| 45 Views

Magang Berbayar Fresh Graduate: Solusi Semu Bagi Generasi Terdidik dalam Sistem Kapitalistik

Oleh: Kursiyah Azis

Penulis dan Aktivis Muslimah

Fenomena magang berbayar tengah menjadi sorotan publik. Di tengah tingginya angka pengangguran yang menyasar para lulusan perguruan tinggi, kini muncul tren baru dengan istilah fresh graduate. Tak tanggung-tanggung, mereka yang ingin bekerja harus membayar terlebih dahulu untuk bisa bekerja. Dengan dalih “pengalaman kerja”, perusahaan membuka peluang magang berbayar. Cara ini bukan untuk memberi kesempatan, tetapi untuk mengeruk keuntungan dari generasi muda yang sedang berjuang meniti karier.

Pemerintah resmi membuka magang berbayar untuk fresh graduate mulai 15 Oktober 2025 melalui situs SIAPkerja dan Kemnaker. Program ini merupakan bagian dari program magang nasional pemerintah dan akan berlangsung selama 6 bulan.

Selain itu program tersebut merupakan bagian dari Paket Ekonomi yang dimaksudkan untuk memperluas lapangan kerja dan menggerakkan sektor riil, terutama pada triwulan IV-2025. Sasarannya adalah 20.000 mahasiswa-mahasiswi diploma (D1-D4) dan sarjana (S-1) yang lulus maksimum satu tahun. Dikutip dari Kompas.Com, 30/09/2025.

Bagi sebagian orang, ini dianggap wajar. Mereka menyebutnya “investasi karier”, “pintu awal menuju profesionalitas”, atau “strategi bersaing di dunia kerja modern”. Namun di balik narasi manis itu, sesungguhnya tersembunyi wajah muram sistem ekonomi yang telah kehilangan nuraninya.

Eksploitasi di balik istilah “Fresh Graduate"

Dalam logika kapitalisme, segala hal bisa dikomersialisasikan tanpa terkecuali termasuk kerja dan pengalaman. Perusahaan, dengan alasan efisiensi, mencari tenaga murah bahkan gratis. Namun kini, bukan hanya gratis, yang terjadi justru para pencari kerja malah harus membayar untuk bisa “belajar bekerja”. Terkesan aneh namun banyak peminatnya, inilah sebuah anomali.

Sistem ini dengan cerdas menanamkan rasa bersalah kepada generasi muda. Mereka dipaksa percaya bahwa kegagalan mendapatkan pekerjaan adalah akibat kurangnya “pengalaman”, bukan karena rusaknya struktur ekonomi yang timpang. Akibatnya, banyak lulusan rela membayar jutaan rupiah hanya untuk memperoleh selembar sertifikat magang, tanpa jaminan kerja, tanpa kesejahteraan, bahkan tanpa penghargaan yang layak atas tenaga dan waktu yang telah mereka korbankan.

Demikianlah bentuk baru perbudakan modern yang sedang trend saat ini, di mana generasi terdidik dijadikan komoditas, dan kesempatan kerja menjadi ladang bisnis bagi para pengusaha yang di dukung oleh penguasa.

Politik Ekonomi Kapitalistik Biang Kerok Persoalan Negri

Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari sistem politik ekonomi kapitalistik yang berorientasi pada keuntungan (profit oriented). Negara, alih-alih menjadi pelindung rakyat, justru berperan sebagai fasilitator bagi kepentingan korporasi. Pendidikan dikomersialisasi, dunia kerja diprivatisasi, dan manusia direduksi menjadi sekadar sumber daya yang bisa diperjual belikan.

Sistem kapitalisme telah menciptakan lingkaran setan. Dimana biaya pendidikan tinggi, sedangkan lapangan kerja sempit, dan beban hidup semakin meningkat. Akibatnya, para fresh graduate terjebak dalam ilusi, yakni bekerja tanpa digaji lalu itu dianggap sebagai sebuah prestasi, mereka rela membayar untuk magang agar dianggap punya  investasi. Padahal, semua itu hanya memperpanjang rantai ketimpangan.

Sementara itu, korporasi besar justru menikmati tenaga generasi muda yang penuh semangat dengan ongkos minimal. Negara pun berbangga karena “angka partisipasi kerja” meningkat sehingga penilaian publik di ancang-ancang merasakan kepuasan atas kinerja penguasa. Padahal yang terjadi adalah normalisasi eksploitasi terhadap generasi terdidik 

Generasi Terdidik yang Tersesat Arah

Ketika sistem terus menekan dari segala sisi, lahirlah generasi yang cerdas tapi kehilangan arah. Mereka tumbuh dalam budaya kerja yang salah kaprah, di mana nilai diri selalu diukur dari kemampuan bertahan dalam sistem yang telah terbukti tidak adil. Idealisme luluh oleh kebutuhan, dan keinginan berkontribusi pada masyarakat tergantikan oleh ambisi bertahan hidup. Kondisi ini merupakan bentuk dampak sosial yang ditimbulkan akibat penerapan sistem ekonomi kapitalistik tersebut.

Selain itu, fenomena ini akan menciptakan ketimpangan sosial baru. Hanya mereka yang mampu membayar biaya magang yang mendapat akses ke jaringan profesional dan peluang karier. Sementara yang lain, terpinggirkan karena tak punya “modal awal” untuk ikut bersaing. Pendidikan tinggi pun kehilangan maknanya, bukan lagi jalan menuju kesejahteraan, melainkan tiket menuju jebakan kapitalistik baru.

Sistem Islam: Jalan Keluar dari Eksploitasi

Islam menawarkan sistem ekonomi yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek eksploitasi. Dalam pandangan Islam, bekerja adalah ibadah dan amanah,  bukan sekadar alat mencari laba. Negara berkewajiban memastikan setiap warga memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak, tanpa menjadikan tenaga kerja sebagai komoditas.

Dalam sistem Islam, pengelolaan sumber daya alam dan sektor strategis tidak diserahkan kepada korporasi, melainkan dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, lapangan kerja tercipta bukan karena logika pasar, tetapi karena tanggung jawab negara terhadap warganya. Pendidikan pun menjadi hak publik, bukan bisnis yang memeras kantong rakyat.

Demikianlah.Islam memuliakan tenaga manusia, dan menolak segala bentuk eksploitasi. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini jelas menunjukkan bahwa Islam menolak sistem yang menunda, apalagi meniadakan, hak pekerja. Termasuk memaksa mereka membayar untuk bisa bekerja.

Oleh karena itu, maka fenomena magang berbayar fresh graduate bukanlah sekadar isu ketenagakerjaan, melainkan potret suram dari politik ekonomi kapitalistik yang telah gagal menyejahterakan manusia. Generasi muda kini bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kehilangan arah dan martabat.

Dengan demikian, selama sistem kapitalisme tetap menjadi fondasi, eksploitasi akan terus berulang dengan wajah baru. Karena itu, perubahan sejati hanya bisa lahir dari sistem yang menjadikan manusia dan keadilan sebagai pusatnya, bukan keuntungan. Dan sistem itu adalah Islam, yang menolak eksploitasi, menegakkan keadilan, serta memastikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa syarat kelas dan modal.

Sudah saatnya kita membuang sistem Kapitalistik yang telah nyata merusak mental generasi terdidik melalui sistem ekonominya yang mengalami ketimpangan, lalu menggantinya dengan sistem Islam yang terbukti mampu menjaga wibawa generasi terdidik dalam dunia pekerjaan. 

Wallahu alam.


Share this article via

29 Shares

0 Comment