| 39 Views

Merusak Alam, Rakyat Tenggelam

Oleh: S. Widiyastuti

Muslimah Karawang

Sumatra berduka, Setelah di guyur hujan lebat dan cuaca ekstrem melanda wilayah Sumatra.

Awal kejadian Jum'at  28 November 2025 akhirnya dari kejadian itu ada 3 provinsi di Pulau tersebut yang terkena banjir besar dan tanah longsor yaitu Aceh, Sumatra Barat dan Sumatra Utara. 

Banjir tersebut menengelamkan beberapa desa, menghancurkan ribuan rumah penduduk, banyak tanah dan lumpur yang masuk ke rumah-rumah mereka serta menghabiskan lahan perkebunan dan binatang ternak. 

Hingga saat ini masih banyak korban masyarakat yang tinggal di pengungsian. 
Rumah-rumah mereka rusak berat serta banyak akses jalan yang rusak dan terputus. 

Diperkirakan korban meninggal sudah mencapai 969 orang, 252 orang masih dinyatakan hilang. (11 Desember 2025 CAKAPLAH. com) 

Hujan lebat yang melanda beberapa wilayah adanya iklim ekstrem. Dipicu oleh hujan ekstrem adanya siklon tropis Senyar dan Koto yang terjadi di selat Malaka. 

Akibatnya beberapa terdampak curah hujan yang tinggi. 

Namun untuk wilayah Sumatra ini hujan tropis merubah menjadi bencana banjir dan tanah longsor. Ternyata utuk hutan wilayah Sumatra sudah mengalami kerusakan. 

Hutan yang berfungsi sebagai penyaring ketika hujan lebat, nyatanya sudah beralih fungsi. Banyak penebangan hutan secara besar-besaran, mengakibatkan ke gundulan serta merusak ekosistem alam. 

Banjir dan tanah longsor di Sumatra ini akhirnya menjadi sorotan oleh para masyarakat. Banyak yang menduga karena deforestasi pembabatan hutan secara besar-besaran menyebabkan kerusakan. 

Banyak juga ijin usaha pemerintah yang diberikan untuk kegiatan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang diberikan ke pihak swasta. Serta ada sektor perkebunan, sawit, pertambangan yang akhirnya merusak alam serta lingkungan. 

Hingga saat ini, masih banyak wilayah yang terdampak banjir tersebut masih dalam kerusakan. Pasalnya dalam banjir tersebut bukan hanya air yang turun dari lereng bukit, melainkan glondongan kayu dan tanah lumpur yang menerjang rumah-rumah masyarakat. Harta benda tak bisa diselamatkan. 

Dari kejadian itu bisa dilihat sejatinya hutan yang ada memang sudah benar-benar rusak, dikeruk hasil alam nya untuk kepentingan segelintir orang yang punya kuasa dan punya duit. 

Namun kita sebagai seorang muslim hendaknya selalu sabar dan ikhlas menerima ujian dan musibah ini

Semua yang terjadi ini sudah pasti atas ijin dari Allah SWT. Didalam firman yang " Katakanlah (Nabi Muhammad), " Tidak akan menimpa kami melain kan apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. dialah pelindung kami. Karena itu hanya kepada Allah hendaknya kaum Mukmin bertawakal"(TQS at-Taubah. 9 :51). 

Jelaslah bahwa banjir dan tanah longsor di Sumatera bukan semata-mata hujan besar, namun kerusakan alam yang sudah parah. Dari adanya kebijakan pemerintah yang kurang memperhatikan keamanan lingkungan. 

Ketika pemerintah memberi ijin pembukaan hutan utuk diambil hasil alamnya secara besar-besaran maka kerusakan itu tidak bisa di hindari. Akhirnya merugikan masyarakat. 

Padahal jelas dalam pandangan syariat Islam, bahwasanya tambang dan hutan itu milik umum. Yang berarti haram di kuasa swasta atau Oranng-orang yang berkuasa dan berduit. 

Di tegaskan oleh sabda Rasulullah SAW "Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal;air, apir dan rumput". (HR.Ibnu Majah) 

Sedangkan kondisi saat ini pengelolaan sumber daya alam di serahkan ke pihak swasta dan asing. Pemerintah hanya sebagai pengontrol saja. 

Tentu ini membuat dampak buruk bagi lingkungan. 
Pasalnya masyarakat jika tidak beriman dan bertaqwa dia akan menjadi masyarakat yang rakus dan serakah. 

Sedangkan dalam tatanan SyariatNya sumber daya alam itu harus dikelola negara tetapi hasilnya untuk kesejahteraan bersama. 

Tidak diperbolehkan membuka hutan hanya untuk mengeruk hasil alam dan membuka pertambangan. 

SyariatNya juga akan menindak orang-orang yang secara serampangan membuka hutan atau lahan yang merugikan lingkungan. 

Sudah sepatutnya dari kejadian di Sumatera itu menjadi pelajaran bagi pemerintah, agar tidak sesukanya mengambil hasil alam dan meninggalkan kerusakan. 

Begitu pun juga buat para penguasa negeri ini sadar bahwasanya tidakan penggundulan hutan itu benar-benar merugikan dan dapat mengundang bencana. 

Mari berbenah, menerapkan aturan hidup dari Allah SWT, sehingga hidup benar-benar aman, sejahtera serta alam pun damai. 

Wallahu alam bhishowa


Share this article via

48 Shares

0 Comment