| 41 Views
Menyambut Perayaan Maulid Nabi dengan Ketundukan Pada Syari'at
Oleh: Essy Rosaline Suhendi
Dalam perayaan maulid 1447 H, Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Barat, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, menyeru kepada seluruh umat Islam, supaya menjadikan nabi Muhammad Saw sebagai teladan untuk mewujudkan kelestarian bumi dan negeri. Tema ini menekankan, posisi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Ta'ala, semestinya memprioritaskan amanah dalam merawat bumi dan senantiasa menjaga negeri dalam keberkahan (www.almuhajirin.co.id, 05/09/25).
Tentulah seluruh umat Islam merasa tersentuh hatinya, mengingat kisah hidup Rasulullah Saw yang mengandung banyak hikmah pelajaran dan sebagai umatnya kita pun selalu berusaha untuk meneladani apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam Sunnah nya. Namun sayangnya, saat ini negeri-negeri muslim hidup dalam bayang-bayang sistem sekuler, sistem yang memisahkan agama dengan kehidupan, sehingga seorang muslim tidak mampu menjalani seluruh amal perbuatan nya sesuai tuntunan wahyu, sebab sekulerisme menjadikan agama hanya dipakai sebagai ibadah ritual belaka.
Sekularisme Merusak Kehidupan Manusia
Wajar saja, jika perayaan maulid tidak membekas pada ketaatan, karena sekularisme hanya mengedepankan narasi-narasi indah untuk melestarikan bumi dan cukup mengajak taat hanya pada perorangan bukan dalam lingkup strategis berupa institusi negara. Padahal, jika negara turut berperan dalam menjaga kelestarian bumi, semisal negara membuat aturan dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dengan menutup pabrik rokok atau menutup akses pengelolaan SDA secara ugal-ugalan, dampaknya pasti akan lebih besar untuk menjaga kelestarian alam.
Selain itu, sekularisme juga menghalangi umat Islam untuk dapat meneladani Rasulullah Saw secara totalitas, karena aturan yang diterapkan dalam sistem ini, adalah aturan buatan manusia yang berasaskan keuntungan dan kepentingan. Hal tersebut menyebabkan umat Islam memilih syariatnya ibarat prasmanan, yang suka diambil dan yang tidak akan dicampakkan.
Seharusnya manusia menyadari, bahwa manusia adalah makhluk lemah dan terbatas, aturannya pun hanya berdasarkan hawa nafsu dan prasangka. Akhirnya, dampak buruk sistem sekuler bukan hanya berimbas pasa rusaknya bumi, akan tetapi juga melahirkan manusia-manusia yang tidak amanah, akibat mengambil teladan yang salah juga menyesatkan dalam menjalani kehidupan dan membuat aturan.
Cintai Nabi, Taati Syariat Nya
Seyogyanya, momen perayaan maulid nabi haruslah memiliki esensi yang jelas dan hakiki. Umat Islam tidak sekadar mengetahui kisah kelahiran Nabi Muhammad Saw, juga perjalanan dan perjuangan dakwah Rasulullah Saw, akan tetapi juga menjadikan beliau Saw sebagai teladan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.
Rasulullah Saw adalah sosok yang begitu mulia dan semangatnya tak pernah padam dalam menyampaikan risalah Islam. Ketika Rasulullah diutus sebagai Rasul di Mekkah, beliau Saw menerima berbagai macam siksaan fisik dan psikis dari para petinggi Quraisy yang membenci dan menolak risalah Islam, tapi beliau tetap menyampaikan kebenaran Islam dan berpegang teguh kepada agamanya. Hingga akhirnya Allah Swt. memberi pertolongan berupa tegaknya negara Islam di Madinah. Sejak saat itu, Rasulullah Saw menjadi pemimpin negara Islam dan menerapkan aturan Islam dengan menjadikan aqidah Islam sebagai dasar di seluruh aspek kehidupan.
Sepeninggalan Rasulullah Saw., kepemimpinan Islam berlanjut ditangan Khulafaur Rasyidin, hingga berakhir di masa Kekhalifahan Turki Usmani. Saat itu, Islam terbukti mampu bertahan selama 14 abad lamanya dan sejarah pun menjadi saksi, bahwa Islam adalah agama sekaligus ideologi negara yang mewujudkan peradaban mulia, melahirkan para ulama dan ilmuwan Islam yang jasanya kini dapat kita rasakan.
Khilafah, Wujudkan Islam Kaffah
Ketika Islam diterapkan secara sempurna dalam kehidupan, maka Islam akan menjadi solusi yang dapat menyelamatkan manusia dari kehidupan jahiliah yang gelap gulita menuju cahaya Islam yang aman sentausa. Untuk itulah, seluruh pemimpin negeri-negeri muslim wajib meneladani Rasulullah Saw sebagai seorang kepala negara, demi terciptanya aturan adil dan sesuai dengan fitrah penciptaan manusia.
Allah Swt berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.(QS.Adz-Dzariyat:56)
Ayat diatas menunjukan, bahwa manusia harus menjalani ibadah tidak hanya habluminallah atau ibadah mahdhah saja, tapi juga mencakup habluminnanas dan habluminnanafsi. Untuk itulah, Islam harus diterapkan secara paripurna dalam seluruh aspek kehidupan, semisal dalam aspek ekonomi, hukum, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, dan politik harus menjadikan aqidah Islam sebagai dasar.
Dengan demikian, demi merealisasikan tegaknya syariat Islam secara menyeluruh, maka umat Islam harus bersatu dalam satu pemahaman, perasaan, dan menginginkan satu peraturan yang sama yakni syariat Islam. Kaum muslim juga wajib saling mendukung dalam kebaikan dan memiliki tujuan yang satu yaitu melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah Saw dan menjemput bisyarah beliau Saw yang menjanjikan bahwa khilafah ala minhaj kenabian yang kedua akan berdiri kembali.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar)
Wallahu'alam Bishowab