| 140 Views
Konflik di Gaza butuh Khilafah bukan Sekularisme
Oleh : Yuliana, S.E
Muslimah Peduli Umat
Seiring konflik di Gaza yang terus bergulir, isolasi internasional terhadap Israel tampaknya makin dalam. Apakah Israel mengalami apa yang disebut sebagai "momen Afrika Selatan", ketika kombinasi tekanan politik, boikot ekonomi, olahraga dan budaya membantu memaksa negara itu meninggalkan apartheid?
Atau dapatkan pemerintah sayap kanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatasi badai diplomatik, yang membiarkan Israel bebas mengejar tujuannya di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki tanpa menyebabkan kerugian permanen pada posisi internasioal negara itu?
Dua mantan perdana menteri, Ehud Barak dan Ehud Olmert, menuding Israel mengubah Israel menjadi negara paria internasional.
Berkat surat perintah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), jumlah negara yang bisa dikunjungi Netanyahu tanpa risiko ditangkap menurun drastis. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Inggris, Prancis, Australia, Belgia dan Kanada, telah mengumumkan mereka bakal mengakui Palestina sebagai negara pekan depan.
Dan negara-negara Teluk, yang bereaksi keras atas serangan terbaru Israel terhadap para pemimpin Hamas di Qatar pekan lalu, telah bertemu di Doha untuk membahas repspons mereka. Sejumlah pihak mendesak negara-negara yang memiliki hubungan dengan Israel untuk berpikir ulang.
Namun dengan kelaparan yang muncul di Gaza selama musim panas dan tentara Israel yang siap menyerang—dan sangat mungkin menghancurkan—Kota Gaza, makin banyak negara Eropa yang menunjukkan ketikdapuasan mereka dengan cara yang lebih dari sekadar pernyataan. Bahkan Netanyahu pada Senin (15/09) mengaku bahwa Israel menghadapi "semacam" isolasi ekonomi di panggung dunia.
Saat berbicara dalam konferensi kementerian keuangan di Yerusalem, dia menyalahkan isolasi ekonomi tersebut pada publisitas negatif di luar negeri. Dia kemudian mengatakan Israel perlu berinvestasi dalam "operasi pengaruh" ia internasional dan sosial untuk menangkal citra negatif ini.
Pada awal September lalu, Belgia mengumumkan serangkaian sanksi terhadai Israel. Belgia menerapkan larangan impor dari permukiman Yahudi ilegal di Tepi Barat. Mereka juga akan meninjau kebijakan pengadaan dari perusahaan Israel dan serta akan membatasi bantuan konsuler bagi warga Belgia yang tinggal di permukiman Yahudi. Belgia juga menyatakan dua menteri pemerintah Israel garis keras Israel, yakni Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, sebagai persona non-grata. Status serupa mereka jatuhkan untuk para pemukim Yahudi yang dituduh melakukan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Negara-negara lain, termasuk Inggris dan Prancis, mengambil langkah serupa.
Tapi sanksi terhadap pemukim yang melakukan kekerasan yang diberlakukan saat administrasi Joe Biden tahun lalu, dicabut oleh Donald Trump pada hari pertama dia menggantikan Biden sebagai presiden AS.
Satu pekan setelah Belgia mengumumkan kebijakannya, Spanyol mengumumkan langkah-langkah yang yang ditempuh terkait Israel.
Spanyol mengubah embargo senjata de facto yang berlaku saat ini menjadi undang-undang, mengumumkan larangan impor sebagian, melarang siapa pun yang terlibat dalam genosida atau kejahatan perang di Gaza masuk ke wilayah Spanyol, dan melarang kapal dan pesawat yang membawa senjata ke Israel untuk berlabuh di pelabuhan Spanyol atau memasuki wilayah udaranya.
Menteri luar negeri Israel, Gideon Saar, kemudian menuduh Spanyol memperkuat kebijakan antisemit dan menyatakan bahwa Spanyol akan lebih menderita daripada Israel akibat larangan perdagangan senjata.
Namun ada tanda-tanda lain yang mengkhawatirkan bagi Israel. Pada Agustus lalu, Norwegia yang mengelola dana investasi negara yang sangat besar, yaitu US$2 triliun (sekitar Rp32,73 triliun), mengumumkan akan melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Israel.
Pada pertengahan bulan, 23 perusahaan telah dihapus dan Menteri Keuangan Jens Stoltenberg mengatakan akan ada lebih banyak perusahaan yang akan menyusul.
Sementara itu, Uni Eropa, mitra dagang terbesar Israel, berencana untuk memberi sanksi kepada menteri sayap kanan dan menangguhkan sebagian elemen perdagangan dari perjanjian dengan Israel.
