| 21 Views
Kampung Proklim Solusi yang Kamuflase
Oleh: Rara Al-Haqqi
Perubahan iklim yang drastis dan kondisi lingkungan sekitar menjadi pemicu masyarakat untuk menjaga dan melindungi lingkungan agar tetap lestari. Meski sudah banyak kerusakan terjadi tetapi tidak menghentikan langkah-langkah beberapa rakyat untuk terus melakukan perubahan. Bahkan hal ini, menjadi program Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Salah satunya di Kabupaten Boyolali, dimana kepala DLH, Suraji mengatakan, “Kami berusaha melembagakan beberapa tempat yang berpotensi menjadi kampung proklim atau kampung yang melaksanakan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Jadi potensinya baik kelompok tani atau lembaga terkait LH (lingkungan hidup) seperti bank sampah. Itu kami bina menjadi proklim.”
Adapun pelatihan yang dilakukan menyesuaikan kegiatan masyarakat masing-masing. Sehingga ada teknis pelatihan pembentukan kampung proklim seperti pelatihan biogas, pembuatan silase atau pakan hijau ternak awet, hingga pelatihan nilai ekonomi karbon. Kemudian anggaran pelatihan proklim dari berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan dan kalangan akademisi. Dengan tujuan mampu menjadi solusi dari hulu hingga hilir dalam mengahadapi risiko bencana iklim (espos.id, 14 Desember 2025).
Solusi yang Tidak Sebanding
Kondisi alam yang tidak menentu bahkan perubahan yang ekstrim akan berdampak pada keberlangsungan hidup manusia. Meskipun ada perubahan yang terjadi secara alami ada pula karena perbuatan manusia sendiri. Maka upaya dari pemerintah Boyolali untuk membuat kampung proklim tidak akan memberi solusi yang signifikan. Sebab program tersebut hanya dilakukan sebagian masyarakat dan di daerah tertentu saja. Padahal perubahan iklim membutuhkan skala yang besar.
Seperti yang baru saja terjadi banjir bandang di daerah Aceh dan Sumatera, dari banjir tersebut membawa banyak kayu-kayu gelondongan. Tentu hal ini, mengejutkan dan membuka takbir jika kondisi hutan tidak baik-baik saja dan sudah menjadi hutan gundul. Kemudian pengalihan fungsi hutan menjadi perkebunan sawit tentu menjadi pemicu utama. Sehingga proklim tidak akan mampu mencegah bencana banjir tersebut. Sebab upaya perbaikan dan pencehahan tidak sebanding dengan kerusakan yang dilakukan.
Kemudian lebih memprihatinkan lagi pemerintah menganggap kerusakan alam dan bencana alam yang terjadi masih dikategorikan baik-baik saja. Sehingga proklim yang digencarkan pun juga akan sia-sia. Jangan sampai masyarakat disibukkan oleh program-program yang sepele sedangkan mafia oligarki leluasa mengeruk SDA yang ada.
Begitu pula, negara juga diam ketika rakyatnya kesusahan dan terancam nyawanya. Mereka tidak berkutik ketika oligarki sudah mengomando, meski harus mengorbankan rakyatnya. Inilah dampak dari penerapan sistem yang rusak. Dimana rakyat kehilangan pelindungnya yaitu negara. Sistem ini pula mengabaikan nasib orang lain dan memprioritaskan kepentingan orang yang bermodal. Ya itulah, sistem kapitalis dimana suara dan tangisan rakyat hanyalah angin lalu. Selama rakyat tidak menguntungkan maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Berbeda jika posisi rakyat memberikan keuntungan maka mereka akan menjadi raja.
Islam Menjaga dan Melindungi
Kondisi yang terbalik dengan sistem Islam. Sistem yang menerapkan aturan dari Allah Swt, otomatis akan memberikan kesejahteraan pada rakyatnya. Kemudiam di dalam sistem Islam, negara tidak akan main-main untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyatnya seperti bencana alam, kelaparan dan lainnya. Dimana negara akan menyelesaikan dari akar permasalahannya. Jika kerusakan dan perubahan iklim karena ulah manusia maka negara akan mengusut dan menjaga alam dari tangan-tangan liar. Dengan demikian alam akan terjaga dan lestari. Sehingga bencana alam pun akan lebih mudah ditanggulangi dan diselesaikan.
Begitu pula, peras dari rakyat akan lebih produktif dalam ketaatan. Rakyat disadarkan akan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah Swt. Sehingga apapun aktifitas yang dilakukan berdasarkan hubungannya dengan Sangpencipta. Mereka akan menggunakan alam dengan sebaik-baiknya, tidak merusak. Dengan penerapan sistem Islam seluruh elemen masyarakat akan mempersiapkan kehidupan di dunia untuk bekal di akhirat. Jadi, mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada.
Wallahu a'lam bissowab.