjajah. Secara faktual, serangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh rezim Israel bukan sekadar insiden keamanan, melainkan bagian dari rencana besar pencaplokan wilayah. Kebijakan keji yang melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina menjadi bukti bahwa ada upaya memutus urat nadi kehidupan rakyat Palestina secara total.

Secara analitis, penderitaan ini niscaya akan terus berlangsung selama entitas penjajah tetap eksis di atas tanah rampasan. Sejarah mencatat bahwa cita-cita "Israel Raya" adalah ambisi teologis dan politis mereka untuk menguasai ekonomi-politik dunia. Maka, membiarkan status quo ini bertahan sama saja dengan membiarkan rakyat Palestina terperangkap dalam penjajahan abadi. Sebagaimana firman Allah SWT mengenai karakter kaum yang melampaui batas: “Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217).

Selama ini, solusi yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya terbukti hanya memosisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam. Diplomasi "dua negara" (Two-State Solution) hanyalah fatamorgana yang justru memberikan waktu bagi Israel untuk memperluas pemukiman ilegal. Menjadi fakta yang tidak bisa dibantah lagi, bahwa mengutuk atau memohon belas kasihan agar mereka membuka bantuan kemanusiaan terbukti sia-sia. Diplomasi tanpa kekuatan militer yang nyata hanyalah retorika kosong di hadapan agresor yang hanya tunduk pada kekuatan.

Jalan keluarnya hanya satu, yaitu dengan menjadikan sebuah institusi negara yang menerapkan Islam sebagai perisai (Junnah). Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan yang cukup diselesaikan dengan donasi. Palestina adalah tanah milik umat Islam—tanah wakaf yang tidak boleh diserahkan sejengkal pun kepada penjajah. Maka, solusi hakikinya adalah menghentikan sikap abai sebagian penguasa Muslim dan membangkitkan kesadaran umat untuk bersatu.

Umat Islam harus menyadari bahwa penderitaan ini hanya akan berakhir jika ada negara adidaya yang menjadi pelindung. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu merupakan perisai (junnah), orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim). Tanpa institusi politik global yang menyatukan kekuatan militer dan ekonomi kaum Muslimin, perjuangan Palestina akan terus pincang dan terisolasi.

Pada akhirnya, upaya kita untuk mendorong dan menguatkan perjuangan menegakkan kembali institusi Khilafah di tengah umat adalah langkah strategis yang tidak bisa ditawar lagi. Palestina membutuhkan lebih dari sekadar air mata, ia membutuhkan komitmen politik yang berani di bawah naungan kepemimpinan Islam yang tangguh. Hanya dengan kekuatan yang nyata, tanah suci para Nabi ini akan kembali ke pelukan Islam, dan kedamaian sejati akan terwujud bagi seluruh dunia.


Share this article via

50 Shares

0 Comment