| 35 Views

Kurikulum Cinta, Wajah Baru Sekularisme dalam Dunia Pendidikan Islam

Oleh: Vikhabie Yolanda Muslim

Belum lama ini, Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Peluncuran ini digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, pada 24 Juli 2025 lalu, tepatnya di Kamis malam. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar bahkan menyebut KBC sebagai langkah transformasi besar dalam ekosistem pendidikan nasional. Beliau menambahkan bahwa kurikulum ini hadir sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Juga sebagai upaya membangun peradaban Islam masa depan yang berempati dan berakhlak mulia (republika.co.id, 26/7/2025).

Jika kita lihat sekilas, narasi ini terdengar sangat manis bukan? Bukankah Islam sendiri adalah agama yang penuh kasih dan rahmat? Namun, ketika kita kaji lebih dalam dari perspektif Islam sebagai dasar pendidikan, kurikulum ini ternyata menyimpan potensi bahaya besar, terutama dalam konteks pemurnian akidah. Lantas, bagaimana mungkin “cinta” bisa menjadi ancaman? Mari kita tarik benang merahnya.

Bahaya di Balik “Cinta” yang Dibungkus Sekularisme

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) didesain sebagai bentuk penanaman nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan kasih sayang sejak usia dini. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai ini dijadikan alat untuk menormalisasi sekularisme dan menyusupkan agenda deradikalisasi secara sistematis, bahkan kepada anak-anak muslim yang masih belum mengetahui mana yang benar dan mana yang salah menurut standar Islam.

Tentu saja, proyek deradikalisasi ini bukan hal asing atau baru lagi. Sebab, sejak lebih dari satu dekade terakhir, umat Islam di Indonesia khususnya, sudah akrab dengan label-label seperti radikal, intoleran, bahkan ekstremis, yang ironisnya seringkali dilekatkan kepada mereka yang justru sedang berpegang teguh pada ajaran Islam secara menyeluruh. Mereka yang menyeru kepada penerapan syariat Islam dianggap ancaman, padahal sejatinya mereka adalah bagian dari umat yang ingin menjalankan perintah Tuhannya secara menyeluruh (kaffah).

Jika kita melihat benang merah dari proyek ini, melalui kurikulum berbasis cinta, anak-anak nantinya secara halus dan perlahan akan dididik untuk menjauhi pemahaman yang dianggap eksklusif. Termasuk turut mewaspadai simbol-simbol keislaman, dan menghindari narasi perjuangan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah). Hal ini pun berlaku sebaliknya, mereka diarahkan untuk bersikap lembut dan penuh empati kepada siapa saja, termasuk kepada orang-orang yang secara terang-terangan menolak Islam. Bahkan, mereka tak segan untuk euforia merayakan hari besar agama lain bersama-sama atas nama toleransi.  Tentu sangat ironis, keramahan dan senyum yang sama tidak diberikan kepada sesama muslim yang memperjuangkan Islam secara menyeluruh. Kajian mereka dicurigai, aktivitas mereka diawasi, dan mereka kerap dikriminalisasi.

Standar Ganda yang Membingungkan Generasi Muslim

Kurikulum cinta ini secara tidak langsung menanamkan standar ganda yang pada akhirnya justru membingungkan. Mengapa ketika seorang Muslim menyeru kepada pelaksanaan hukum Allah justru dianggap radikal? Tetapi di sisi lain, saat ikut merayakan hari raya non muslim justru dianggap sebagai bukti cinta dan toleransi? Mengapa tempat ibadah non muslim dijaga ketat, namun masjid tempat kajian Islam justru malah dibubarkan aparat?

Anak-anak generasi muslim yang tumbuh dalam iklim pendidikan seperti ini akan menjadi pribadi yang kehilangan jati diri. Mereka tidak lagi memahami keistimewaan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup yang haq. Mereka merasa harus menyenangkan semua pihak, bahkan dengan mengorbankan prinsip akidahnya sendiri. Mereka diajarkan bahwa agama hanyalah untuk digunakan di ranah pribadi, bukan sebagai sistem yang mengatur kehidupan secara menyeluruh.

Kurikulum Seharusnya Berbasis Akidah, Bukan Perasaan

Di dalam Islam, pendidikan adalah bagian dari proyek besar mendasar dalam pembentukan peradaban Islam. Karena itu, kurikulum haruslah dibangun di atas akidah Islam sebagai asas. Islam tidak melarang cinta dan kasih sayang. Bahkan Rasulullah dikenal sebagai manusia paling lembut kepada anak-anak, istri, dan sahabatnya. Namun cinta dalam Islam ialah tidak melepaskan diri dari batas syariat. Mencintai dan sayang karena Allah, dan kita pun membenci dan menjauhi karena Allah.

Allah SWT telah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar golonganmu sebagai teman setia, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kerusakan atasmu..." (QS. Ali Imran: 118).

Kurikulum berbasis cinta versi Kemenag ini, justru akan menjauhkan generasi dari Islam dengan mengganti tolok ukur benar salah dari wahyu Tuhan, menjadi perasaan dan akal manusia semata. Nilai-nilai universal seperti toleransi, cinta, dan kedamaian, yang tidak berbasis pada syariat, dikhawatirkan dapat disalahgunakan untuk membenarkan penyimpangan.

Negara Wajib Menjaga Akidah Generasi Muslim

Negara dalam Islam tidak boleh netral terhadap perkara akidah. Negara wajib menjadi penjaga akidah umat, tidak terkecuali melalui kurikulum pendidikan. Hal ini sesuai dengan fungsi negara dalam Islam sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi umat.

Jika negara membiarkan sekularisme merasuki sistem pendidikan, maka akan lahir generasi yang lemah akidah, lemah pemikiran, dan mudah tunduk kepada narasi yang salah. Mereka akan tumbuh menjadi umat yang tidak percaya diri dengan agamanya sendiri, dan menganggap bahwa memperjuangkan Islam adalah tindakan yang ekstrem dan memecah belah.

Padahal, jika generasi dididik berdasarkan akidah Islam, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, visioner, berani membela kebenaran, dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan dengan syariat Allah.

Allah SWT telah meneybutkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Saatnya Umat Menolak Kurikulum Sekuler

Kurikulum berbasis cinta ini bukanlah solusi, melainkan wajah baru dari proyek liberalisasi dan sekularisasi di dunia pendidikan Islam. Di balik narasi cinta dan toleransi, tersimpan agenda yang menjauhkan masyarakat dari Islam secara perlahan dan sistematis. Kurikulum ini tidak akan mampu menyelesaikan persoalan bangsa, karena akar masalahnya justru diabaikan, yaitu jauhnya sistem kehidupan dari aturan Allah seperti yang saat ini kita rasakan.

Sudah saatnya kita sebagai umat Islam bersikap, bahwa pendidikan Islam harus kembali kepada jati dirinya yakni berbasis akidah, berorientasi pada pembentukan kepribadian Islam, dan bertujuan mencetak generasi yang taat secara totalitas kepada Allah. Maka hanya dengan itulah masa depan peradaban Islam akan cerah, dan Islam rahmatan lil alamin akan benar-benar dirasakan oleh seluruh umat manusia.


Share this article via

35 Shares

0 Comment