| 94 Views

Krisis Gaza, Momentum Kebangkitan Umat

Foto:DW (News)

Oleh: Dina Febri Utami
Muslimah Pengemban Dakwah

Genosida Gaza oleh Zionis terus berlangsung. Korban dari kalangan jurnalis makin berjatuhan. Setelah sebelumnya warga sipil anak dan perempuan menjadi sasaran. Sungguh biadab tingkah polah penjajah di bumi Gaza. Diperparah oleh bungkamnya penguasa negeri Islam.

Dikutip dari metrotvnews.com 3/8/2025, otoritas kesehatan di Gaza mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat serangan militer Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai 60.430 jiwa, dengan 148.722 orang lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban disebut merupakan perempuan dan anak-anak.

Jumlah tersebut bukan hanya sekadar angka semata, melainkan nyawa manusia yang begitu berharga. Ironisnya, negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, pertama kalinya resmi mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina (PA). (cnbcindonesia.com, 31/7/2025)

Selain itu, mengutip dari sindonews.com 24/7/2025, otoritas Mesir telah menekan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed al-Tayeb, untuk mencabut pernyataan yang mengecam pengepungan oleh Israel yang menyebabkan kelaparan massal penduduk Gaza, Palestina. Kelaparan massal ini telah memicu kemarahan dunia internasional. Sehingga mulai banyak negara yang akan mengakui Palestina sebagai negara, setelah terbuka borok Zionis Yahudi dan menyaksikan kejahatan tiada tara yang telah mereka lakukan selama ini.

Para penguasa muslim ibarat buta dan tuli atas realita yang terjadi di Gaza, mereka bertindak seolah tak ada ikatan iman dalam diri mereka dengan muslim Gaza. Padahal seharusnya perumpamaan kaum muslim satu dengan yang lain adalah bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka bagian yang lain juga akan turut merasakannya.

Umat Islam merupakan umat terbaik (QS. Al Imran [3]: 110), namun faktanya saat ini justru tidak mencerminkan demikian. Hal ini tak lain hanya karena kepentingan dunia (kekuasaan dan materi) yang membuat para penguasa justru mengamini atau bahkan ikut andil atas terjadinya genosida di Palestina. Mereka telah menggadaikan keimanan dengan kenikmatan dunia sesaat, sehingga membuat mereka bersenang-senang di atas penderitaan saudara seimannya yang lain.

Seharusnya para penguasa muslim bercermin kepada Sultan Abdul Hamid II, yang dengan tegas menolak untuk menyerahkan tanah Palestina walau sejengkal kepada Yahudi meski dengan imbalan uang. Karena tanah tersebut adalah milik kaum muslim, yang diperoleh dengan jihad dan pertumpahan darah.

Lalu bagaimana mungkin ketika saudara-saudara muslim kita di Palestina yang hingga saat ini masih terus berjuang mengorbankan harta, keluarga dan bahkan nyawa mereka sendiri untuk mempertahankan tanah yang sejatinya milik kita bersama, kemudian kita justru malah acuh dan apatis ? Hanya karena sekat-sekat nasionalisme yang membuat kita masih bisa makan enak, istirahat dengan nyaman di rumah bersama keluarga tercinta.

Umat Islam harus segera menyadari bahwa kita tidak mungkin membiarkan luka di tubuh kaum muslim dibiarkan begitu saja, ibarat virus yang terus menggerogoti dan merusak setiap organ yang semakin hari semakin memperparah kondisi umat. Kita harus bangun dan mengambil tindakan nyata untuk memperjuangkan kebangkitan kaum muslim dalam rangka mewujudkan kembali kemuliaan umat Islam sebagaimana janji Allah SWT (QS. An-Nur[24]: 55).

Upaya perjuangan ini membutuhkan kepemimpinan sebuah jamaah ideologis yang tulus mengajak umat berjuang, mengikuti thariqah Rasulullah saw. dan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh (kafah) pada setiap sendi-sendi kehidupan. Sehingga satu-satunya cara untuk membebaskan Palestina adalah dengan tegaknya daulah Islam dan menyerukan jihad sebagai solusi tuntas. Dan dengan rahmat Allah Swt., kaum muslim mampu mengembalikan kemuliaannya dan mewujudkan Islam rahmatan lil ’alamiin.

Wallahu a’lam bishawab.


Share this article via

27 Shares

0 Comment