Dalam pidato kenegaraan pada 10 September, Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen mengatakan peristiwa di Gaza telah "mengguncang hati nurani dunia".
Sehari kemudian, 314 mantan diplomat dan pejabat Eropa menulis surat kepada von der Leyen dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, yang meminta tindakan lebih keras, termasuk penangguhan penuh perjanjian dengan Israel.
Salah atu ciri sanksi yang dijatuhkan pada Afrika Selatan pada 1960-an dan menandai berakhirnya apertheid—kebijakan segregasi dan diskriminasi rasial yang diberlakukan oleh pemerintah minoritas kulit putih di Afrika Selatan terhadap mayoritas kulit hitam di negara tersebut—pada 1990-an adalah serangkaian boikot budaya dan olahraga.
Sekali lagi, tanda-tanda ini mulai terjadi di Israel. Kontes Eurovision mungkin tidak terdengar seperti acara penting dalam konteks ini, tetapi Israel memiliki sejarah yang panjang dalam kompetisi tersebut, memenangkannya empat kali sejak 1973. Bagi Israel, partisipasi mereka adalah simbol penerimaan negara ini oleh negara-negara sebangsa. Tapi Irlandia, Spanyol, Beland dan Slovenia, telah mengatakan, atau mengisyaratkan, akan mundur dalam kontes ini tahun depan jika Israel masih berpartisipasi. Keputusan terkait ini diharapkan akan ada pada Desember
Baruch melanjutkan: "Saya ingin mengatakan bahwa tekanan tegas terhadap Israel dengan cara apa pun yang diyakini Eropa dapat mereka lakukan seharusnya disambut baik." (16 September 2025)
Skularisme penuh tipu daya dan munafik
Sejak dua tahun pembantaian terus-menerus terhadap Gaza oleh entitas Zionis di Tanah Suci Paletina, yang didukung penuh oleh Amerika, NATO, dan sekutu-sekutunya. Hingga detik ini tidak ada sedikitpun tindakan yang mengarahkan kepada pembebasn rakyat Palestina dari Genosida. Pemberitaan-pemberitaan yang beredar hanyalah pemanis bibir semata, tanpa adanya reaksi nyata. Informasi-informasi yang tidak ada kepastian seolah-olah hanya sebagai penenang dan menggiring kepercayaan umat bahwa Palestina sudah berada di ambang merdeka padahal semua itu tipuan belaka.
Entah berapa kali konflik ini dibawa ke Pengadilan Dunia. Namun, hasilnya null tidak pernah membuahkan hasil yang serius untuk Palestina. Saat berlangsungnya sidang banyak negara yang mendukung Palestina dan mengecam kezaliman Zionis laknatullah, walhasil tetap sama, null.
Negara-negara barat yang katanya ingin membantu itu adalah sandiwara murahan belaka. Tekanan terhadap entitas Zionis hanyalah settingan, pada dasarnya merekalah sponsornya. Jadi kaum muslim jangan berharap lebih kepada pemimpin-pemimpin kafir.
Mereka yang katanya mendukung kemerdekaan atau pembebasan Palestina biasanya bermuka dua. Di depan seolah membela di belakang mereka sama saja ingin meruntuhkan Islam dari muka bumi. Seyogyanya mereka kafir-kafir sangat ketakutan bangkitnya Islam.
Pemimpin-pemimpin muslim seolah mati suri. Mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan saat saudaranya dizolimi memilih bergandengan tangan dengan musuh-musuh Islam. Mereka lupa bahwa di akhirat kelak mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas sikap mereka yang tak peduli terhadap penderitaan saudaranya sendiri. Kekuasaan duniawi seolah menggelapkan mata hati dan menenggelamkan nurani mereka.
Mesir yang terdekat dengan Gaza pun menutup diri dengan membangun tembok yang kokoh. Mereka menutup mata dan telinga atas jeritan saudaranya. Kelaparan yang dasyat, kehidupan yang melarat, nyawa yang sekarat tidak bisa meluluhkan hati para penguasa muslim yang berkarat yang diingat hanya tenang dalam menjabat lupa akan akhirat. Mereka lebih takut pada kekuasaan kafir-kafir laknatullah dari pada ancaman dan siksaan pedih dari Allah swt.
Aktivis-aktivis dari berbagai negara di belahan dunia bergabung dalam satu organisasi. Global Sumut Plotilla dalam misi kemanusiaan menuju ke Gaza. Misi mereka bukan hanya sekedar misi kemanusiaan saja tapi, mereka menyiratkan misi untuk membangkitkan kesadaran pemimpin-pemimpin di dunia agar jangan diam saja terhadap kejahatan dan kekejaman yang telah dilakukan terangan-terangan oleh Zionis laknatullah.
