| 196 Views
Krisis Sudan, Butuh Kepemimpinan Global
Oleh : Mila Ummu Azzam
Bukan hanya Palestina, Sudan pun kini kian membara. Genosida yang terjadi di Sudan akibat perang saudara telah memakan ribuan korban jiwa. Konflik yang di mulai pada 2023, antara Jenderal Abdel Fattah al Burhan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagalo dari pasukan Rafid Support Forces (RSF), telah memicu perang besar perebutan kekuasaan yang menjadi pembantaian kepada warga sipil.
Hingga kini, korban terus meningkat, ribuan orang mengungsi, pembunuhan masal dan pemerkosaan terus terjadi semakin mengerikan. Aljazirah melaporkan, angka kematian mencapai 1.500 jiwa dalam tiga hari terakhir ketika warga sipil mencoba melarikan diri dari kota yang terkepung. Menurut kelompok yang memantau perang saudara di negara Sudan, menggambarkan situasi tersebut sebagai "genosida yang nyata". (Republika, 30-10-2025)
Sudan merupakan negara terbesar ketiga dari Benua Afrika yang penduduknya mayoritas muslim. Negara ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Cadangan minyak lebih dari 3 miliar barel, emas mencapai 1.550 ton dan kaya akan uranium. Sudan juga memproduksi getah arab yang digunakan untuk industri makanan dan kimia. Posisi negara yang strategis terletak di timur laut Afrika yang menjadi jalur perdagangan. Sudan memiliki piramida lebih banyak dan sungai nil lebih panjang dari Mesir. Namun mirisnya, negara ini mengalami krisis kemanusiaan sangat panjang.
Konflik Sudan sebenarnya juga bukan murni konflik antar etnis sesama saudara, ada campur tangan negara Amerika dan Inggris yang melibatkan negara2 bonekanya (zionis dan UEA) terkait rebutan pengaruh politik (proyek timur tengah baru AS) demi kepentingan perampokan SDA yg melimpah ruah. Dan krisis ini sudah berlangsung cukup lama. Konflik ini sengaja dibuat untuk memecah belah Sudan serta memelihara konflik agar terus terjadi, sehingga Sudan benar-benar melemah dan mudah di kuasai, juga untuk mencapai tujuannya melemahkan kekuatan kaum Muslim Sudan.
Penderitaan kaum Muslim semakin dalam, setelah Gaza, India, uyghur, dan Myanmar, kini Sudan menjadi objek permainan dan perebutan negara-negara adidaya. Sudan yang kaya dengan sumber daya alam dan geografis yang strategis tidak menjadikannya negara yang makmur, akibat rakusnya negara-negara penjajah yang mengusung sistem kapitalisme. Negara-negara penjajah ini melakukan segala cara untuk menyingkirkan pengaruh politik lawannya.
Sudan menjerit, meminta tolong kepada saudara-saudara Muslim, berharap ada dukungan dan pertolongan, mereka hampir tak tahan dengan penderitaan yang menimpa mereka. Tapi apa daya, para pemimpin Muslim hari ini lebih mementingkan kursi kekuasaan. Dan lebih ironinya, mereka berkonspirasi dengan negara penjajah menzalimi dan mengkhianati umat Islam itu sendiri, seperti yang dilakukan penguasa Arab saat ini.
Adapun lembaga-lembaga dan aturan internasional dibuat dalam bingkai kepentingan melanggengkan hegemoni negara-negara adidaya terhadap negeri Muslim. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari para penguasa yang mengusung sistem kapitalisme dan nasionalisme. Kenyataan ini memang menyakitkan. Oleh karena itu, umat Islam harus sadar dan bangun dari tidur yang panjang, menaikan taraf berpikir sehingga mampu melihat semua masalah yang terjadi dalam kacamata ideologis bahwa saat ini kita dihadapkan pada perang peradaban antara ideologi Islam dan ideologi non Islam.
Posisi umat Islam tidak akan berubah kecuali kembali kepada sistem Islam. Saatnya umat Islam bersatu dalam ukhuwah islamiyah di bawah institusi pemerintahan Islam global (khilafah), satu pemimpin yang menjadi junnah (perisai) melindungi rakyatnya. Ketiadaan khilafah adalah penyebab serangkaian penderitaan umat Islam hingga saat ini, seolah keadaan yang terus menerus terjadi ini tak pernah berakhir.
Rasulallah Saw bersabda, "Sesungguhnya seorang imam (khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepada dirinya." (HR. al Bukhari dan Muslim)
Kesadaran umat harus dihadirkan bahwa hanya sistem Islam lah yang mempunyai solusi atas semua krisis, baik itu politik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya, sehingga terciptalah rahmatan lil 'alamin. Kesadaran ini harus memotivasi umat untuk turut berjuang menegakkan khilafah karena dorongan keimanan. Persatuan negeri-negeri muslim di bawah naungan Khilafah akan menjaga kehormatan agama dan umat. Hal itu adalah sebuah keniscayaan untuk melawan hegemoni negara-negara kafir Barat yang terus membuat umat Islam terjajah, terpecah dan menderita.
Wallahu'alam bishawab.