| 29 Views
Lonjakan Investor, Langgengkan Ekonomi Penjajah
Oleh : Ratna Sari, SE
Kawasan Industri dan pergudangan daerah Jabodetabek masih menjadi tolak ukur utama kesehatan ekonomi indonesia saat ini terutama pada sektor manufaktur dan logistik.
Lonjakan lahan baru serta pergeseran sektor permintaan utama yang terjadi disebabkan oleh faktor geopolitik global.
Menurut Arief Rahardjo (Director Strategic Consulting Indonesia Cushman & Wakefield Indonesia), peluncuran kawasan industri yang baru di daerah Subang memperoleh lonjakan jumlah investor dengan suntikan pasokan seluas 169 hektar dalam investasi regional. (Kompas.com, Selasa 5/11/2025)
Hal ini terjadi ditengah ekspansi kawasan industri Karawang-Bekasi. Permintaan sektor industri yang terjadi baru-baru ini didominasi oleh fenomena pemindahan basis produksi (relokasi) yang disebabkan oleh perang tarif antara Amerika Serikat dan China.
Akhirnya, hal ini semakin menguatkan bahwa Indonesia adalah lahan basah dan menjanjikan bagi kepentingan ekonomi Amerika Serikat dan China. Dimana saat ini dua negara itulah yang mendominasi kepemilikan kawasan industri didaerah-daerah Jabodetabek dan saat ini melaju ke daerah Subang.
Semakin terbukti dan nampak wujud ketundukan negara yang hanya bertindak sebagai regulator yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada asing dalam menancapkan kekuasaannya pada jalur investasi dalam sektor industri.
Dalam Islam Investasi asing dalam bidang industri haruslah dengan syarat yang sudah ditentukan dalam syariat Islam, serta harus mengutamakan tujuan untuk negara itu sendiri. Memiliki akad dan kesepakatan yang jelas dan tidak merugikan negara sebagai pemilik aset/tanah industri.
Sudah jelas bahwa yang terjadi saat ini bukan investasi yang menguntungkan dan mengutamakan negara indonesia itu sendiri, justru malah sebaliknya, hanya menguntungkan asing sebagai pemilik modal. Inilah kebobrokan sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan saat ini dengan kebebasan investasi.
Penerapan sistem ekonomi kapitalis saat inilah yang mengakibatkan perekonomian indonesia tidak mampu mandiri dan mengelola segala aset yang dimiliki. Hanya mengandalkan investasi asing dan mengutamakan kepentingan ekonomi penjajah.
Walhasil, rakyat lah yang akhirnya semakin terhimpit oleh keadaan ekonomi dan lainnya. Jauh berbanding terbalik ketika sistem ekonomi islam diterapkan.
Negara seharusnya menjadi perisai yang melindungi rakyat dari penjajah bukan malah menjadi regulator para penjajah untuk berinvestasi di indonesia.
Hanya Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan saat ini, dengan setiap aturan yang berasal dari Al-Qur'an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Bukan aturan buatan manusia yang hanya mengutamakan kepentingan/manfaat belaka. Sudah saatnya Indonesia melepaskan diri dari cengkraman para penjajah.
Wallahu'alam bishawab