Aktifis-aktivis GSP bukan hanya kaum muslim tapi sebagaian besar dari mereka adalah non muslim. Mereka terpanggil bukan karena kewajiban agama tapi karena panggilan kemanusiaan dari hati nurani yang menghargai arti kehidupan. Meski mereka tidak sampai ke destinasi tapi mereka sudah berjuang dan mengambil tindakan yang seharusnya seluruh umat melakukannya.
Sudah bisa di tebak bahwa misi mereka pasti akan digagalkan oleh Zionis tapi mereka tetap melanjutkan dengan tekat yang kuat. Saat sampai di perairan internasional mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Menurut kesaksian dari aktivis mereka diperlakukan dengan tidak baik dan tidak wajar seperti memperlakukan binatang. Yang perempuan dicopot kerudungnya, yang laki-laki di telanjangi disuruh melapaskan pakaian secara tidak beradab, tidak diberi air yang bersih bahkan ada yang tidak diberi minum sama sekali. Itu baru perlakukan yang kecil dari kekejaman dan kezaliman mereka, tak terbayang seperti apa kezaliman yang sangat keji mereka lakukan kepada tahanan-tahanan saudara kita dari Palestina.
Meski bukan menyelasaikan akar masalahnya. Namun para aktivis yang sudah ikut dalam misi tersebut sudah bisa berhujah di hadapan Allah, bagi kita yang tidak ikut dalam misi mari melakukan hal yang sesuai kemampuan dan porsi serta posisi kita masing-masing dalam menjalankan kewajiban terhadap saudara kita di Palestina dengan menyadarkan umat hingga tegaknya pemimpin Islam dan bisa melaksakan kewajiban Jihad dalam pembebasan tanah suci Palestina.
Khilafah membina umat dengan Islam Kaffah
Jika tegak khilafah yang lurus, berdasarkan tuntunan kenabian, dengan meneladani Umar Al-Faruq saat membuka Baitul Maqdis dan membebaskan Salahuddin dari tentara Salib. Pasti rakyat Palestina dan Baitul Maqdis bisa dibebaskan dari cengkraman Zionis Yahudi laknatullah.
Pemimpin Islam akan mewaspadai orang-orang munafik terutama yang berada di PBB. Mereka semua hanya berpura-pura mendukung padahal mereka bersekongkol satu sama lain untuk menghalangi kebangkitan Islam.
Seperti Firman Allah swt :
“Katakanlah, ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan kedudukanmu, sesungguhnyaaku sedang bekerja. Kelak kamu akanmengetahui siapakah yang menduduki tempat terakhir. Sesungguya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (Al An’am : 135)
Saat Islam dipimpin oleh kepemimpinan Islam (khalifah) maka yang pertama sekali dilakukan adalah memimpin tentara Muslim berjihad dan mengerahkan seluruh militer mengangkat senjata memerangi kafir-kafir musuh Islam di setiap penjuru. Bukan hanya di Gaza Palestina tapi juga menyelesaikan semua penindasan terhadap kaum Muslim di berbagai negara.
Dalam naungan Khilafah militer-militer Islam bukan hanya pandai dalam menggunakan senjata. Mereka dibina dengan aqidah yang kokoh, menjalankan setiap inci kehidupan sesuai dengan syariat Islam. Ketika melihat saudara seiman dizolimi maka darah mereka akan mendidih dengan segera akan melakukan kewajiban jihad. Tentara Muslim sejati tidak akan takut mati di jalan Allah karena hidup mereka hanya milik Allah, mati dalam jihad mati syahid. Pejuang Muslim tidaka akan tunduk kepada pemerintahan kafir, karena mengikuti peraturan pemerintahan kafir termasuk melakukan kemaksiatan.
Dalam surah Al Baqoroh ayat 166-167 Allah berfirman:
“(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa, dan ketika segala hubungan diantara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “seandainya kami dapat kembali ke dunia, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikian Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”
Di bawah naungan daulah Islam kaum muslim tidak akan mengikuti perintah dan hukum dari bangsa kafir. Kaum muslim dipahamkan Islam secara kaffah, tau akan ancaan yang pedih perhadap pengikut-pengikut kaum kafir.
Kemenangan Islam memang janji Allah. Tapi Allah tidak menurunkan malaikat dari langit untuk menegakkan khilafah, sementara kita kaum muslim hanya berdiam diri saja. Maka dari itu marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan khilafah dan Allah akan menurunkan malaikat dari langit untuk membantu kta.
Wallahu a’lam bishowab.