| 14 Views

Kepemimpinan Umat yang Satu, Solusi Perbedaan Idulfitri Sampai Tiga Hari

Oleh: Hana Sheila

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Perbedaan hari Lebaran (Idulfitri) yang bisa mencapai hingga 2–3 hari merupakan fenomena yang memang pernah terjadi, termasuk di Indonesia. Hal ini bukan karena kesalahan, tetapi karena adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah, khususnya 1 Syawal. Pada tahun 2026, terjadi perbedaan penetapan hari Lebaran di Indonesia. Otoritas pemerintah Afganistan mengumumkan hilal 1 Syawal telah terlihat di berbagai wilayah Afganistan pada Rabu (18-3-2026) sehingga negara ini yang bertumpu pada rukyat global merayakan Idulfitri pada Kamis (19-3-2026), selanjutnya organisasi Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 berdasarkan metode hisab (perhitungan astronomi). Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia setelah sidang isbat menetapkan Lebaran jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 karena hilal tidak terlihat sehingga Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.

Perbedaan hari Lebaran di Indonesia hingga terjadi pada tanggal yang berbeda merupakan gambaran bahwa umat belum berada dalam satu kepemimpinan yang menyatukan. Setiap kelompok memiliki metode dan dasar penetapan masing-masing, sehingga keputusan yang dihasilkan pun bisa berbeda. Kondisi ini menunjukkan belum ada otoritas tunggal yang menjadi rujukan bersama bagi seluruh umat dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan sistem yang berjalan saat ini, kehidupan diatur dalam kerangka yang terpisah-pisah, termasuk dalam urusan keagamaan. Dalam sistem yang cenderung berorientasi pada kepentingan masing-masing pihak, seperti dalam sistem kapitalis, kesatuan umat tidak menjadi fokus utama. Akibatnya, keputusan-keputusan penting, termasuk penetapan hari besar Islam, berjalan sendiri-sendiri sesuai otoritas dan metode yang berbeda.

Dampaknya, meskipun sama-sama berlandaskan ajaran Islam, pelaksanaan hari raya bisa tidak serentak dan menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sebagian pihak memandang persatuan kepemimpinan umat menjadi penting agar keputusan dapat diambil secara terpusat, sehingga umat Islam dapat merayakan momen penting secara bersamaan dengan lebih terarah dan seragam.

Solusi dari perbedaan penetapan hari Lebaran yang terus berulang dipandang oleh sebagian pihak terletak pada adanya kepemimpinan umat Islam yang satu. Dengan adanya satu kepemimpinan yang diakui bersama, keputusan terkait penentuan awal bulan Hijriah dapat ditetapkan secara terpusat dan menjadi rujukan bagi seluruh umat. Hal ini dinilai dapat meminimalkan perbedaan, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah secara serentak. 

Dengan demikian, tidak ada lagi kebingungan di tengah masyarakat ketika menghadapi perbedaan hari besar. Pada akhirnya, persatuan dalam kepemimpinan diyakini dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menghadirkan keseragaman dalam momen penting seperti Hari Raya Idulfitri.


Share this article via

19 Shares

0 Comment