| 52 Views

Maraknya Fatherless Di Sistem Kapitalis, Berimbas Pada Hilang nya Fungsi Dari Sosok Seorang Ayah

Oleh : Sumarini

Fatherless satu diantara bermacam permasalahan hari ini yang Intinya sama adalah biang daripada kerusakan yang lahir dari penerapan Sistem hari ini, dan itu adalah Si Kapitalis Sekulerisme yang siapa tidak kenal dengan biang kerok satu ini, sebab karena nya lah masalah terus datang bertubi-tubi tanpa ada solusi. 

Muslimahtimes.com–Dalam perkembangan anak, peran seorang ayah dalam mendidik sama pentingnya dengan peran ibu. Keduanya memiliki kontribusi untuk saling melengkapi. Namun sayangnya, di Indonesia seperlima anak tumbuh dalam kondisi fatherless.

Data yang dipublikasikan Kompas 8 Oktober 2025 menunjukkan kenyataan mengejutkan bahwa sekitar 15,9 juta anak Indonesia atau 20,1% tumbuh tanpa pengasuhan ayah. Angka ini bukan sekadar statistik. Hal ini menunjukkan bahwa ada persoalan yang lebih mendalam dalam struktur keluarga dan budaya kerja di Indonesia, dimana seringkali menempatkan ayah sebagai sosok pencari nafkah semata bukan sebagai pendidik dan teladan utama bagi anak-anaknya. Mirisnya, sebagian besar kasus fatherless di Indonesia justru menunjukkan bahwa ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional dan dalam peran pengasuhan.

Demikian pentingnya sosok seorang Ayah dalam rangka pertumbuhan dan pengasuhan atas Anak anaknya, Namun miris kesempatan untuk itu tak akan kita dapati saat ini, sebab momen untuk mengasuh dan mendidik anak sengaja dihilangkan dari setiap kita. Baik itu Ayah maupun Ibu sudah kehilangan fungsi mereka dalam mendidik Anak anaknya. Dan ini terjadi bersama Sistem saat ini

Fakta di atas sangat jelas menunjukkan bagaimana sebagian besar anak yang tumbuh tanpa adanya pengasuhan dari seorang Ayah. Bisa dimaklumi ketika sosok Ayah memang tidak ada bersama mereka, terlahir dalam kondisi tidak adanya seorang Ayah. Namun ketika sosok itu ada dan hanya hadir secara fisik, dan ini yang menjadi permasalahan. Tidak berperan secara emosional dan juga dalam pengasuhan. Dan sekali lagi benar-benar sistem kapitalis hari ini telah berhasil menghilangkan fungsi dari sosok seorang Ayah, yang seharusnya itu tidak boleh terjadi. 

Apa daya Fatherless harus terjadi, kesibukan seorang Ayah dalam mencari nafkah demi pemenuhan kebutuhan hidup yang sangat mahal hari ini, memaksanya untuk tidak perduli akan perkembangan Anak anaknya. Tidak lagi sempat bertanya bagaimana kondisi ketika disekolah, Tugas-tugas nya disekolah atau bahkan terkait Hablumminallah nya, Hablumminannas hingga Nafsiyah nya. Komunikasi yang seharusnya dibangun hilang begitu saja, hanya terlewati bersama kekakuan dan rasa canggung meski mereka adalah Ayah dan anak. Dan ini berimbas pada karakter anak yang sulit bersosialisasi kepada sesama yang lain. Dan yang lebih parah nya lagi jika ditambahkan ketika sosok Ibu yang diharapkan bisa sedikit memberi kan didikan dalam pembentukan aqidah namun nyatanya malah ikut absen dalam perkembangan anaknya, wallahu a'lam bagaimana mengatakan nya. Sungguh miris nasib generasi hari ini yang telah kehilangan semua orang yang seharusnya ada untuk mereka. 

Sosok Ayah yang kehilangan waktu bersama anaknya, bukan lah tidak menjadi permasalahan atau pun beban bagi mereka, Baginya keinginan tuk membersamai anak anaknya adalah sesuatu yang sangat di rindukan, namun sekali lagi kondisi ekonomi menuntut mereka untuk mengorbankan kebersamaan mereka untuk dekat dengan anaknya. Kapitalisme kembali telah berhasil menciptakan jurang yang dalam sehingga antara Ayah dan anak meski pun satu atap tetapi sangat sulit bertemu untuk bisa saling bertukar pemikiran, Tidak bisa memberikan rasa aman, Sosok yang diharapkan bisa dijadikan sebagai pelindung juga tidak lagi bisa kita temukan. 

Dalam Islam semua akan disesuaikan dengan fungsi nya masing-masing. Penguasa akan bersama fungsi nya, Seorang Ayah juga berfungsi sebagai figur seorang Ayah yang benar-benar fokus dalam rangka mendidik anak anaknya, memberikan semua apa yang mereka butuhkan. Kasih sayang, perhatian, rasa aman hingga memenuhi semua apa yang menjadi kebutuhan atas mereka. Demikian pun Ibu punya tugas yang sama seperti Ayah. Fungsi sebagai seorang ibu juga akan terlaksana. Menyusui anaknya, mendidik nya, hingga menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga juga akan dilakukan dengan senang hati. Benar-benar ketika itu Islam sebagai pengatur akan mengembalikan semua Fungsi yang selama ini telah sengaja dihilangkan oleh sistem kapitalis buatan manusia. 

Dengan membuka lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak serta suport dari negara akan membuat Seorang Ayah punya waktu yang cukup untuk anak anaknya. Jaminan kehidupan atas pendidikan, kesehatan dan juga rasa aman hidup disistem Islam membuat Ayah lebih leluasa dalam kebersamaan dengan anaknya. Bisa kita bayangkan bagaimana ketika kebersamaan dikeluarga itu terbina dengan suasana yang harmonis. Sosok ibu yang penyayang dan juga Ayah yang memberikan perasaan nyaman membuat suasana rumah menjadi hidup dan indah. Kebalikan nya saat ini tentu tidak akan kita dapati hal seperti itu, Anak anak merasakan kesunyian, tidak ada sosok Ayah yang penuh perhatian dan juga ibu yang penyayang. Lebih kepada kekisruhan, hingga menjadi pemicu bagi anak mencari kesenangan diluar rumah, dan apa yang mereka dapati justru imbasnya adalah kerusakan. Inilah perbandingan antara ketika Islam yang menjadi aturan dengan ketika itu diatur oleh aturan yang merupakan buatan manusia, sungguh Islam merupakan solusi terbaik. 

Islam juga akan mengatur yang namanya sistem perwalian, sehingga figur seorang Ayah akan tetap didapatkan meskipun tak punya Ayah. Tak terkecuali disistem Islam setiap anak akan mendapatkan perhatian yang sama, pendidikan yang sama dan juga hidup penuh kasih sayang. Seakan sosok seorang Ayah akan tetap hadir membersamai tumbuh kembang mereka. Islam adalah penuntas dari segala permasalahan apapun itu. Fatherless tak akan pernah terjadi bersama IsIam. 

Wallahu a'lam bishawab


Share this article via

20 Shares

0 Comment