| 254 Views
Mencegah Kejahatan Generasi: Perlunya Penerapan Syariat Islam
Oleh : Shella Syahdina
Member Ksatria Aksara Kota Bandung
Setiap hari, kita mendengar berita kejahatan yang semakin meningkat, tanpa memandang usia pelaku. Baru-baru ini, kasus pemerkosaan yang melibatkan empat pelajar di Palembang, Sumatera Selatan, menjadi sorotan. Menurut pemeriksaan, mereka melakukan tindakan keji tersebut setelah terpengaruh oleh video pornografi yang ada di ponselnya. Kasus ini menunjukkan bahwa kejahatan di kalangan pelajar bukanlah fenomena baru, melainkan masalah yang terus berulang.
Mirisnya, banyak generasi muda yang terjebak dalam perilaku liberal akibat sekulerisme—pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Mereka lebih memilih mengikuti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan dampaknya, terutama dalam konteks kehidupan akhirat. Generasi ini cenderung mengutamakan kepuasan materi dan kesenangan jasmani, tanpa peduli pada nilai-nilai moral.
Yang terbaru walau sedang berkendara ada juga kasus seperti pelecehan yang dilakukan oleh remaja usia 16 tahun, Ia melakukan hal yang tidak sepantasnya pada wanita yang tengah mengendarai sepeda motor, aksi tersebut rupanya telah dilakukan sebanyak 9 kali dengan lokasi yang berbeda.Tindakan ini terungkap setelah UN (27) warga Kecamatan Mumbulsari Jember melapor ke polisi karena menjadi korban pelecehan payudara ( prohaba.tribunnews.com 20/09/2024 ).
Adapun yang sedang diurusi oleh pihak berwajib adalah kasus Nia yang dibunuh, diperkosa dan dikubur saat berjualan gorengan ataupun perkosaan di pemakaman China yang dilakukan oleh 4 orang remaja.
Inilah buah dari sistem pendidikan yang diterapkan saat ini, sistem pendidikan yang berlandaskan sekulerisme tidak mendorong pembentukan karakter Islam yang kuat. Sebaliknya, ia hanya menghasilkan individu yang pandai secara akademik, namun terjerat dalam kecanduan pornografi. Hal ini semakin memperparah situasi, karena banyak yang mengabaikan aspek kepribadian Islam dalam mengejar cita-cita.
Berbeda halnya dengan sistem yang menerapkan syariat Islam. Dalam negara yang menerapkan syariat, ada upaya nyata untuk mencegah kerusakan generasi melalui pendidikan Islam yang komprehensif. Pendidikan ini tidak hanya membentuk individu secara akademis, tetapi juga membangun karakter berkepribadian Islam.
Dalam masyarakat Islam, kemaksiatan seperti pergaulan bebas, pemerkosaan, hingga pembunuhan dapat dicegah melalui prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Masyarakat akan saling mengingatkan dan mendorong satu sama lain untuk menjauhi perbuatan salah. Dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, kita dapat membangun sistem pergaulan, media, dan sanksi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sanksi yang diterapkan merupakan sanksi yang sesuai hukum syara, yang bersifat tegas dan memberikan efek jera.
Kita juga perlu memperkuat peran keluarga sebagai institusi pertama dalam pendidikan. Keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak. Dengan menciptakan lingkungan yang penuh kasih dan dukungan, orang tua dapat membantu membentuk karakter yang kuat dan kesadaran moral yang tinggi. Melalui kolaborasi antara keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan yang berbasis syariat Islam, kita dapat mewujudkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak mulia.
Mari kita bersama berjuang untuk mewujudkan negara yang menerapkan syariat Islam, agar generasi mendatang dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran moral yang tinggi. Media harus berfungsi sebagai sarana dakwah, membentuk masyarakat yang berkepribadian Islam dan mencegah penyebaran konten yang merusak.