| 228 Views
Kurikulum Pendidikan Islam Kunci Peradaban Dunia
Oleh : Heni Lestari
Aktivis Dakwah Islam Kaffah
Baru baru ini Presiden Prabowo Sugianto memilih menteri dalam jajaran kabinet Merah Putih. Menteri Pendidikan menjadi salah satu menteri yang paling di sorot dalam kabinet Merah Putih. Khusus Menteri Pendidikan ada 2, yaitu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yaitu Abdul Mu'ti dan Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Bapak Satrio Sumantri Brodjonegoro.
Pada pekan ini Abdul Mu'ti menghadiri rapat kerja perdana dengan Komisi X DPR RI. Dalam rapat tersebut, Mu'ti memaparkan program prioritas lewat semangat dan slogan Kemendikdasmen, yaitu mencerdaskan dan memajukan bangsa.
"Ini kami ambil dari tujuan negara yang termaktub dalam UUD 1945 dan sering dikutip Bapak Presiden Prabowo," kata Mu'ti lewat keterangan persnya pada Rabu (6/11/2024) lalu.
Mu'ti menerangkan visi besar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah adalah pendidikan bermutu untuk semua, yang diambil dari UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Ia melanjutkan beberapa program prioritas Kemendikdasmen, di antaranya ialah penguatan pendidikan karakter.
Program ini meliputi pelatihan bimbingan konseling dan pendidikan nilai untuk guru kelas, peningkatan kompetensi guru bimbingan konseling (BK) dan guru agama, pengangkatan guru BK, penanaman karakter tujuh kebiasaan anak Indonesia, dan makan siang bergizi. Program wajib belajar 13 tahun dan pemerataan kesempatan pendidikan yang meliputi afirmasi pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat, misalnya rumah belajar, pendidikan jarak jauh, dan PAUD, serta memfasilitasi relawan mengajar.
(Republika.co.id., 09-11 2024)
- Menyikapi hal tersebut tentu menunjukkan banyak kelemahan dalam sistem pendidikan kapitalis.
- Murid sebagai objek pelaku uji coba kurikulum.
- Berganti pemimpin berganti pula kurikulum pendidikan.
- Para pendidik atau guru akan di sibukkan secara administrasi dengan perubahan kurikulum ini.
- Guru sebagai madrasah, dimana kegiatan belajar mengajar tidak hanya sekedar transfer sains dan teknologi, tetapi tanggung jawab mendidik moralitas anak bangsa menjadi minim.
- Akibatnya plat form pendidikan hanya melahirkan generasi yang frustasi, generasi yang tidak bertanggung jawab.
- Selain menjadi ajang uji coba kurikulum. Menjadi sebuah prestige bagi menteri pendidikan untuk menggulirkan kurikulum baru dengan tujuan mencari popularitas dan ketenaran belaka
- Berganti kurikulum seribu kalipun, selama sistem yang dibangun adalah sekularisme, liberal dan kapitalis. Akan sangat sulit mencetak generasi anak bangsa yg bermartabat, generasi yg bertaqwa dan terampil seperti tujuan mulia sebuah institusi yang dinamakan pendidikan.
Daulah Islam dalam menjalankan sistem pendidikan sangat memprioritaskan banyak aspek. Diantaranya yaitu :
- Murid menjadi skala prioritas serta mendapatkan pendidikan dengan instrumen kurikulum yang berbasis dan berpedoman pada hukum syara.
- Murid dicetak menjadi generasi emas berkepribadian Islam dan ilmunya bermanfaat untuk kemaslahatan umat.
- Tidak hanya murid, para pendidik ketika mendedikasikan ilmu, tenaga dan waktunya dalam mendidik murid murid di sekolah. Negara dalam hal ini adalah Khalifah akan memberikan jaminan kesejahteraan hidup bagi keluarga guru. Sehingga peran guru pun akan fokus pada kegiatan pengajaran. Baik dalam memberikan pengajaran ilmu dunia, moralitas dan agama.
- Dari sistem pendidikan yang bervisi hukum syara akan terlahir generasi khoiru ummah yang kelak bisa mengangkat kembali peradapan Islam.
- Generasi seperti Muhammad Al Fatih dan Salahudin Al Ayubi akan lahir kembali semangatnya, ketika sistem pendidikan Islam di terapkan dalam pemerintahan yang menerapkan Islam Kaffah.
- Kurikulum dalam proses belajar mengajar pun akan terus berlandaskan syariat Islam dengan mengikuti perkembangan teknologi dan sains selama tidak bertentangan dengan hukum syara. Waallahu A'lam Bishashwab