| 40 Views
Menjadikan Kelaparan Sebagai Alat Genosida: Bukti Zionis Lemah dan Pengecut
Oleh: Huda Reema Naayla
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Setelah ribuan misil diluncurkan, ratusan pertemuan dilangsungkan oleh organisasi dunia guna membantu menyelesaikan permasalahan terkait konflik Israel-Palestina, nyatanya sampai hari ini pun permasalahan ini tidak juga usai. Hal tersebut didukung dengan banyaknya pelanggaran yang dilakukan Zionis Yahudi pada saat gencatan senjata berlangsung.
Banyak bantuan kemanusiaan yang ditujukan untuk warga Gaza cenderung diberhentikan di tengah jalan agar tidak bisa memasuki wilayah Palestina. Pada akhirnya Zionis menjadikan kelaparan sebagai alat untuk genosida. Mengapa demikian? Bagaimana para penguasa menyikapi hal ini? Apa Solusi sebenarnya yang mampu menyelesaikan konflik ini?
Dikutip dari news.republika.co.id, (17/5/2025), Pejabat senior Hamas, Basem Naim mengaku mendapatkan janji langsung dari utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff bahwa dua hari setelah sandera Edan Alexander dilepas, AS akan mewajibkan Israel untuk membuka blokade bantuan kemanusiaan masuk Gaza. Witkoff, menurut Basem, juga menjanjikan, Presiden Donald Trump juga akan membuat pernyataan resmi terkait gencatan senjata segera di Gaza dan negosiasi demi tercapainya sebuah 'gencatan senjata permanen'.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya, jumlah warga Palestina sekitar 53.272 jiwa meninggal dunia dalam perang genosida yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023. Begitu juga, 153 orang tewas dalam serangan Israel di daerah kantong tersebut dalam 24 jam terakhir, sementara 459 orang lainnya terluka, sehingga jumlah korban luka mencapai 120.673 orang. Dengan menjadikan kelaparan sebagai alat genosida tentu jumlah yang meninggal diperkirakan akan terus bertambah lagi (kbknews.id, 17/5/2025).
Bila diawal Zionis menyatakan serangan ditujukan untuk Hamas, namun semakin ke sini semakin menunjukkan, bukan hanya Hamas yang ingin dimusnahkan melainkan seluruh warga Palestina dan bahkan tidak ingin disisakan sedikit pun. Zionis terus melakukan genosida dengan cara yang tidak berperikemanusiaan. Mereka pun dengan sengaja memblokade masuknya bantuan makanan dan membiarkan kaum muslim di Gaza dalam keadaan kelaparan yang parah. Blokade ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan.
Sungguh cara perang yang sangat keji dan tidak ksatria. Mirisnya, dalam kondisi demikian, penguasa negeri Muslim belum juga melakukan pembelaan secara nyata dengan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah yang keji ini. Sebenarnya, menjadikan kelaparan sebagai alat genosida: bukti zionis lemah dan pengecut. Seruan jihad yang bergema di seluruh penjuru dunia tak mampu membuka hati para penguasa Muslim.
Kondisi mengenaskan ini tak mungkin terjadi jika umat Islam memiliki pelindung berupa negara Khilafah Islam. Karena Khilafah akan menjalankan perannya sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi umat Islam dari penjajahan dalam bentuk apa pun. Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Mu'tasim Billah. Sang Khalifah menyambut seruan seorang budak Muslimah dari Bani Hasyim yang diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi di pasar, dengan mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menyerbu Ammuriah, tempat budak tersebut diganggu, dan membebaskannya serta mengalahkan musuh.
Sayangnya hari ini Khilafah belum ada, sehingga Palestina tidak ada yang membela. Oleh karena itu harus ada perjuangan untuk menegakkannya kembali. Perjuangan ini sudah diawali oleh partai islam ideologis. Umat harus terus dibangun kesadarannya agar siap berjuang bersama partai ini. karena hanya partai inilah yang konsisten memperjuangkan tegaknya aturan Allah secara kafah dalam wadah Khilafah Islamiyah.