| 279 Views

Kesejahteraan Guru Terabaikan, Nasib Pilu Guru Di Sistem Kapitalisme

Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah

Guru adalah sosok yang penting yang banyak berjuang dalam pendidikan bagi generasi bangsa, tugasnya untuk memberikan ilmu kepada anak didiknya agar mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berkualitas, namun sayangnya nasib guru saat ini  kesejahteraannya tidak diperhatikan bahkan terabaikan.

Dilansir dari BANTENRAYA.COM - Para guru yang mendapatkan tugas tambahan atau tuta sudah 6 bulan sejak Januari 2025 honor mereka tidak dibayarkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Dindikbud Provinsi Banten, Ketua Ikatan Guru Indonesia atau IGI Banten Harjono mengungkapkan, sebagian guru sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera menggelar aksi demonstrasi menuntut hak mereka yaitu honor duta yang hingga kini belum dibayarkan, bahkan ada informasi bahwa anggaran kita memang tidak dianggarkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten.

Dilansir dari SWARABANTEN - Tunjangan tambahan (tuta) yang dikeluarkan beberapa tenaga pendidik dan kependidikan di Provinsi Banten dalam perkembangannya mengalami penyesuaian dan penundaan sebagaimana Inpres nomor 1 tahun 2025, yaitu mengatur efisiensi belanja negara dalam pelaksanaan APBN dan APBD tahun anggaran 2025. Inpres ini menekankan pada efisiensi belanja, terutama di bidang non prioritas. Oleh karena itu dapat dipastikan mengalami penyesuaian dan penundaan.

Heboh soal tunjangan tambahan/ tuta guru dicoret dari APBD 2000 25 Banten, kabar ini membuat banyak guru merasa terancam hidupnya. Guru berusaha melakukan beberapa upaya untuk mengembalikan cairnya tuta guru tersebut, bahkan ada yang merencanakan turun ke jalan. Kejadian ini adalah gambaran nasib guru dalam sistem hari ini, kesejahteraan guru masih menjadi PR bagi pemerintah daerah dan pusat. Pemenuhan kesejahteraan tentu membutuhkan perhatian yang serius dari pemerintah. Seorang guru juga adalah manusia biasa yang membutuhkan apa yang harusnya dia dapatkan dalam menjalankan amanahnya.

Sayangnya sistem kapitalis saat ini tidak mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh pahlawan tanpa tanda jasa ini, bahkan cenderung semakin memberatkan nasib para pendidik generasi ini, guru yang seharusnya dimuliakan atas jasanya dalam mencerdaskan anak bangsa, ini malah dianggap sebagai beban, hingga tunjangan guru pun harus dilakukan efisiensi, jeritan guru tidak didengar, negara lupa akan perannya dalam menjalani kewajibannya sebagai pelindung umat. Hal ini adalah salah satu bukti gagalnya sistem kapitalis sekuler dalam memberikan solusi atas kesejahteraan khususnya bagi para guru.

Sudah seharusnya pemerintah menjadikan kesejahteraan guru sebagai prioritas utama. Karena guru adalah tulang punggung pendidikan yang mendidik generasi unggul berkualitas. Bagaimana mungkin guru bisa fokus mendidik anak didiknya jika pikiran mereka masih bercabang mencari pekerjaan sampingan karena tidak terpenuhinya kebutuhannya. Ditambah lagi biaya hidup yang hari ini semakin besar. profesi guru hari ini dianggap sama saja seperti profesi lain, sekedar sebagai pekerja, di sisi lain, negara tidak sepenuhnya mengurusi pendidikan namun juga menyerahkannya kepada pihak swasta. Belum lagi sistem keuangan dalam sistem kapitalisme yang banyak menggantungkan kepada utang, sehingga gaji besar dirasakan membebani negara.

Berbeda dengan sistem pendidikan dalam Islam yang mampu memberikan kesejahteraan kepada guru. Guru dalam Islam sangat dihargai dan dihormati, guru memiliki peran strategis dalam membina generasi dan memajukan peradaban bangsa. Negara Islam mengapresiasi pekerjaan guru dengan memberikan penghargaan yang tinggi yaitu dalam bentuk gaji yang melampaui kebutuhan guru.Standar gaji guru yang mengajar anak-anak pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sebesar 15 Dinar atau setara dengan 4,25 gram emas.

Negara Islam sangat mampu memberikan gaji tinggi kepada guru karena Negara Islam memiliki sumber pemasukan yang beragam dan dalam jumlah besar. Hal ini juga tidak dapat dilepaskan dengan sistem ekonomi Islam yang menentukan beragam sumber pemasukan termasuk dari pengelolaan sumber daya alam, yang dalam Islam merupakan kepemilikan umum yang dikelola oleh negara dimanfaatkan hasilnya seluas-luasnya demi kemaslahatan rakyatnya.

Negara Islam juga memiliki kewajiban untuk memenuhi sarana prasarana pendidikan, kurikulum Islam, serta guru yang digaji untuk mendidik masyarakat, dengan gaji yang cukup maka dengan ini guru akan fokus terhadap amanahnya sebagai pendidik untuk mencetak generasi yang berperadaban gemilang.

Wallahu a'lam bish showwab.


Share this article via

59 Shares

0 Comment