| 35 Views
Marriage Is Scary, Menikah Bukan Lagi Prioritas Bagi Generasi Muda
Tren marriage is scary bikin takut nikah! (Pinterest)
Oleh: Dwi Ummu Farhan
Muslimah Peduli Generasi
Pemuda saat ini beranggapan bahwa kemampuan dalam bidang ekonomi menjadi pertimbangan utama untuk menikah. Sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, ketatnya persaingan kerja, serta gaya hidup menjadikan sebab pemuda hari ini melihat pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan (marriage is scary).
Media sosial Threads akhir Oktober 2025 lalu diramaikan dengan unggahan terkait anak muda yang lebih takut miskin daripada takut menikah. Unggahan tersebut disukai lebih dari 12.500 kali dan ditayangkan ulang oleh 207.000 pengguna lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pemuda yang setuju dengan pendapat tersebut (Kompas.com.id, 26 November 2025).
Setiap tahun, setiap universitas ataupun Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan meluluskan mahasiswa dan pelajarnya, namun lebih banyak yang menganggur atau tidak bekerja. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan serta kesulitan untuk memenuhi kebutuhan karena tingginya biaya hidup dan rendahnya upah dalam sistem yang diterapkan hari ini menjadi persoalan serius. Hal ini membuat anak muda sekarang lebih memilih untuk membangun kestabilan finansial terlebih dahulu daripada menikah, meskipun usia mereka sudah dewasa.
Angka pernikahan di Indonesia saat ini terus menurun setiap tahunnya. Dikatakan bahwa anak-anak muda sekarang enggan menikah dan lebih fokus pada karier serta ekonomi. Kekhawatiran anak muda saat ini bukan hanya pada kondisi sekarang, melainkan pada masa depan, yaitu tentang inflasi, besarnya modal nikah saat ini, serta adanya mindset bahwa jangan menikah sebelum mapan. Penghasilan yang tidak berbanding dengan kebutuhan, gaya hidup masyarakat yang mencerminkan hedonisme, konsumtif, dan impulsif membuat anak muda lebih fokus pada karier. Ingin mandiri dan belum berkeinginan untuk bertanggung jawab membina rumah tangga, apalagi memiliki anak, ditambah seringnya melihat cerita pernikahan yang gagal.
Fakta-fakta tersebut semakin membuat anak muda ragu untuk menikah. Inilah wajah buruk sistem kapitalisme, terbukti dengan sulitnya mendapatkan keadilan bagi rakyat, keterbatasan lapangan pekerjaan, serta ketidakberesan kebijakan. Negara hanya berfungsi sebagai regulator dan cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat.
Islam menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya, sehingga laki-laki dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sumber daya alam yang dikelola oleh negara, bukan swasta, dikembalikan untuk kepentingan rakyat, seperti pendidikan dan kesehatan, serta untuk menekan biaya hidup. Pendidikan Islam yang berlandaskan akidah mampu membentuk generasi yang berkarakter, tidak terbawa arus sekuler dan liberal yang semata-mata mengejar kebahagiaan materi tanpa memperhatikan standar halal dan haram. Keluarga menjadi penguat dengan mendorong para pemuda bahwa pernikahan adalah penjaga keturunan serta menanamkan pemahaman kepada pemuda.
Menikah haruslah berlandaskan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai ibadah dan sarana mencapai rida Allah SWT. Sebagaimana hadis Rasulullah Saw.: “Barang siapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena itu bagaikan kebiri.” (H.R. Bukhari).
Sistem Islam begitu sempurna dalam mengatur tata kehidupan manusia. Islam hadir di tengah-tengah umat sebagai standar aturan yang akan membawa kemaslahatan bagi umat. Marriage is scary adalah ide pemikiran Barat yang menjauhkan manusia dari fitrahnya. Sudah saatnya kita beralih kepada sistem Islam yang terbukti mampu memberikan solusi tuntas bagi setiap persoalan, dengan mencampakkan sistem sekuler yang rusak dan merusak.
Wallahu a‘lam bish-shawab.