| 40 Views

Momentum Haji, Momen Pemersatu Kaum Muslim yang Terabaikan

Oleh : Putri
Pegawai Swasta

Ibadah haji merupakan sebuah panggilan suci dari Allah bagi setiap muslim yang mampu. Dalam QS Ali Imran ayat 97, Allah berfirman: ‘Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah berhaji ke Baitullah, bagi yang mampu menempuh perjalanan ke sana.’ Lebih dari sekadar kewajiban, Rasulullah saw. menjanjikan bahwa ‘tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga’ (HR. Bukhari-Muslim). Setiap tahun, jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia bersatu di Tanah Suci, melampaui batas negara, bahasa, dan budaya. Seluruhnya disatukan oleh akidah dan niat yang sama, yaitu Islam dan ibadah kepada Allah.
Namun, jika haji adalah simbol persatuan umat, mengapa kekuatan ini belum terwujud dalam membela saudara-saudara muslim yang tertindas?

Seperti Kapas, Tidak Berpengaruh Meski Banyak!
Bila diperhitungkan dan ditimbang lebih jauh, jumlah kaum muslim yang melaksanakan haji tidak sedikit, belum lagi ditambah jumlah kaum muslim yang tidak sedang melaksanakan haji. Sayangnya, jumlah ini tidak memberikan dampak apapun bagi tantanan pengaturan secara global mendunia, bahkan tidak mampu menolong saudaranya sendiri. Contohnya seperti di Palestina yang masih dijajah atau umat muslim Rohingya yang terusir.

Momen haji kerap menjadi ajang yang dinilai sebagai momen ibadah pribadi karena menjadi berhasil menjadi tamu Allah di rumah-Nya. Padahal, Rasulullah dan para sahabat menjadikan momen haji sebagai momen untuk saling menyampaikan kesempurnaan Islam dan membangun relasi kokoh demi menjadikan Islam rahmat bagi alam semesta, tidak terbatas pada untuk pemeluknya. 

Kita melihat standar kehidupan dunia kini ditentukan oleh kekuatan non-muslim, sementara negara-negara mayoritas muslim justru mengikuti kebijakan yang bertentangan dengan prinsip Islam. Contoh nyata adalah penerimaan solusi dua negara untuk Palestina-Israel, padahal solusi ini jelas mengabaikan kezaliman Israel yang memerangi secara membabi buta.

Persatuan dan Kesatuan: Tidak Akan Terwujud Tanpa Khilafah
Momen haji tidak bisa dioptimalkan sebaik mungkin dalam rangka membina persatuan apabila sistem yang diterapkan masih sistem selain Islam, sebab visi peradaban saat ini tidak akan sama dengan visi peradaban yang dimiliki oleh Islam. Terlebih lagi, umat saat ini sudah kabur dengan visi peradaban Islam yang pada akhirnya membatasi kaum muslim hanya pada shalat dan puasa.

Momen kebersatuan haji ini terlaksana begitu cepat dan tidak mengikat. Tidak ada agenda jelas untuk masa depan umat Islam. Hal ini terjadi akibat visi yang sudah kabur dan dikaburkan, baik itu oleh kelemahan internal umat Islam maupun permusuhan eksternal. Umat kembali tercerai dan saling bermusuhan setelah ibadah haji, menganggap semua yang  terjadi dari momen haji atau Idul Adha hanyalah terbatas pada ritual formal belaka.

Yang lebih memprihatinkan, umat Islam hingga kini belum memiliki institusi pemersatu yang dapat diandalkan, sebuah kepemimpinan global yang mampu menegakkan keadilan berdasarkan hukum Ilahi. Absennya kepemimpinan seperti ini membuat kita terus terjebak dalam sistem dunia yang menindas, di mana keserakahan manusia mengalahkan aturan Tuhan.

Maka, sudah waktunya umat Islam memaknai ibadah haji bukan sekadar ritual individu, melainkan momentum untuk mewujudkan persatuan sejati. Namun, persatuan hakiki mustahil terwujud tanpa adanya institusi politik yang mempersatukan seluruh kaum muslimin di bawah satu kepemimpinan – yakni Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, sistem pemerintahan global yang telah dinubuwahkan oleh Rasulullah ﷺ.


Share this article via

62 Shares

0 Comment