| 244 Views
Ketangguhan Generasi Gaza VS Fenomena Duck Syndrome Pada Mahasiswa
Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah
Di tengah kondisi perang yang tidak seimbang yang terjadi di Gaza, di tengah berbagai upaya yang dilakukan oleh zionis untuk mengosongkan Gaza dengan berbagai cara, dengan pengeboman berbagai fasilitas umum seperti pusat-pusat pendidikan dan kesehatan, dan disaat memburuknya kondisi kelaparan disana, anak-anak Gaza tetap teguh melanjutkan pendidikannya, bahkan mereka tetap belajar dibawah reruntuhan karena Israel telah merusak 97% fasilitas pendidikan di Gaza dan mereka juga berprestasi, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, terlihat diliputi emosi saat mereka dinyatakan lulus sekolah dalam sebuah upacara wisuda di desa yatim piatu Al Wafaa di Gaza. Mereka mempunyai cita-cita luhur untuk tetap berada di Gaza dan menjadi penjaga Masjidil Aqsa.
Di tengah ketidakberdayaan mereka, anak-anak Gaza tidak pernah berputus asa untuk tetap melanjutkan pendidikannya, dengan keteguhan dan kekuatannya sebagai generasi terbaik dari kaum muslimin, mereka tidak pernah gentar, meskipun dikhianati oleh penguasa negeri-negeri muslim, namun mereka tidak pernah merasa sendirian, walaupun tanpa orang tua dan orang-orang terdekat mereka, karena mereka yakin bahwa Allah ta'ala senantiasa bersama mereka untuk melindungi dan menjaga mereka, keyakinan mereka bahwa hanya Allah- lah tempat mereka berharap dan berserah diri serta menggantungkan semua harapan mereka akan masa depan mereka sebagai generasi yang akan meneruskan peradaban Islam agar kembali memimpin dunia, menghancurkan penjajah yang menguasai negeri mereka dan negeri-negeri kaum muslimin. Sungguh keteguhan yang dimiliki oleh anak-anak Gaza adalah merupakan perwujudan dari kekuatan keimanan serta keyakinan mereka kepada Allah ta'ala.
Namun sayang di sudut negeri lainnya, fenomena duck syndrome tengah menjangkiti para mahasiswa, Psikolog dari Unit Pengembangan Karier dan Kemahasiswaan (UKK) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Annisa Yuliandri menyatakan, fenomena duck syndrome ini pertama kali digunakan untuk ini menggambarkan kondisi mahasiswa Universitas Stanford, kelihatannya saja tampak tenang tetapi sebenarnya sedang berada di bawah tekanan besar, keadaan sebagaimana kondisi bebek yang sedang berenang tampak tenang di permukaan namun di dalamnya sangat sibuk mengayuh agar tetap bisa berenang, fenomena sindrom bebek ini kerap ditemui di kampus-kampus di seluruh dunia termasuk juga di Indonesia, dimana ditemui rata-rata mahasiswanya berupaya memenuhi ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Menurut Yuliandri ada beberapa penyebab yang membuat mahasiswa mengalami duck syndrome, antara lain keseimbangan psikologis seseorang dapat terganggu ketika pilihan hidup tidak lagi didorong oleh keinginan pribadi melainkan oleh tekanan eksternal, penyebab lainnya adalah ekspektasi budaya untuk selalu terlihat baik-baik saja menyebabkan mahasiswa menekan atau menyembunyikan emosi mereka yang sebenarnya. Kondisi ini berbahaya karena tidak kasat mata, karena penampilan luar mungkin tampak baik-baik saja, tetapi banyak yang gagal menyadari bahwa mereka sedang mengalami tekanan psikologis. Jika tidak segera ditangani maka kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius seperti kecemasan kronis, insomnia, kelelahan atau depresi. ( Sumber kompas.com)
Di saat anak-anak di Gaza tetap teguh memegang keimanannya, tetap belajar di tengah keterbatasan dan dalam kondisi perang yang tak kunjung padam, sayangnya anak-anak yang hidup dengan segala kenyamanan, malah hidup dengan keterpurukan dalam tekanan sistem kapitalisme, tuntutan hidup perfeksionis ala kapitalisme dan gaya kapitalisme telah menjerat generasi muda, gaya hidup hedon, yang lebih mengutamakan kemewahan dan penampilan demi memenuhi tuntutan ala sekuler kapitalisme. Ditambah lagi dengan kondisi lemahnya iman sehingga tidak memahami hakikat hidup, prioritas amal, serta rendahnya kesadaran politik bahwa sistem sekuler kapitalisme menjadikan krisis multidimensi sehingga tidak bisa lagi dihadapi secara individual.
