| 94 Views

Keluarga Terjaga, Filisida Tidak Pernah Ada

Oleh: Rara Al-Haqqi

Kaulah ibuku, cinta kasihku
Pengorbananmu sungguh sangat berarti
Kaulah ibuku, cinta kasihku
Terima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari yang selalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu
(Lirik lagu "Kaulah Ibuku Cinta Kasihku" yang dinyanyikan oleh Haddad Alwi feat. Farhan)

Indah dan nyamannya ketika bersama dalam pelukan ibu. Ibu tempat yang selalu dirindukan oleh anak-anaknya. Bahkan seorang ibu pun akan selalu rindu dengan ibunya, besarnya peran dan pengaruh dari seorang ibu. Akan tetapi, sekarang ini banyak kasus yang jika seorang ibu menjadi filisida. Dengan buah hatinya sendiri mereka tega membunuhnya bahkan setelah itu mereka mengakhiri hidupnya sendiri. Hati mana yang tidak dirobek-robek mengetahui kejadian tersebut. Apa salah anak mereka?

Salah satu kasus tragis ini terjadi di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat di mana seorang ibu EN (34) ditemukan bunuh diri setelah diduga meracuni kedua anaknya berusia 9 tahun dan 11 bulan. Bahkan polisi menemukan surat wasiat berisi ungkapan penderitaan dan kekesalan terhadap suami karena tekanan ekonomi dan utang keluarga (metrotvnews.com, 9 September 2025).

Ya, kondisi ekonomi yang sulit sedangkan kebutuhan selalu meningkat sering menjadi beban hidup. Apalagi pengeluaran lebih banyak dari pemasukan akan membuat orang kebingungan untuk mencari tambahan. Maka solusi cepat mereka yaitu meminjam atau melalui pinjol bahkan ada pula yang mengadu nasib melalui perjudian atau judol, dengan harapan kehidupan mereka akan menjadi lebih baik. Akan tetapi, kenyataannya malah sebaliknya kehidupan mereka akan lebih rumit. Miris, hidup dengan layak dan sejahtera hanya diangan-angan saja. Inilah hiruk pikuk kehidupan tanpa ada dukungan khususnya dari suami maka akan menjadi beban yang berat bagi seorang ibu. Mereka merasa sendiri dan tidak mau melihat anaknya hidup sengsara.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang tidak mampu bertahan dengan sulitnya kehidupan akan memilih untuk mengakhiri hidupnya dan mengajak orang-orang yang mereka sayang. Tetapi, apakah dengan demikian hidup akan menjadi lebih baik?

Kehidupan yang serba terbalik, membuat peran yang menjadi kewajiban tidak maksimal. Dimana seorang istri yang seharusnya menjadi tulang rusuk sekarang banyak yang menjadi tulang punggung. Akibatnya, peran ibu yang di rumah dilakukan oleh suami karena mereka tidak bekerja. Selain itu, para suami tidak bekerja untuk medapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan tetapi mereka memilih untuk bermain game online dan mengadu nasib lewat judol untuk mendapatkan uang. Alhasil bukan uang yang didapat tetapi hutang yang menumpuk.

Hubungan rumah tangga yang rusak, anak-anak yang terabaikan dan masih banyak lagi. Sayangnya, kerusakan dan kesulitan yang dihadapi masyarakat saat ini belum ada tindakan dan solusi dari pemerintah. Pemerintah seakan abai, tidak tahu atau tidak mau tahu dengan rakyatnya? Mereka disibukkan dengan kepentingan-kepentingan para oligarki. Rakyat kaya semakin kaya yang miskin semakin sulit dan terhimpit ini bukti nyata dalam sistem kapitalisme liberalisme. Sistem yang mengagungkan kebebasan tanpa batas. Termasuk kebebasan dalam memiliki semua kekayaan dan melakukan sesuatu seperti filisida. Sistem yang menjadikan negara hanya wadah rakyat tanpa ada peran dan aturan yang jelas. Sistem ini juga, membuat ibu hilang hati nuraninya dan bapak lepas dari tanggungjawabnya. Dengan demikian, jika sistem ini semakin dipertahankan maka akan semakin merajalela pula kerusakan itu.

Berbeda jauh jika dibandingan dengan sistemnya Allah Swt. Sistem menjaga ketaatan rakyatnya. Ya, itulah sistem Islam. Dimana Allah memiliki aturan yang jelas untuk mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam berumah tangga. Di dalam keluarga ibu memiliki peran yang mulia, dia lah jantungnya rumah. Jika ibu bahagia maka rumah akan terasa bahagia, nyaman dan aman. Ibu juga pendidik pertama bagi anak-anaknya sehingga ibu akan sepenuh hati membimbing dan menjaga anaknya dengan sebaik-baiknya. Begitu pula, seorang ayah akan dengan mudah untuk mendapatkan pekerjaan karena negara menjamin rakyatnya untuk bekerja sehingga mereka memiliki penghasilan tetap agar bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Maka ibu lebih fokus dengan keluarganya tanpa dihantui kecemasan kekurangan uang atau tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Selain itu, negara akan menjaga rakyatnya untuk selalu dalam koridor ketaatan kepada Allah Swt. Sehingga mereka akan menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt. Dengan demikian, Negara akan menjamin kebahagian dan kesejahteraan keluarga rakyatnya sehingga naluri para ibu akan terjaga sesuai fitrahnya. Mereka tidak terbebani problematika kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lainnya sebab itu sudah menjadi tanggungjawab negara.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Majelis Ramadhan karya Muhammad Shalih Al-Utsaimin, bahwasannya terdapat suatu hadits riwayat Anas bin Malik al-Ka'bi r.a., ia berkata Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ المُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصَّومَ عَنِ المُسافِرِ وَعَنِ المُرضِعِ وَعَنِ الْحُبلى
Sesungguhnya Allah telah menggugurkan separuh sholat bagi musafir serta mencabut kewajiban puasa bagi musafir, wanita menyusui, dan wanita hamil." (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah).

Masyaa Allah dari hadist di atas jelas jika kewarasan, kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan seorang ibu dijaga betul dalam Islam. Ketika ada kewajiban berpuasa, Allah memberikan keringanan kepada mereka. Allah Swt tidak menuntut atau memberatkan mereka, jika mereka tidak mampu.

Jadi, jelas ketika sistem Islam diterapkan para ibu akan terjaga fitrahnya dan menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya. Sebab sistem dan negara menjaga dan menjamin kesejahteraan mereka. Maka otomatis keluarga akan lebih harmonis, anak-anak akan tumbuh kembang dengan baik, aman dan nyaman bersama orang tuanya.

Wallahu a'lam bissowab.


Share this article via

96 Shares

0 Comment