| 16 Views

Menata Ulang Sistem Perlindungan Anak: Ikhtiar Serius Mewujudkan Generasi Gemilang

Ketua KPAD Kota Bogor sekaligus Ketua PC Fatayat NU Kota Bogor, Dede Siti Amanah saat berdiskusi dalam forum OBSESI (Obrolan Serius untuk Mencari Solusi) yang digelar Radar Bogor. (Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor)

Oleh : Siti Nurhasna Fauziah

Dalam Forum OBSESI (Obrolan Serius untuk Mencari Solusi) yang diselenggarakan Radar Bogor pada Jumat, 14 November 2025, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor menegaskan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di Kota Bogor masih tergolong tinggi dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Hingga November 2025, tercatat 71 kasus kekerasan terhadap anak, dengan mayoritas korban berasal dari kelompok usia sekolah, terutama tingkat SMP dan SMA. Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan bukan sekadar perilaku individu, tetapi persoalan sistemik yang mencerminkan lemahnya pondasi keluarga, rapuhnya kontrol sosial, serta tidak berpihaknya sistem yang mengatur kehidupan masyarakat hari ini.

Karena sifatnya yang sistemik, solusi terhadap kekerasan anak tidak bisa berhenti pada langkah seremonial seperti menghadirkan duta ayah dan duta ibu. Gagasan semacam ini hanya menyentuh permukaan, sementara akar masalah tetap dibiarkan utuh. Pencegahan kekerasan memerlukan perubahan menyeluruh: mulai dari pembinaan akidah dan akhlak anak sejak dini, keteladanan orang tua dalam keluarga, lingkungan sekolah yang aman dan bebas kekerasan, hingga masyarakat yang berperan sebagai pengontrol sosial yang mencegah setiap bentuk penyimpangan. Media sosial pun perlu dibersihkan dari konten kekerasan yang selama ini justru menjadi konsumsi harian anak-anak. Selain itu, negara perlu menghadirkan aturan yang tegas, komprehensif, dan mampu menjamin perlindungan menyeluruh bagi anak tanpa tebang pilih.

Namun, harus diakui bahwa kondisi ideal tersebut mustahil terwujud dalam sistem kapitalis yang serba bebas dan menjadikan kebebasan sebagai standar utama. Kebebasan berperilaku, berpendapat, dan berekspresi yang nyaris tanpa batas telah membuka ruang luas bagi normalisasi kekerasan, pornografi, bullying, hingga konten merusak yang beredar tanpa kendali. Dalam sistem ini, negara cenderung hadir hanya sebagai pemadam kebakaran, bukan sebagai pengatur yang memiliki visi perlindungan anak yang komprehensif. Selama nilai yang dipegang masyarakat masih berorientasi pada kebebasan dan kepentingan materi, maka kekerasan terhadap anak hanya akan berputar sebagai lingkaran masalah yang tak kunjung selesai.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem pengaturan yang bersifat menyeluruh (syamil), yang tidak hanya menata perilaku individu, tetapi juga membangun keluarga yang kokoh, masyarakat yang saling menjaga, serta negara yang tegas dan bertanggung jawab sebagai pelindung seluruh warga, termasuk anak. Sistem seperti ini menuntun setiap level kehidupan—individu, keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah—untuk menciptakan lingkungan kondusif bagi tumbuhnya generasi yang hebat, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi peradaban.

Sejarah telah membuktikan bahwa negara Khilafah mampu mewujudkan generasi gemilang yang memimpin dunia selama berabad-abad, tanpa melepaskan mereka dari ketaatan kepada Allah Swt. Generasi ulama, ilmuwan, panglima, dan pemimpin besar lahir dari sebuah sistem yang menanamkan akidah Islam sejak dini, membina akhlak secara intensif, mengontrol lingkungan masyarakat dengan aturan syariah, serta menghadirkan negara yang benar-benar berfungsi sebagai penjamin keselamatan rakyat. Dengan landasan inilah, kekerasan terhadap anak bukan hanya dapat diminimalisasi, tetapi dicegah secara sistemik melalui pendidikan, pembinaan, pengawasan, dan penegakan hukum yang konsisten.

Maka, untuk benar-benar melindungi anak dan menyiapkan generasi masa depan yang kuat, perlu keberanian untuk meninjau ulang sistem yang selama ini diterapkan. Jika akar persoalan tidak diubah, maka deretan kasus hanya akan menjadi angka yang terus bertambah. Sudah saatnya masyarakat melihat bahwa solusi paling mendasar berada pada sistem yang mampu menjaga manusia dari keburukan, sekaligus menumbuhkan mereka menjadi pribadi terbaik. Dengan sistem itulah keamanan, kasih sayang, dan masa depan anak dapat terjamin secara nyata.

Wallahu’alam bii sawwab


Share this article via

15 Shares

0 Comment