| 89 Views
Konflik Iran-Amerika dan Israel, Memicu Kenaikan Harga Minyak Dunia
Perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel membuat harga minyak melonjak. (via REUTERS/Majid Asgaripour)
Oleh: Haryani, S.Pd.I
Pendidik di Kota Bogor
Amerika Serikat dan Israel resmi melakukan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah target strategis di Iran pada Sabtu (28/2/2026) kemarin.
Serangan operasi militer tersebut menyasar fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir, sistem rudal balistik, hingga pusat komando. Dilansir dari Hindustan Times, Washington menamai aksi tersebut sebagai Operation Epic Fury, sementara itu Israel menyebutnya Operation Roaring Lion.
Sebagai respons terhadap serangan militer ini, Garda Revolusi Iran mengumumkan bahwa kondisi keamanan di Selat Hormuz membuat jalur pelayaran strategis ini ditutup, dengan peringatan kepada kapal-kapal agar tidak melewati selat. Penutupan ini berdampak besar terhadap perdagangan minyak dan gas global, karena Selat Hormuz merupakan jalur transit penting bagi pasokan energi dunia.
(UNESA, 02 Maret 2026)
Sejak terjadinya penyerangan tersebut menyebabkan dampak yang krusial bagi keberlangsungan pasokan minyak global ke beberapa Negara lainnya.
Harga minyak dunia per awal April 2026 melonjak tajam, menembus di atas US$ 100-116 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah (AS-Iran-Israel) yang mengancam pasokan melalui Selat Hormuz.
Dari kejadian yang menimpa Iran, tentu saja tidak menutup kemungkinan akan terjadi pada Negara-negara lainnya, sikap arogansi Amerika dan Israel memang tidak bisa ditoleransi lagi, keangkuhan Negara Adidaya ini mau tidak mau harus ada Negara yang membungkamnya. Saat ini sikap Iran sudah sangat bagus, ketegasan pimpinan Iran yang menjaga marwahnya sebagai pemimpin Negara sudah seharusnya kita apresiasi. Keputusannya yang tidak menjadi Negara pendukung BOP (Board Of Peace) sangatlah tepat, tidak seperti Negara-negara muslim lainnya yang "tunduk" dengan kekuasaan Negara Amerika dan menjadi penyokong Israel dalam memerangi Negara Palestina dan Negeri-negeri muslim lainnya.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz memicu krisis energi global karena hampir 20% pasokan minyak dunia terhenti, berpotensi melambungkan harga minyak hingga $150–$200 per barel.
Dampak utamanya meliputi lonjakan inflasi dunia, gangguan rantai pasok pupuk dan bahan baku, serta risiko resesi ekonomi, terutama bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, China, dan India.
(Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia) (BNPP RI)
Harga minyak dunia diprediksi mencapai level tertinggi baru akibat terhentinya alur pelayaran vital di Teluk Persia. Akibatnya membuat krisis baru yaitu terhentinya pengiriman minyak dan gas (LNG), sehingga mengancam ketersediaan energi global. Selain itu mengakibatkan adanya antrean ratusan kapal tanker migas yang tertahan disekitar perairan Teluk dan Oman, sehingga menyebabkan kemacetan logistik. Dampak lain yang akan terjadi yaitu kenaikan harga pupuk, akibat adanya penutupan jalur ini yang memicu lonjakan harga pupuk urea secara global yang berdampak pada ketahanan pangan. (BNPP RI).
Selain berdampak pada Dunia global, tentu saja bagi Negara Indonesiapun tidak luput terkena dampaknya. Kendati Negara Indonesia tidak menaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) saat ini, namun potensi kenaikan harga BBM subsidi dan non-subsidi, akan membebani APBN. Akibat adanya kenaikan biaya logistik dan energi akan memicu inflasi, terutama jelang Ramadhan dan Lebaran.
Selain itu cadangan devisa tertekan akibat melonjaknya biaya impor minyak. Begitupun cadangan nasional minyak Indonesia diprediksi terbatas (sekitar 20 hari), sehingga diperlukan langkah antisipasi cepat.
Saat ini Negara Indonesia masih bergantung dengan pasokan minyak global, walaupun Negara ini kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) nya, terutama minyak bumi dan gas, tetap saja tidak bisa menjadikan kekayaan tersebut menjadi sumber yang utama, karena tidak bisa dipungkiri saat ini tambang minyak dan gas kita masih dikuasai oleh Asing, Negara kita hanya punya tempatnya, hasilnya dikuasai dan diangkut ke Negara penjajah (Amerika)
Ironis memang, tapi kenyataannya demikian, kekayaan Negeri ini seharusnya menjadikan rakyat makmur sentosa, membuat bangsa ini berdaulat dan tidak bergantung kepada Negara lain, namun fakta dilapangan beda hal. Akibat oknum-oknum pejabat yang menjual belikan kekayaan SDA kita, dengan keserakahannya yang membabi buta, akhirnya rakyat hanya menjadi "kuli" di Negerinya sendiri, sedangkan yang menikmati hasilnya hanya segelintir orang dan pihak Asing.
Sebagaimana hadits dari Abu Daud dan Ibnu Majah:
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api."
(HR. Abu Daud no. 3477 dan Ibnu Majah no. 2472).
Sejatinya jika kekayaan alam ini dikelola dengan semestinya, niscaya Negeri ini akan menjadi Negara yang makmur tanpa bergantung kepada Negara Kafir Penjajah.
Wallahu'alam