| 427 Views

Kriminalitas Kronis, Butuh Solusi Komprehensif

Oleh : Rifdatul Anam 

Beberapa kasus kriminalitas belakangan ini menjadi sorotan publik. Pembunuhan yang dilakukan secara sadis terjadi di sejumlah daerah, seperti Bekasi, Ciamis dan Bali. Seperti kasus yang terjadi di Bekasi dan Bali, pembunuhan terjadi setelah melakukan layaknya hubungan suami istri. Kasus-kasus ini memiliki motif yang berbeda-beda. 

Semua korban dari pembunuhan itu adalah seorang wanita. Yang paling miris adalah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh TBD (50) terhadap istrinya bernama Yanti (44) di wilayah Rancah,Ciamis, Jawa Barat. Di duga pelaku mengalami depresi, setelah membunuh dan memutilasi istrinya, jasad tersebut dibawa berkeliling dan dijual. (CNN, 5-5-2024)

Aparat kepolisian pun telah mengaku berhasil meringkus para terduga pelaku dan mengungkap motif di balik peristiwa itu. Tertangkapnya para pelaku ini dianggap mampu mengurangi angka kriminalitas yang terjadi. Benarkah demikian? Sementara, angka kriminalitas terus meningkat setiap tahunnya. Hampir setiap hari kita mendengar dan melihat adanya kejahatan yang terjadi.

Sejatinya, sistem sanksi yang ada saat ini tidak dapat mengurangi angka kriminalitas, apalagi memberikan efek jera bagi para pelakunya. Kebebasan yang diberikan dalam sistem demokrasi kapitalisme, membuat masyarakat menjalani kehidupan dengan memisahkannya dari agama (sekuler). Yang tujuannya untuk mencari materi dan mendapatkan kepuasan jasmani, apapun caranya, tidak peduli walau jalan yang ditempuh salah.

Tak adanya pengetahuan tentang agama, akibat sistem pendidikan yang salah, karena sistem pendidikan saat ini berorientasi pada materi. Lemahnya iman dalam diri masyarakat kita saat ini, mempengaruhi sulitnya  pengendalian emosi, yang berujung dengan menuruti hawa nafsu, sehingga mudah menjerumuskan masyarakat pada lubang kemaksiatan dan melakukan pembunuhan.

Maka tak perlu heran, rusaknya kehidupan di tengah masyarakat kita, tak lepas dari sistem yang diterapkan sekarang. Peran negara yang tidak maksimal dalam menyelesaikan persoalan negeri ini, membuat masalah "hilang satu tumbuh seribu". Padahal, negara bertanggung jawab atas rakyatnya, keamanan yang seharusnya dijamin, malah tak ada didapat. 

Berharap sistem sekulerisme kapitalis dapat menuntaskan kriminalitas yang terjadi adalah hal yang tidak mungkin, keamanan yang diinginkan seperti mimpi di siang bolong, yang ada semakin resah tiap harinya. Sangat jauh  berbeda dengan Islam, yang bukan hanya sekedar agama, tapi juga sistem kehidupan yang memiliki solusi yang komprehensif atas setiap permasalahan manusia. 

Negara akan bertanggung jawab dalam  mengurus rakyatnya. Melalui sistem pendidikan yang berbasis akidah Islam, akan membentuk kepribadian seseorang untuk selalu taat akan perintah dan larangan dari Allah Swt,  sehingga dalam diri tertanam rasa takut jika melakukan kesalahan, apalagi melakukan tindakan kriminal. Pemahaman konsep bahwa Islam harus diberikan sejak dini akan berpengaruh dan tergambar bagaimana cara bersikap sesuai dengan tuntunan syariat.

Sistem sanksi dalam Islam jelas memberikan efek jera bagi pelaku kriminalitas, tegasnya hukuman yang dijatuhkan sebagai jawabir (penebus) dan zawajir (pencegah) bagi orang lain yang akan berbuat hal serupa. Sanksi bagi pelaku tidak selalu penjara, melainkan banyak jenis sanksi dalam Islam, misalnya kisas bagi pelaku pembunuhan, yaitu seseorang yang membunuh akan dibalas dengan dibunuh.

Allah Swt berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanan) kisas, berkenaan dengan orang yang dibunuh". (Al baqarah 178)

Dengan demikian, sistem yang diterapkan sesuai hukum Islam akan membawa ketentraman dan keamanan bagi manusia. Sanksi yang tegas dan adil dapat menyelesaikan permasalahan kriminalitas yang ada, karena hukum yang berlaku adalah hukum dari Allah Swt,  bukan dari penguasa maupun pengusaha.
Wallahu'alam bishawab.


Share this article via

188 Shares

0 Comment