Mahasiswa yang hidup dalam sistem kapitalis menjadi mahasiswa yang lemah, jiwanya juga rapuh, mereka hidup untuk memenuhi tuntutan sesuai standar kapitalis, menjadi mahasiswa yang sempurna, mahasiswa yang bagus nilainya mahasiswa yang bisa semuanya, kualitas terbaik tidak lagi berdasarkan ketaatannya kepada Allah melainkan berdasarkan standar materi, berapa pendapatannya, berapa nilai IPK yang dimiliki, serta berapa banyak jumlah followers di medsos,yang dijadikan standar kesempurnaan. Hidup dijalani penuh kepura-puraan, semua dilakukan demi pencitraan agar terlihat sempurna padahal sesungguhnya sangat berpengaruh kepada perkembangan psikis mahasiswa.
Demi memenuhi tuntutan hidup dalam sistem kapitalis ini juga mahasiswa banyak yang terlibat pinjol, bahkan ada yang sampai bunuh diri, padahal mereka termasuk ke dalam mahasiswa yang berprestasi, mahasiswa mengalami krisis multidimensi yang akut, ditambah minimnya pemahaman tentang agama, menjadikan generasi tidak paham solusi hakiki untuk setiap problematika yang dihadapi.
Dari anak-anak Gaza kita belajar, dibutuhkan pendidikan Qur'ani agar terbentuk generasi yang berkepribadian Islam, bagaimana anaknya Gaza tetap melakukan kewajiban walaupun dalam kondisi perang, perang bukanlah alasan untuk berhenti belajar, bahkan di tengah perang mereka berhasil menyelesaikan pendidikannya meskipun tanpa didampingi lagi oleh orang tua mereka yang telah syahid. Ketangguhan anak-anak Gaza harus menjadi inspirasi bagi mereka yang terkena fenomena duck syndrome, ketangguhan mereka adalah bukti nyata ketinggian Islam dalam membina generasi. Generasi muslim harus dipahamkan kembali tentang hakikat identitas hakiki sebagai kaum muslim.
Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh yang meneruskan peradaban Islam, umat membutuhkan kembali sang pelindung dan penjaga generasi yakni institusi Daulah Khilafah, dengan demikian kekuatan kaum muslimin akan bersatu dan mengakhiri perang di Gaza, dengan di bawah komando Khilafah Islamiyah, seluruh kaum muslimin akan berjihad untuk mengakhiri kependudukan zionis dan sekutunya Amerika Serikat.
Hanya di bawah naungan syariat Islam secara kaffah maka anak-anak akan bisa kembali merasakan kehidupan yang indah, namun saat ini,semua itu tidak bisa diraih kalau tanpa perjuangan, karena itu demi tegaknya Khilafah dibutuhkan perjuangan tidak hanya secara pemikiran tetapi juga cara militer, pertama-tama umat harus diberikan kesadaran politik tentang adanya kebutuhan kepada perubahan sistem kepada sistem yang sahih yaitu sistem Islam, perjuangan menegakkan Daulah membutuhkan dukungan dari umat termasuk para pemuda, mahasiswa muslim, dengan demikian mereka akan dapat keluar dari krisis multidimensi yang dialaminya termasuk juga dalam membebaskan Palestina dari cengkraman zionis Israel.
Wallahu a'lam bishowab.