| 42 Views
Normalisasi yang Menyesakkan
Oleh : Ummu Tazkia
Muslimah Bogor
Setiap kali berita tentang Palestina muncul, perasaan ini selalu saja berat. Sudah berbulan-bulan Gaza mengalami serangan tanpa henti, tetapi dunia justru memperlihatkan langkah yang tidak menggambarkan kepedulian yang nyata.
Turki mengumumkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan 36 pejabat Israel lainnya, namun di waktu yang hampir bersamaan Kazakhstan malah membuka hubungan baru dengan Israel melalui Abraham Accords (Antara News, 8 November 2025). Perpaduan sikap seperti ini membuat banyak orang bingung, karena yang satu terlihat tegas, sementara yang lain justru semakin merangkul Israel.
Jika diperhatikan lebih dalam, normalisasi yang dilakukan berbagai negara bukanlah langkah yang berdiri sendiri. Ada dorongan kuat dari Amerika Serikat yang sejak awal berusaha melegitimasi keberadaan Israel melalui kerja sama politik dan ekonomi. Dengan cara ini, penjajahan yang dilakukan Israel seolah berubah menjadi hubungan internasional yang sah. Negara-negara Muslim pun terlihat tidak mampu keluar dari tekanan ini. Sikap mereka terbatas pada kecaman verbal yang tidak berpengaruh pada kondisi nyata di lapangan.
Padahal Islam memiliki pandangan yang sangat jelas mengenai persaudaraan umat. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS Al-Hujurat ayat 10).
Artinya, penderitaan di Palestina seharusnya dipandang sebagai penderitaan umat Islam seluruhnya. Namun ketika keputusan politik masih terpaku pada batas negara dan kepentingan nasional masing-masing, rasa persaudaraan itu menjadi lemah. Gaza akhirnya tetap sendiri dalam menghadapi agresi Israel yang semakin brutal. Bahkan ketika berbagai pihak menyampaikan kecaman dan keberatan, langkah-langkah itu tetap tidak mengubah kenyataan bahwa Israel terus melanjutkan penyerangannya (Antara News, 8 November 2025).
Penguasa negeri-negeri Muslim juga terlihat tidak mampu keluar dari pola lama. Mereka mengecam, mengadakan pertemuan diplomatik, atau mengirim bantuan kemanusiaan, tetapi tidak memberikan langkah yang menghentikan agresi. Sikap seperti ini menandakan bahwa keputusan politik masih sangat dipengaruhi oleh kepentingan Barat. Selama ini terjadi, penjajahan Israel akan tetap berjalan, meskipun bentuknya berubah dari serangan langsung menjadi normalisasi dan perjanjian kerja sama.
Rasulullah SAW juga memberikan gambaran sangat penting tentang kedudukan pemimpin dalam melindungi umat. Beliau bersabda, “Imam adalah perisai bagi umat, di belakangnya mereka berperang dan berlindung” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjelaskan bahwa perlindungan nyata terhadap rakyat hanya bisa dilakukan oleh sebuah kekuatan politik yang menyatu. Inilah yang tidak dimiliki umat Islam hari ini. Masing-masing negara berjalan dengan arah dan kepentingannya sendiri, sehingga tidak mampu melawan kekuatan besar yang mendukung Israel.
Karena itu, solusi bagi Gaza tidak cukup berhenti pada diplomasi, kecaman, atau normalisasi. Islam memberikan jalan yang lebih menyeluruh, yaitu jihad yang dipimpin oleh negara yang menyatukan kaum Muslim, yaitu Khilafah. Dengan Khilafah sebagai junnah, umat memiliki kekuatan untuk menghentikan penjajahan sampai akar-akarnya. Untuk mewujudkan itu, umat harus kembali menyadari pentingnya mengikuti metode perjuangan Rasulullah SAW dalam membangun kekuatan Islam, agar Palestina tidak terus menjadi korban politik internasional yang tidak adil.